Golkar Sang Primadona

Pemilihan presiden secara langsung baru saja selesai pada 5 Juli 2004 yang lalu. Ha silnya telah hampir nyata bahwa mustahil menyelesaikan pemilihan tersebut dalam satu putaran. Satu kenyataan pahit yang harus ditelan oleh Mega yang sempat dengan penuh keyakinan bermimpi untuk memenangkan kursi kepresidenan dalam satu kali putaran. Ucapan tersebut dilontarkan di Senayan, Jakarta, di depan puluhan ribu para pecintanya saat kampanye bulan lalu.

Di luar dugaan, pasangan SBY Kalla me­lejit menempati umtan pertama dalanr perolehan suata sementara. Namun, tabloid berita nung­guan Star News terbitan yang lalu telah me­nyebutkan bahwa pasangan SBY-Kalla ini memang betpeluang memenangkan pertarung­an putatan pertama. Berbagai wialisa telah di­buat oleh banyak pihak. Dan, berbagaitang­gapan pun telah bemmnculan. Ada yang me­ngatakan bahwa hal ini sebagai buah kegagalan mesin politik. Ada pula yang mengatakau bahwa hal ini sebagai kemenaugan figur SBY

Sebenarnya apa yang terjadi ?

Dan lima pasangan capres dan cawapres yang maju bertempur dalam kancah persaingan Pilpres yang lalu, tidaklah semua mesin politik mereka dikatakan gagal. Hamzah-Agum yang disokong oleh PPP memang total mengalami kegagalan yang fatal. Betapa tidak, dari 8 % jumlah perolehan suara PPP pada Pemilu le­gislatif lalu, temyata jeblok pada penillihan ca­pres-cawapres menjadi kurang lebih 3 %-an saja.

Kegagalan Hamzah-Agum adalah buah dari gagalnya mesin politik PPP. Di sanping memang figur keduanya tidak populer di kalangan masyarakat dibandingkan dengan figur capres yang lain. Padahal, sebagai sebuah partai, PPP selama ini berhasil meraup suara cukup sig­nifikan karena selain sebagai partai Islam yang tua, juga mempergunakan lambang Ka'bah, yang di mata orang Islam awam sangat sakral nilainya.

Kegagalan Mesin Politik ?

Persoalan pasangan Amien dan Siswono tidak dapat dikatakan sebagai sebuah kega­galan mesin politik Sebagaimana yang telah penulis kemukakari pada nilisan minggu yang lalu, perhitungan suara mereka berdua memang hanya sekitar 14 %-an saja. Hampir mustahil bagi keduanya untuk dapat didongkrak ke angka 25 °/-an untuk menyaingi Mega. Sebe­namya, suara perolehan Amen ini sudah cu­kup maksimal, mengingat massa pendukung PAN dan PKS memang hanya bed unilah 14 %­an saja.

Yang menarik untuk dikaji adalah kegagalan Wiranto-Wahid. Sampai dengan tulisan ini dibuat, kedua pasangan ini hanya mampu me­ngumpulkan suara sekitar 23 %-an saja. Hal ini tentu jauh dari jumlah perkiraan massa Golkar yang 21 %-an ditambah dengan massa PKB yang 10 %-an itu.

Kenapa pasangan ini terseok-seok me­ngimbangi pasangan Mega-Hasyim? Alasannya adalah gagalnya mesin politik Golkar dalam menyatukan suara mendukwtg "sang jagoan ". Memang terkesan selama ini, Akbar, sang pucuk pimpinan yang terdepak pada persaingan konvensi Golkar yang lalu, "lemas dan ogah-ogahan"bequang untuk me­ngegolkan Wiranto. Dan, beberapa pimpinan pusat Golkar juga tidak kelihatan agresif maju ke depan pada masa kampanye lalu. Apalagi lengketnya Akbar deugan Taufik Kiemas begitu saja terlihat pasangan Witanto ketinggalan dari Mega. Hal ini menimbulkan kecurigaan adanya "khianat" dan "pembelotan" sebagian elite Golkar.Akibatnya, kini posisi Golkar berada di ujung tanduk.

