Keluarga adalah Perahu Menuju Surga

Keluarga dalam bahasa Arab disebut dengan istilah ahlun’. Ada beberapa ayat Al-Qur’an yang mempergunakan kata ahlun ini untuk menggambarkan satu keluarga.Di antaranya adalah surat At-Tahrim ayat 6, Artinya :” Hai Orang-orang yang beriman jagalah diri dan keluargamu dari api neraka”. Di dalam aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah satu keluarga biasanya terdiri dari suami, istri, dan anak-anak, bahkan cucu. Mengeluarkan istri dari satu keluarga dan tidak menghitung sang istri sebagai ahli keluarga jelas melawan sunnatullah. Apakah ada di antara kita yang mau bila ibu kandung kita tidak dihitung sebagai ahli keluarga kita? Tentu tidak mau, bukan…?

Satu keluarga yang dapat tinggal dalam satu rumah yang sama, tidak terpisah-pisah satu dengan lainnya adalah merupakan sebuah kenikmatan tersendiri. Ada rasa tenang dan nyaman secara manusiawi bila hal ini dapat terwujud. Biasanya, muncul kegelisahan dan ketidak nyamanan bila ada beberapa anggota keluarga yang terpisah jauh dari komunitas keluarga itu. Hal ini memang sesuai dengan kodrat manusia yang telah Allah ciptakan dengan sifat mereka yang cenderung bersifat sosial, yakni suka berkumpul satu dengan lainnya.

Nabi sendiri pernah bersabda: "Baiti jannati", artinya: “Rumahku adalah surgaku”. Sebagian ulama membaca hadis ini dengan "Baiti junnati", yang artinya: “Rumahku adalah pelindungku”. Kedua-duanya sesuai dan dapat terpakai. Memang, rumah selain tempat berlindung dan berkumpul sesama anggota keluarga, dapat juga menjadi surga di dunia jika saja seluruh anggota keluarga mau mentaati aturan main sebagai anggota keluarga sesuai dengan kehendak Allah, Sang Pencipta manusia dan keluarga. Sebaliknya jika masing-masing anggota keluarga ingin bertindak seenaknya, serta memperturutkan hawa nafsu sendiri, menabrak aturan-aturan Allah, maka di sinilah awal perubahan rumah surga menjadi rumah neraka!

Untuk itu sangat diperlukan aturan main dalam rumah tangga Islam. Aturan yang sudah menjadi tuntunan dan sukses dijalankan, adalah yang telah dialami dan dilakukan oleh junjungan umat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

Dalam satu keluarga, yang memegang peranan sangat penting adalah seorang bapak. Laki-laki sudah dilantik Allah Subhanahu Wa Ta'ala sebagai pemimpin dalam rumah tangga. Sedangkan istri bertindak sebagai wazir, penata rumah tangga, sekaligus pendamping suami, sang kepala rumah tangga itu. Allah berfirman dalam Al Qur’an surat An-Nisa’ ayat 34 : “Laki-laki itu adalah pemimpin atas kaum wanita”. Mendudukkan laki-laki sebagai pemimpin, bukan berarti merendahkan posisi kaum wanita, apalagi menghinakan wanita. Tidak demikian adanya. Namun, memang postur tubuh dan kejiwaan wanita pas dan cocok untuk pendamping laki-laki, dan bukan sebagai atasan laki-laki. Bukankah keadilan itu adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya?

Menurut riwayat yang kuat dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhu, bahwa asal muasal wanita dijadikan Allah dari tulang rusuk laki-laki yang sebelah kiri, bukan dari rambut kepala dan bukan pula dari kuku kaki. Lantas apa nilai filosofi yang dapat dipetik dari asal muasal kejadian ini? Tidak lain adalah jadikan wanita itu pendamping laki-laki di sisinya. Jangan jadikan objek pemujaan siang dan malam, karena dia bukan dibuat dari rambut kepala yang mesti dijunjung setinggi-tingginya! Di lain pihak, jangan pula jadikan wanita sebagai benda rendahan, atau keset kaki, karena dia bukan dibuat dari kuku kaki lelaki. Memuja wanita terlalu tinggi, atau merendahkannya pada posisi hina, akan merusakkan dan menghancurkan wanita itu sendiri. Tegasnya, sangat diperlukan keseimbangan hak dan kedudukan untuk dapat saling mengisi dan menyempurnakan antara satu dengan lainnya.

Ada satu ayat dalam Al Qur’an yang secara sindiran dapat dijadikan pegangan dalam rumah tangga Islam, yaitu surat Al-Baqarah ayat 187: “ Istrimu adalah pakaianmu(hai kaum lelaki), dan suamimu adalah pakaianmu (hai kaum wanita).”

Apakah sesungguhnya fungsi pakaian bagi manusia? Pakaian, selain sebagai pelindung aib tubuh, juga berfungsi untuk memperindah penampilan seseorang. Nah, jika pakaian kita kotor, atau robek-robek, tentu yang menanggung malu adalah kita sendiri. Tegasnya, memakai pakaian hina, sama dengan menghinakan diri sendiri!

Untuk itu sangatlah diperlukan menjaga pakaian kita agar senantiasa bersih dan terhindar dari aib dan cela. Adalah sebuah tindakan yang sangat tidak beradab, jika kita dengan sengaja mengotori pakaian kita sendiri, atau merobek-robek pakaian kita sendiri. Sebagian orang mungkin malah menganggapnya gila. Begitulah gambaran jika seseorang sampai hati membuka aib pasangannya sendiri kepada orang lain, atau merendahkan dan menghinakan pasangannya sendiri di hadapan orang lain. Selain harga dirinya sendiri akan jatuh di hadapan manusia, posisi orang ini pun akan hina di hadapan Allah dan Rasulnya. Bayangkan, jika membuka aib orang lain yang tidak dikenal saja sudah merupakan sebuah kesalahan besar, bagaimana kalau yang dibuka justru aib dari pasangan sendiri, yang merupakan bapak atau ibu dari anak-anak kita?

Dengan demikian, kebiasaan curhat (mencurahkan isi hati) kepada orang lain yang dengan terang-terangan alias blak-blakan menyebutkan nama identitas diri serta identitas suami, dengan ditonton jutaan pemirsa yang sedang trend akhir-akhir ini, sungguh suatu perbuatan yang sangat menyedihkan, dan sangat memilukan nurani orang-orang beriman. Padahal ada banyak cara yang lebih bermartabat, yang masih dapat dilakukan, yakni dengan menyembunyikan identitas diri dan pasangannya, atau menyamarkannya dalam sebuah permisalan, andaipun curhat itu benar-benar mendesak untuk dilakukan.

Rumah tangga adalah sarana menuju keridhoan Allah, perahu yang dapat menyampaikan kita ke surga Allah kelak. Tidak tanggung-tanggung, perahu rumah tangga akan membawa tidak hanya diri sang kepala rumah tangga saja, namun seluruh anggota rumah tangga, termasuk bapak-bapak, ibu-ibu, istri-istri, anak-anak, dan cucu-cicit insan yang shalih seluruhnya masuk istana megah di surga. Kelak seluruh malaikat akan menyampaikan salam ta’zhim penuh kekaguman kepada keluarga shalih yang mampu mengharungi samudera kehidupan dalam perahu rumah tangga sejahtera sesuai dengan tuntunan Allah Sang Maha Pencipta.

Firman Allah: “(yaitu) syurga 'Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): "Keselamatan atasmu berkat kesabaranmu” (saat di dunia dahulu) Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. (Surat Ar-Ra’du: 23-24).

Wallahu A’lam Bishshowab

Share this post