Demam Capres 2009

Demam Capres

Minggu-minggu pertengahan bulan Juni sampai dengan minggu pertama bulan Juli bangsa Indonesia sedang diserang penyakit demam. Penyakit demam ini bukanlah demam biasa, tapi demam berjangka rutin. Datangnya hanya setiap lima tahun sekali saja. Dahulu demam ini datang pada tahun 2004, kini tahun 2009 dia datang lagi. Tidak tanggung-tanggung, demam ini menyerang segenap lapisan masyarakat tanpa pandang bulu. Tidak peduli apakah dia seorang pejabat negara dari yang paling tinggi, seorang menteri atau yang rendah seorang Lurah, Pengurus teras Partai Politik atau Ormas, pedagang, pengusaha, pegawai, buruh, pelajar, mahasiswa, sampai rakyat jelata, semuanya terserang demam ini. Acara-acara TV, radio, dan seluruh media cetakpun juga  terjangkiti wabah demam ini. Penyakit demam apakah yang dampaknya sebegitu luas memakan korban?  Penyakit itu tidak lain adalah demam Capres/Cawapres!

Tahun ini KPU setidaknya telah menetapkan tiga pasangan Capres/Cawapres. Pasangan Nomor 1 adalah Megawati Soekarno Puteri/Prabowo Subianto. Pasangan nomor 2 adalah Susilo Bambang Yudhoyono/Budiono, dan pasangan nomor 3 adalah Muhammad Jusuf Kalla/Wiranto. Ketiga pasangan ini sudah mulai menggelar kampanye secara terbuka. Serang menyerang pun sudah dimulai. Ibarat pertandingan catur, formasi sudah terbuka, segenap pasukan sudah digunakan untuk menyerang dan menekan pasangan lain. Pernyataan saling sindir pun sudah gencar dilontarkan. Ada pasangan yang kurang peduli dengan sindiran lawan terus fokus menebarkan visi dan misi seraya sesekali tetap melontarkan sindiran terhadap kelemahan lawan-lawannya. Tapi ada pula Capres yang “terlalu nyinyir” berkuping tipis. Setiap hari selalu menanggapi sindiran lawannya dengan wajah tidak senang. Sebuah upaya membela diri, tapi terlalu menghabiskan energi, dan membuang kesempatan untuk lebih mensosialisasikan visi dan misi sendiri. Pada gilirannya menimbulkan dampak kurang simpati di mata pendukungnya.

Ada pasangan lain yang gencar menyerang lawannya dengan memaparkan kelemahan sang lawan, padahal kelemahan yang dipaparkannya itu justru pernah dilakukannya sendiri saat masih duduk sebagai pimpinan Negara pada era sebelumnya. Semua ini membuat rakyat yang menjadi pengamat terkadang tertawa lucu namun juga terkadang tersenyum kecut dan sinis.

Gerakan Tim Sukses

Lain pula dengan tingkah polah tim sukses masing-masing kandidat. Ada yang terlalu bernafsu sampai-sampai memasukkan serangan terhadap agama dan ras tertentu. Ada bahkan yang sampai melecehkan Tuhan. Untunglah sang kandidat akhirnya mengeluarkan dua orang tersebut dari kedudukannya dalam tim sukses.

Adalagi seorang pimpinan Partai Politik yang kemana-mana gencar menjual label agama demi menangguk suara bagi partainya, namun akhirnya terpaksa tunduk menyerah dan menyokong salah satu kandidat , padahal sebelumnya pendamping kandidat tersebut dinilai oleh partainya sebagai sosok yang kurang agamis. Entah karena dijanjikan jabatan menteri yang empuk atau karena takut tidak punya teman, pimpinan partai penjual label agama ini malah sempat mengeluarkan pernyataan blunder yang bernada meremehkan jilbab. Apalah jilbab, hanya selembar kain saja kok diributkan! Apakah jika istri presidennya berjilbab ekonomi Negara akan menjadi baik? Pendidikan akan menjadi baik?

Waduh, gara-gara terlalu bernafsu membela kandidat dukungannya kok jadi bicara ngawur begitu? Apa sedang demam panas alias step sampai-sampai tidak mampu lagi mengontrol ucapan dari mulut sendiri?