Lamas kemana pula suara PKB yang diha­rapkan dapat mendongkrak suara Golkar'? Posisi sementara, dukwigan dari lumbung suara PKB, Jawa Timur justm tersedot ke SBY. Sementara itu, Wiranto unggul hanya di de­lapan kabupaten kota, seimbang dengan Mega yang juga wtggul di delapan kabupaten kota. Ini juga berarti mesin politik PKB gagal menyatukan suara mendukmg koalisi Golkar­PKB. Di samping itu, Golputnya Gus Durjuga berpengamh atas hilangnya dukungan warga Nahdhiyin dari koalisi Golkar-PKB.

Pasangan Mega-Hasyim hams bergembira

sebab swnpai dengan saat ini masih bertengger pada umtan kedua perolehan suara sementara Tentu tidak dapatdipmgkiri bahwa suara PDIP solid dan bulat mendukung Mega. Sementara Hasyim telah berhasil meraup suara warga Nahdhiyin ke koalisi mereka sekurang-ku­rangnya 4 %-an dari total suara 26 % jika dikutangi suara PDIP 19 % clan PDS 2 %.

Namun, tampaknya KPU dan Panwaslu hams jeli, jujur, dan berani mengungkapkan fakta dari isu yang beredar di masyarakat pas­ca penrilihan akan adanya kecwangan dari tim Mega-Hasyim ini. Terlihat pada bwryak kom­pleks perumahan Pegawai Negeri Sipil (PNS), suara yang mencoblos Mega-Hasyim cukup siginifikan. Kesan adanya pemaksoan dapat tercium dari kondisi itu. Apalagi pada masa kampanye yang lalu memang PNS di beberapa tempat juga telah dikumpulkan dan diarahknn oleh Mega, sang Presiden An.

Yang paling nusterius adalah pasangan SBY Kalla. Pasangan ini benar-benar luar biasa. Kalau diukur dari segi kekuatan mesin politik, sehamsnya pasangan ini hanya mampu me­ngumpulkan kurang dari 10 % suata saja. Na­mun, kenyataannya mereka justru mampu menuai panen raya dengan mengumpulkan su­ara lebih dari 33 %. Sungguh suatu prestasi yang dahsyat, luar biasa....... !

Ada sementara kalangan mengatakan bah­wa penampilan SBY yang kalem, kebapakan, murah senyum, tidak banyak omong dan gemar menyanyi itu telah menarik hati dan mencuri simpati dari rakyat pemilih, terutama tentu para perempuan dan ibu-ibu yang memang lebih dominan dipengaruhi oleh perasaan ketimbmg aknl sehat. Namun, sebenamya ada bebetapa hal yang Input dari perhatian para pengamat

Peribahasa Melayu

Bangsa Indonesia adalah bangsa mmpun Melayu yang telah ratuswi tahun terbiasa hi­dup dalam budaya Melayu. Salah satu priba­hasa Melayu yang diperas dari sari kehidupm mereka adalah, "Gara-gara nila setitik, rusnk susu sebelanga."

Wiranto telah dianggap bagiui dari orde bam Dan, otde batu selama ini telah diopinikan oleh gencamya "pembusukan" media massa sebagai rezim yang suram dan harus ditinggalkan. Sehamsnya serangan media massa terhadap rezim orde bam selatna uu telah menenggelamkan Wiratto. Justm prestasi Wiranto yang merxlu­duki peringkat ketiga semetitata itu, adalah sebuah prestasi besnr dan indah. Dan, itu juga berarti rakyat Indonesia mulai sadar dan terbuka mata hati untuk menilai dengan nuran dalam hujan informasi tak seimbang yang dilancarkan oleh mereka yang atitiorde barn selania mi.

