Dalil Dzikir Naqsyabandi

Dalil Dzikir Naqsyabandi

 

Dalam ajaran Naqsyabandi ada diajarkan paling tidak tiga macam dzikir untuk amalan rutin murid-murid mereka di samping juga asma’ul husna yang dapat mereka pilih sendiri sebagai amalan rutin harian. Ketiga macam dzikir itu untuk melatih rohani anak didik mereka agar menjadi lembut penuh nur ma’rifat, disiram oleh nur dzikir tersebut.

 

Allah Subhanallahu Wa Ta’ala berfirman:

Katakanlah (ya Muhammad) serulah Allah atau serulah Ar-rahman, yang manapun yang kau seru dari nama-nama Allah kesemuanya adalahlah bagus belaka” (Bani Israil: 110).

 

Seluruh Syaikh Naqsyabandi faham betul bahwa dalam berdzikir, syariat Islam membebaskan tiap pribadi umat untuk memilih lafazh manapun dari Asma Allah yang ada yang hendak  diamalkan oleh setiap pribadi muslim itu. Faham ini juga merupakan faham yang dianut oleh seluruh ulama ahlussunnah wal jamaah sedunia, dari empat madzhab fiqih yang masyhur, Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali dimanapun dan kapanpun juga mereka berada. Sejak dari zaman generasi Salafushshalih, sampai pada zaman sekarang ini.

 

Sayangnya, ada saudara kita yang  justru menyempal dari faham ahlussunnah wal jama’ah ini. Mereka mennganut paham  bahwa menetapkan dzikir tertentu dari Asmaul Husna yang ada untuk dijadikan amalan harian (wirid/hizib) bagi pribadi muslim bukan merupakan amalan sunnah. Bagi mereka telah dipaku mati, bahwa  menetapkan amalan dzikir tertentu adalah sebuah amalan bid’ah dhalalah yang membawa pelakunya masuk neraka. Dan, oleh sebab itu mereka mati-matian hendak memberangus amalan ini melalui ucapan, tulisan, siaran televisi, rekaman video, cd, vcd, dvd, atau apa saja yang dapat mereka gunakan untuk memberangusnya. Bagi mereka, memberangus amalan dzikir pilihan dari asma’ul husna yang diamalkan oleh kelompok ahlussunnah yang manapun, termasuk kelompok jama’ah Naqsyabandi,  adalah sebuah jihad yang besar!

 

Padahal Rasullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ada bersabda: “Barangsiapa yang tertidur di malam hari dan dia belum menyelesaikan hizib-hizibnya di malam itu, maka hendaklah dia mengganti hizib-hizibnya itu di siang hari.” (Riyadhush Shalihin)

Tiga Tahapan Dzikir Naqsyabandi

  1. Bagi murid pemula yang masih sangat menggandrungi dunia dan belum dapat menafikan pengaruh kebesaran makhluk dari hati mereka, maka mereka akan dilatih untuk senantiasa mengamalkan dzikir La Ilaha Illallah sebanyak-banyaknya. Disamping diamalkan, juga diajarkan kepahaman kapada mereka bahwa pada kalimat thayyibah ini ada yang sesuatu yang  dinafikan dan ada pula yang diisbatkan. Yang dinafikan adalah semua yang ada di alam ini, untuk kemudian diisbatkan hanya kepada Allah Tuhan semesta alam saja.

Demikianlah, ketika sang murid melafadzkan kalimat La Ilaha maka hati sang murid mesti mema’rifatkan bahwa tiada sesuatupun di alam ini, baik pangkat, jabatan, harta, kedudukan, ilmu, keluarga, dan seluruh makhluk, yang mampu membawa dan member manfaat secuilpun bagi kita manusia. Juga tidak ada yang besar dan yang hebat pada diri makhluk di alam ini, semuanya kecil, lemah, tiada berdaya upaya,  kecuali .............

Pada kalimat kedua yakni Illallah, maka seluruh ke-Agungan, ke-Hebatan, dan ke-Besaran hanya di-isbatkan kepada Allah saja. Dengan demikian para murid yang mendzikirkan kalimat thayyibah ini dilatih terus menerus untuk menghilangkan segala kebesaran makhluk dan pengaruhnya dari hati sang murid untuk menggantinya dengan kebesaran Allah saja.

Ini adalah latihan pada murid tingkat pertama selama bertahun-tahun sampai pengaruhnya wujud dalam perilaku sehari-hari, yakni mereka menjadi terbiasa mendahulukan kepentingan agama yang merupakan perintah Allah daripada kepentingan dunia yang fana ini. Sikap mereka pun dipantau secara terus menerus oleh sang guru mursyid mereka, sehingga setiap perubahan sekecil apapun akan terlihat. Biasanya akibat pengaruh itu, hati sang murid menjadi lembut dan sangat mudah menangis. Amal sholeh mereka pun meningkat menjadi lebih banyak dan lebih baik pula. Namun  yang paling penting adalah perubahan sikap dimana mereka tidak akan berani lagi membantah sedikitpun juga, jika didatang kepada mereka itu perintah Allah atau perintah Rasul-Nya. Ini berarti telah wujud sikap tunduk dan patuh terhadap syariat pada diri mereka.

