BERIMAN DAN BERTAKWA

BERIMAN DAN BERTAKWA

 

            Bulan Ramadhan sudah berlalu. Kesempatan seorang mukmin untuk mendapatkan ganjaran pahala yang sangat besar dan berlipat ganda atas amal-amal ibadahnya lebih dari bulan yang lain telah pun ditutup. Selama sebulan penuh Allah Swt telah memberikan banyak keberkatan dan kemuliaan bagi setiap hambaNya yang bersungguh-sungguh dalam ketaatan kepadaNya. Allah Swt Yang Maha Rahim itu pun telah menyaksikan hamba-hambaNya berlomba-lomba dalam bertaubat dan beramal shalih. Bulan ramadhan juga disebut sebagai bulan pelatihan iman dan amal. Di bulan itu juga kita dituntun untuk menjalankan segala bentuk amal-amal ibadah baik yang wajib maupun yang berbentuk sunnat. Jika kita bersungguh-sungguh mengamalkannya maka kita akan naik pangkat disisi Allah Swt dari kedudukan seorang yang beriman menjadi orang yang bertakwa.

Dalam surat Al Baqarah ayat 183, Allah Swt mewajibkan ibadah puasa hanya kepada orang yang beriman. Orang beriman tidak semuanya bersih dari segala dosa. Ada orang beriman yang shalih dan ada orang beriman yang fasiq (durhaka). Tingkat keimanan seseorang itu membentuk amal ibadahnya. Artinya, semakin tinggi iman seseorang maka akan semakin banyak amal-amal ibadah yang dapat dia kerjakan. Sebaliknya, apabila iman kita lemah maka tidak akan banyak amal-amal ibadah yang dapat kita kerjakan bahkan banyak dosa yang akan terkerjakan.

Lalu bagaimana caranya meningkatkan kadar iman? Cara meningkatkan kadar iman yaitu dengan cara bersungguh-sungguh (mujahadah) atau bersusah payah dalam melaksanakan perintah-perintah agama. Firman Allah Swt. dalam surat Al Ankabut ayat 69: “Dan orang-orang yang berjuang di jalan Kami dengan sungguh-sungguh, pasti Kami akan tunjuki kepada mereka itu banyak jalan Kami.” Orang yang mendapat petunjuk dari Allah adalah orang yang mendapat hidayah, dan orang yang mendapat hidayah dari Allah pasti tidak akan sesat selama-lamanya. Inilah kekuatan iman.

Iman tidak kelihatan. Ianya ada didalam dada setiap orang mukmin. Namun, Nabi Saw pernah bersabda, ”iman itu bertelanjang, pakaiannya adalah takwa, perhiasannya adalah malu dan buah iman itu adalah ilmu.”

            Apakah itu takwa ? Takwa adalah gerakan iman itu sendiri. Para ulama mendefinisikan takwa dengan tiga kriteria: 1. Menyempurnakan yang fardhu.  Artinya orang bertakwa tidak mungkin meninggalkan semua yang telah difardhukan oleh Allah Swt kepada mereka. 2. Meninggalkan maksiat. Jelasnya, orang yang bertakwa tidak mungkin mau melakukan maksiat kepada Allah Swt, karena takutnya kepada Allah. 3. Menjadikan Nabi Muhammad Saw sebagai idola dalam kehidupannya. Inilah nilai takwa yang paling tinggi. Kita tidak usah heran jika melihat orang-orang yang bertakwa lantas berperilaku mencontoh Nabi dalam setiap perikehidupannya. Bukan hanya dalam tata cara beribadah ritual saja, bahkan sampai cara kehidupan sehari-hari pun mereka mengikuti Nabi Muhammad saw. Cara makannya mirip Nabi, cara tidurnya mencontoh Nabi, cara berpakaiannya juga mencontoh Nabi. Sampai cara berfikirnya pun juga mencontoh cara berfikirnya Nabi. Bahkan dalam segala hal dia lakukan semata-mata karena mencontoh Nabi Saw.

Dan, tindakan ini bukanlah sebuah perbuatan yang mengada-ada saja. Tetapi justru melaksanakan perintah Allah dalam surat Ali Imran, ayat 31, ” Katakanlah (ya Muhammad) jika benar kalian (umat Nabi) mencintai Allah maka ikutilah aku (Nabi), niscaya Allah akan mencintai kalian (umat Nabi) dan mengampunkan dosa-dosa kalian”.

            Ibadah puasa yang telah kita selesaikan selama sebulan penuh itu pasti akan mengangkat derajat kita disisi Allah jika kita benar-benar menyempurnakan seluruh adab, sunnat, rukun dan segenap tata cara yang diperintahkan Allah sesuai dengan petunjuk Nabi. Dengan demikian kita tidak lagi berada dalam posisi sekedar beriman, akan tetapi telah berada pada posisi orang yang bertakwa.

            Orang beriman tidak ada jaminan masuk surga secara langsung, mereka harus melalui timbangan amal terlebih dahulu. Jika timbangan amal baiknya lebih banyak dari amal buruknya maka dia akan lolos dari pemeriksaan dan masuk surga. Sebaliknya, jika amal jahatnya lebih banyak dari amal baiknya, meskipun dia orang beriman, pasti akan gagal memasuki surga dan mesti diam dalam neraka terlebih dahulu. Firman Allah dalam Qur’an surat Al Qari’ah ayat 6-11: “Barangsiapa yang lebih berat timbangan amal baiknya maka dia dalam kehidupan yang menyenangkan (surga). Adapun orang yang ringan timbangan amal baiknya maka tempat kembalinya adalah hawiyah. Dan tahukah kamu apakah itu hawiyah. Hawiyah adalah api neraka yang bernyala-nyala lagi amat panas”.

Sedangkan orang yang bertakwa tidak lagi mengalami timbangan dan pemeriksaan amal di hari kiamat. Mereka akan langsung memasuki surga tanpa hisab. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Az Zumar ayat 72: “Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan mereka akan digiring masuk surga secara berombongan (tanpa hisab) oleh Allah Swt.”

            Semoga kita termasuk dalam golongan orang yang bertakwa mulai hari ini dan seterusnya sampai akhir hayat nanti…Amin

Share this post