Apalagi Wiranto adalah seorang Jenderal TNI Purnawirawan. Padahal, selama lima tahwt ini TNI secara gencar juga telah dicaci maki

clan dianggap sebagai salah saw "binng kerusalc4n" di Indonesia. Sehamsnya keada­an inijuga tidak memwtgkinkan Wiranto wituk tampil. Kenyataannya, TNI di mata rakyat tidaklah sejelek tuduhan yang dilontarkan se­gelintir oknum antimiliter. Inilah yang me­nyebabkan Witanto diterima clan memperoleh suara lumayan pada penulu putatan pertama.

Meskipun demikian, pengaruh peribahasa di atas tidaklah mudah wttuk dihapus begitu saja dari benak dan kehidupan rakyat In­donesia.

Adapun Mega, Hanuah, dan Amien diang­gap mewakili rezim refomiasi. Prestasi rezim refonnasi yang selama hampir lima tahm ini dinilai lebih amburadul dari rezim orde bam­menumt kacamata rakyat kecil, yang selarna orde barn dilepaskan dari himpiian hidup dan kebutuhon sehari-hari. Suatu hal yang terasa dinbnikan di era refonnasi, menjadi alasan bagi rakyat Indonesia untuk berpaling kepada calon lain yang dinilai bukan dari kelompok "nila setitik" tadi.

Siapakah orangnya? Dialah SBY, yang meskipun sebenamya telah turut dalam kepemimpinan dua orde terdahulu, namwn masih dianggap di lingkar luar yang terbebas dari susu sebelango yang rusak" itu.

Alasan kedua yang menyebabkan SBY unggul, adalah posisinya yang betum pemah menduduki kedudukan sebagai pucuk pim­pinan. Istilah orang Medan "Pok Ke­tua ..... ......!

Ada satu budaya di tengah-tengah bang­sa Indonesia. Yaitu, selalu ingin menggilir-gilir posisi yang diuiggap terhormat kepada banyak orang yang belum sempat mencicipinya. Contohnya, mengimami shalat berjamaah di masjid saja, di mata orang awam dianggap sebagai sebuah kedudukan yang mesti digilir­gilir. Bahkan, jabatan Ketua RW yang tidak meughasilkan banyak uang saja akan diprotes orang kalau orangnya hanya yang itu-itu saja. Apalagi, kedudukan terhomnat sebagai kepala negara yang bakal kebuijiran banyak harta

Namun, apa pun alasannya, kini pasangan SBY-Kalla sudah dapat dipastikan akan nraju ke putaran kedua penulihan capres-cawapres. Penting dicatat, majunya SBY ini juga mem­buktikan bahwa getakan antimiliter di Indone­sia selama ini hanya ulah segelintir oknum saja, yang telah mempetalat mahasiswa dan media massa untuk memblow up nusi mereka.

Golkar Sang Primadona Kitu, sang primadona yang dianggap ampuh untuk memenangkan pertarungan berada di tangan Golkac Siapa pun yang berhasil menjerat Golkar ke kubu mereka pada putaran kedua nantinya, Pasti akan tampil sebagai penxnang. Akankah Golkar tergaet ke SBY? Jauh-jauh hari kelihatan Akbar Tanjmg, sang nakhoda, telah mengisyaratkan kecon­dongannya ke Mega. Alasan yang dipilih ada­lah keinginan wntuk menuliki koalisi yang kuat di parlemen. Namun, sementara kalangan menilai alasan itu sebagai sebuah sondiwara untuk menyembunyikan "kenyataan" yang ada. Di mata Akbar, SBY terlolu cerdas dan sulit "ditundukkan ", bila dibandingkan de­ngan Mega yang telah terbukti kalnh cerdas dan lemah selama ini.

Persoalannya, maukah massa Golkar di­angkut ke Mega oleh Akbar Tanjung? Tam­palaiya, Akbar akan menelan "pil pahit" un­tuk kedua kalinya dan bersiap-siap "dipung­gungi" oleh massa Golkar yang ogah seger­bong dengan Mega, setelah sebelunmya di­jwigkirkan pada konvensi Golkar yang lalu.

Golkar sang primadona, siapakah yang berhasil menggaetmu... ?

Share this post