Jika demikian adanya, maka latihan sang murid selama ini dinilai telah berhasil. Dan, selanjutnya sang guru akan meningkatkan latihan rohani sang murid tersebut kepada latihan dzikir tahap kedua.

 

  1. Dalam tahap kedua ini sang murid dilatih untuk mendzikirkan kalimat Allahu-Allahu sebanyak-banyaknya. Hati mereka dilatih untuk menyerahkan diri jiwa dan raga ikhlas sepenuhnya hanya kepada ALLAH. Kepada mereka ditanamkan bahwa kita ini semuanya milik ALLAH dan tiada daya upaya sedikitpun melainkan izin dan kuasa Allah belaka. Sang murid dilatih juga untuk menyerah total bagaikan seonggok mayat yang tidak berdaya apapun di hadapan Allah Subhanallahu Wa Ta’ala.

Dzikir Allahu-Allahu ini diulang-ulang berpuluh-puluh ribu kali. Di mulut pada dzahirnya mulut mengucapkan ungkapan Allahu-Allahu sementara hati menyerah total tidak ada sedikitpun goresan dunia melainkan hanya penyerahan secara totalitas kepada ALLAH sang Khaliq Yang Maha Kuasa itu! Semua yang ada fana belaka, Yang Kekal hanya ALLAH.

Dzikir Allahu-Allahu ini bukanlah amalan bid’ah sebagaimana yang sering dituduhkan oleh kelompok anti dzikir. Ada banyak sekali dalil dalam Al Quran dan Hadits mengenai dzikir Allah ini antara lain:

  1. Surat Bani Israil ayat 110:
  2. Wala dzikrullahi Akbar (dan dzikir Allah itu adalah dzikir yang paling besar)
  3. Hadits shahih Muslim berbunyi: “Tidak akan datang hari kiamat sampai tidak ada lagi manusia di dunia yang mengucapkan dengan lidahnya Allahu-Allahu.

Tiga dalil ini saja rasanya sudah cukup jelas bagi orang yang berhati lembut penuh dengan hidayah Allah. Namun sebaliknya, seribu dalil sekalipun tidak akan pernah dapat diterima oleh manusia yang berhati kaku dan keras melebihi batu karang!

 

  1. Tahap ketiga adalah dzikir Huwa. Pada tahap ini murid-murid yang telah berhasil menjadi insan-insan yang menyerahkan diri secara total kepada Allah setiap detik dan masa melalui latihan dzikir Alluhu-Allahu tadi, maka mereka diberi amalan baru lagi yakni dzikir Huwa-Huwa.

Kata “Huwa” dalam tulisan Arab akan dibaca atau dilafazkan menjadi “Hu”. Orang-orang anti dzikir menghina dzikir ini dengan memperagakan amalan dzikir ini persis seperti anjing melolong di tengah malam buta; hu hu hu hu hu…….!

Padahal mereka yang sama sekali tidak paham akan hakekat amalan ini, dan sekaligus secara terang-terangan menunjukkan kebodohannya.

Kenapa demikian………..??

Ungkapan ucapan “Hu” secara Phonetik akan dipahamkan secara berbeda-beda oleh setiap bangsa dan kelompok menurut gambaran penalaran masing-masing bangsa maupun kelompok tersebut. Jika orang Amerika, misalnya, mengucapkan ujaran “hu”atau mendengar orang mengucapkan ujaran “hu”, maka yang terlintas dalam pikiran  mereka adalah kata “WHO” yang dalam bahasa Indonesia berarti “SIAPA”.  Sebab memang bahasa mereka memberi pemahaman seperti ini adanya. Sehingga wajarlah jika kemudian mereka mengartikan ungkapan “hu” itu dengan “WHO”.

Lain halnya dengan orang Indonesia. Ungkapan kata “Hu…..!”jika dilafazkan panjang, dapat dipahamkan sebagai sebuah ungkapan kekecewaan terhadap penampilan atau ucapan seseorang yang mereka lihat atau mereka dengar. Terkadang ungkapan hu hu hu dapat pula dipahamkan seperti bentuk meniru lolongan anjing yang panjang; hu  hu….. hu….………!!!

Dalam bahasa Indonesia ungkapan hu secara Phonetik diucapkan “Hu” dan secara Phonemik kebetulan juga dituliskan dalam bentuk “hu” pula.  

