Istighfar, Perintah Memohon Ampunan dan Perlindungan

Kata istighfar dalam bahasa Arab berasal dari akar kata “ghafara”. Paling tidak ada 2 arti yang terkenal dari kata ghafara itu. Pertama, bagi sesuatu yang kotor, ghafara berarti mencuci, membersihkan kotorannya. Kedua, bagi benda yang bersih ghafara berarti melindungi atau menutupi agar tidak terkena kotoran. Misalnya, makanan yang terhidang di atas meja, perlu dijaga dan dilindungi dari bahaya lalat dan serangga lainnya termasuk kucing yang dapat mencuri makanan itu. Maka, diperlukan ‘tudung saji’ untuk menutup makanan yang terhidang di atas meja itu. Usaha menutup makanan itu agar selamat dari gangguan serangga dan lain-lain disebut ghafara.

Demikian juga tentang perintah istighfar dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Untuk orang yang berdosa, istighfar yang dilakukannya dimaksudkan untuk memohon ampunan atas segala dosa-dosanya. Biasanya istighfar jenis ini adalah untuk orang-orang awam.

Sedangkan untuk orang-orang yang bersih dari dosa seumpama para Nabi, para Rasul, orang-orang Shiddiq, dan para Wali, istighfar yang dilakukan lebih dimaksudkan untuk memohon perlindungan agar terhindar dari dosa dan tetap berada dalam keadaan suci. Itulah sebabnya kenapa didapati di dalam Al Qur’an dan Hadis tentang kisah para Nabi dan Rasul yang masih melakukan istighfar sampai beratus-ratus kali dalam sehari, termasuk istighfar yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam; apakah istighfar Nabi seratus kali sehari yang beliau lakukan dimaksudkan untuk memohon ampunan atas dosa beliau? Tentu tidak….! Nabi kita bersifat ma’shum, artinya bersih dari segala dosa, apalagi setiap Nabi wajib memiliki sifat Shiddiq, Tabligh, Amanah, dan Fathonah, bagaimana mungkin Nabi yang bersifat Shiddiq itu melakukan dosa, tentu tidak masuk akal!

Begitu juga dengan para ahli surga. Apabila mereka beristighfar di dalam surga lebih dimaksudkan untuk memohon perlindungan daripada memohon ampunan. Sebab bagaimana mungkin seseorang dapat masuk surga apabila belum mendapatkan ampunan dari Allah……? Dengan demikian jika bertemu kata istighfar/ghafara atas ahli surga, maka para ulama mengartikannya dengan memohon perlindungan agar tetap dalam posisi mulia dan terhormat seperti yang telah mereka dapatkan itu.

Dalil-dalil Istighfar dalam Al Qur’an

1.      Firman Allah dalam Surat Ghafir/Al Mu’min ayat: 55,

فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالإبْكَارِ

 “Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi.”

2.      Surat Muhammad ayat: 15,

مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ فِيهَا أَنْهَارٌ مِنْ مَاءٍ غَيْرِ آسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِنْ لَبَنٍ لَمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَأَنْهَارٌ مِنْ خَمْرٍ لَذَّةٍ لِلشَّارِبِينَ وَأَنْهَارٌ مِنْ عَسَلٍ مُصَفًّى وَلَهُمْ فِيهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَمَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ كَمَنْ هُوَ خَالِدٌ فِي النَّارِ وَسُقُوا مَاءً حَمِيمًا فَقَطَّعَ أَمْعَاءَهُمْ

(Apakah) perumpamaan (penghuni) jannah yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka, sama dengan orang yang kekal dalam Jahannam dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong ususnya?”

3.      Surat An Nisa’ ayat: 106,

وَاسْتَغْفِرِ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا .

Dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

4.      Surat Ali Imran Ayat: 15 – 17,

قُلْ أَؤُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرٍ مِنْ ذَلِكُمْ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَأَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ.الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ .الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالأسْحَارِ .

Katakanlah: "Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?". untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. dan Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya. (Yaitu) orang-orang yang berdoa: Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya Kami telah beriman, Maka ampunilah segala dosa Kami dan peliharalah Kami dari siksa neraka.” (Yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.”

5.      Surat Al Anfal ayat: 33,

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ .

“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.”

6.      Surat Ali Imran ayat: 135,

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ .

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.”

7.      Surat An Nisa’ ayat: 110,

وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا .

Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

8.      Surat Hud ayat: 3,

وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ.

Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat.”

9.      Surat Hud ayat: 52,

وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ

Dan (dia berkata): "Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa."

Dalil-dalil Istighfar Dalam Hadis Nabi

  1. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu aku mendengar Rasulullah bersabda: “Demi Allah sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah dan mohon ampunan dari Allah setiap harinya lebih banyak dari 70 kali” (HR. Bukhari). Dalam riwayat Muslim: “Sesungguhnya aku minta ampun kepada Allah dalam sehari 100 kali.” (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)
  2. Ibnu Umar menceritakan, kami pernah bersama-sama dengan Rasulullah dan kami mendengar Rasulullah mengulang-ulang membaca sebanyak 100 kali doa yang berbunyi: “Ya Allah ampunilah aku dan terimalah taubat ku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Pengasih.” (Hadis Riwayat Abu Dawud, Turmidzi dan Ibnu Majah, dishohehkan oleh Imam Turmidzi)
  3. Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah telah bersabda: “Barangsiapa melazimkan istighfar, maka Allah akan jadikan jalan keluar dalam setiap kesulitan hidup, dan jadikan setiap kegundah-gulanaannya menjadi kebahagiaan dan Allah akan memberinya rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)
  4. Abdullah bin Bisry radhiyallahu ‘anhu berkata dia: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Berbahagialah orang yang mendapati dalam lembaran-lembaran amalnya istighfar yang banyak.” (Hadis Riwayat Ibnu Majah)

Wallahu a’lam bishshowab

(Sumber bacaan, Kitab Al Adzkar dan Kitab Riyadus Shalihin, Imam Nawawi halaman 398 – 401)

Share this post