Jilbab bukanlah sekedar selembar kain tok! Bagi penganut agama Islam dan Yahudi jilbab lebih dari sekedar selembar kain. Jilbab itu mengandung nilai religious yang kental, dan merupakan perintah Allah yang termaktub dalam dua kitab suci agama samawi al quran dan bible. Al quran mencantumkannya dalam surat Al Ahzab ayat 59 dan Bible meletakkannya pada Corintus II. Kalau ucapan itu muncul dari orang yang tidak mengerti agama atau penganut atheis tentu saja dapat dimaklumi. Maklum dia atheis. Tapi ucapan tersebut diucapkan oleh pimpinan partai yang secara terang-terangan berani menyebut kantor partainya dengan gelar Markaz Da’wah, adalah satu hal yang luar biasa mengagetkan kita.

Kita khawatir besok lusa muncul ucapan yang lebih ekstrim lagi. Mungkin tentang celana. Apalah celana hanya sekedar selembar kain, tak perlu diributkan. Dan, alangkah ajaibnya jika kemudian capres dan cawapres dukunganya mengikuti ucapan orang ini dengan menanggalkan celananya saat kampanye di depan umum!

Nampaknya demam capres dan cawapres masih terus berlanjut. Beberapa lembaga survey pun ikut terlibat. Ada yang disebut-sebut dibayar dengan jumlah tertentu untuk menghasilkan persentase tertentu bagi kandidat yang personalnya menggelontorkan dana. Ada pula lembaga survey yang mengatakan popularitas kandidat tertentu merosot, padahal lembaganya saja baru sekali melakukan survey.

Beberapa partai dengan lantang berseru bahwa partai dan segenap pendukungnya telah bulat suara mendukung kandidat tertentu. Namun kenyataannya beberapa orang pentolan partai itu dan beberapa pimpinan sayap-sayap partainya terpecah-pecah mendukung kandidat lain. Ada yang sampai mempergunakan hukum adat sebagai hujjah untuk memakzulkan jabatan oknum yang dinilai serong itu.

Lucunya salah seorang capres sambil bergurau, gembira dan santai menanggapi orang-orang yang membelot dan mendukung dirinya dengan ucapan: “bus boleh parkir dimana saja, tapi penumpangnya semuanya ikut kita….

Beberapa orang pejabat terserang demam juga dan menjadi sulit tidur karena memikirkan dirinya yang terjepit antara dua kandidat capres. Yang satu bos langsungnya, dan mesti disokong sekuat tenaga, karena dia adalah bawahan langsung. Sementara bosnya yang merupakan atasan langsung tampil sebagai kandidat capres. Di sisi lain, pejabat tersebut adalah ketua partai tertentu di daerahnya. Padahal dia menduduki jabatannya yang sekarang itu, justru karena dukungan partai yang diketuainya itu. Sementara pimpinan nasional partainya sedang tampil juga sebagai salah seorang kandidat capres melawan bos langsungnya. Mau membela bos yang menjadi atasan langsung, berbahaya bagi kedudukannya sebagai ketua partai di daerah, dan bisa-bisa dianggap sebagai seorang pengkhianat partai. Tapi sebaliknya, jika terang-terangan mendukung pimpinan partainya yang sedang maju menjadi kandidat, tentu akan menyebabkan bos yang merupakan atasan langsungnya menjadi marah dan tersinggung ini juga sangat berbahaya bagi jabatannya sebagai bawahan langsung.

Mau berbuat apa, dua-duanya serba salah. Ibarat kata pribahasa gajah dengan gajah sedang bertarung, pelanduk terjepit di tengah-tengah. Jika memasang muka manis dan mencoba  menservis salah satu kandidat yang datang ke daerahnya tentu akan diberitakan pula oleh pers secara terbuka, sehingga tindak tanduknya tidak dapat disembunyikan. Dan, kedua orang bosnya pasti akan tahu.

Benar-benar membuat demam yang diderita semakin bertambah parah. Nasib para pejabat daerah kelas menengah seperti ini benar-benar terjepit. Banyak di antaranya yang terpaksa memasang dua kaki. Bahkan ada yang pakai kaki tiga biar bisa selamat. Betapa tidak. Dulu pejabat ini dinaikkan menjadi pejabat daerah oleh partai pendukung kandidat A, dan sekarang orang itu menjabat ketua partai C pula di daerahnya. Sementara bos besarnya minta dukungan darinya karena sedang menjadi kandidat B. Alangkah malangnya nasib pejabat kelas menengah ini…! Memilih kandidat A yang telah berjasa memberikannya jabatan, atau mendukung bos besar kandidat partai B, atau mendukung kandidat C agar tidak dicap sebagai pengkhianat partai. Pusing tujuh keliling memikirkannya, dan tidak bisa hilang dengan obat puyer yang terbaik sekalipun pusingnya itu. Sudah demam pusing lagi…… kasihan!

Kata orang Melayu lebih parah dari demam pure. Acit nai amang…… kata orang Batak!

Share this post