Bicara tentang dzikir “hu” dalam amalan Naqsyabandi, tentu saja diambil dari bahasa Arab. Ungkapan dzikir “hu” dalam bahasa Arab adalah “HUWA” yang berarti “DIA ALLAH”. Ungkapan ini diambil dari ayat Al Quran: “Allah, tiada Tuhan melainkan Dia”. Jadi jika seorang murid Naqsyabandi mendzikirkan kalimat “hu” maka yang dimaksudkan dalam lubuk hati mereka adalah kalimat “Huwa”,yakni  “Dia Allah”. Bukan “hu” yang berarti lolongan anjing atau “hu” – WHO, seperti yang seperti yang dipahamkan orang-orang Amerika.

 

Yang menjadi masalah krusial, dikalangan saudara kita yang berbeda cara memahamkan Islam telah ditebarkan selama beratus tahun bahwa kaum muslimin tidak boleh berdzikir kecuali yang diajarkan nabi saja. Mereka mengatakan dalam setiap kesempatan bahwa nabi tidak pernah berdzikir kalimat “hu  hu”. Dan, shahabat serta kaum salafushshalih kata mereka juga tidak pernah mengamalkan hal yang sedemikian!

Demikian kata mereka.

 

Jawab kita.

Di kalangan Naqsyabandi dipahamkan bahwa menyebut kata Huwa sebagai hu di mulut sebagai amalan dzikir, sedangkan di hati terukir goresan yang bermaksud Dia Allah jelas dihalalkan dalam syari’at dan akan memberi pengaruh positif pada sang pelakunya. Kelompok Naqsyabandi juga meyakini bahwa goresan hati mereka yang menyebut Dia Allah ketika mulut mengatakan Huwa (hu) pasti akan diganjari sebagai sebuah ibadah di sisi Allah Subhanallahu Wa Ta’ala.

Ilustrasi ini jelas tergambar pada peristiwa Bilal bin Rabah, Muadzin Nabi yang mulia pada saat menerima siksaan dari Umayyah bin Khalaf dan antek-anteknya. Beliau dijemur di padang pasir yang terik seraya dicambuk terus menerus. Namun saat itu hati beliau tetap teguh mengingat hanya Dia Allah tidak ada yang selain itu. Sementara mulut beliau tiada hentinya mengucapkan AHAD AHAD. Dalam pandangan kelompok wahabi/salafy, secara hukum syariat sebenarnya hal ini salah, jika saja kelompok wahabi/salafy berani menyalahkan beliau. Sebab menyebut nama Allah semestinya dengan memakai harfun nida’ (kata seru) “ي (YA)”. Jadi semestinya Sayyidina Bilal harus menyebutkan “Ya Ahad Ya Ahad” atau “Allahu Ahad, Allahu Ahad” bukan “Ahad Ahad” saja. Tetapi kenyataannya, Sayyidina Bilal tetap hanya menyebutkan Ahad Ahad saja, bukan?

 

Perbuatan Sayyidina Bilal ini sesuai dengan hadits nabi: “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa kamu dan harta kamu, tetapi Allah melihat HATI-MU dan AMALMU” . Artinya meskipun di mulut secara dzahir beliau hanya mengucapkan Ahad Ahad, namun hati beliau, sekali lagi hati beliau dengan tegas dan nyata menggambarkan bahwa yang dimaksud adalah Allahu Ahad- Allahu Ahad! 

 

Itulah sebabnya mengapa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam justru memuji dzikir yang dilakukan Bilal saat itu, bahkan menjamin beliau dengan imbalan surga kelak di Akhirat. Tidak sedikit pun nabi mengkoreksi ucapan Bilal tersebut, apalagi menuduh Sayyidina Bilal melakukan amalan bid’ah. Padahal nabi sendiri tidak pernah mengajarkan sayyidina Bilal untuk berdzikir Ahad Ahad (baca: __seharusnya, amalan Sayyidina Bilal ini bid’ah menurut paham mereka. Pasalnya Sayyidina Bilal ini telah lancang dan terlalu berani membuat sebuah amalan yang tidak dibuat atau diajarkan oleh nabi. Jelasnya amalan itu adalah amalan BID’AH).

 

Di sisi lain Umayyah dan Abu Lahab berserta antek-anteknya pun memahami ucapan Bilal Ahad Ahad (yang berarti satu satu atau Esa Esa) itu bermaksud Allahu Ahad- Allahu Ahad. Sehingga kemarahan mereka semakin memuncak dan berujung kepada siksaan yang lebih dahsyat mereka jatuhkan kepada Sayyidina Bilal.

Dahsyatnya, kelompok mereka yang sejak dulu sampai sekarang tidak dapat memahami jenis-jenis dzikir seperti ini. Bukankah ini berarti mereka lebih jahil dari Abu Jahal CS……? Sekaligus berarti mereka lebih pandai mengkoreksi amal umat Islam serta menuduh sesat alias bid’ah amalan kaum muslimin di luar kelompok mereka, dibandingkan diri Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri.

 

Padahal Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ada bersabda : 

Aku diutus membawa agama yang cenderung kepada perkara yang hak dan penuh toleransi!”

 

Share this post