KOALISI PABALIEUT

Setelah menunggu dalam tenggang waktu hampir satu bulan masa kampanye capres dan cawapres, akhirnya tepat di penghujung waktu berakhirnya masa kampanye, PKS (Partai Keadilan Sejahtera) mengeluarkan keputusan Rapat Pimpinan Partai. Isinya sudah mudah ditebak sedari awal bahwa mereka akan menjatuhkan dukungan kepada Capres yang bernama Amien Rais.

Benarkah ini keputusan yang mewakili keseluruhan suara nurani para pencoblos PKS setanah air? Jauh-jauh hari, bahkan sampai keputusan tersebut dibuat, Sekretaris Jendral PKS, Anis Matta tetap menyatakan konsisten mendukung Wiranto. Hanya saja dia ‘terpaksa’ tunduk pada keputusan rapat pimpinan partai yang memilih Amien.

Ada beberapa perkara yang barangkali terlupakan oleh para elit PKS. Kesuksesan PKS meraih sekitar 7 % suara pada Pemilu yang lalu tidaklah melulu didukung oleh masyarakat yang ‘seakidah’ dengan para elit PKS tersebut.

Kita ketahui bahwa PKS adalah jelmaan dari pengajian Ikhwanul Muslimin di kampus-kampus yang menyamar dengan nama Tarbiyah di zaman orde baru untuk menghindari endusan pihak intelijen kala itu. Tegasnya…gerakan bawah tanah… yang kini menjelma sebagai PKS setelah sebelumnya bernama PK (Partai Keadilan), yang jeblok pada Pemilu 1999 yang lalu.

Sebagai pengikut Hasan Al Banna, sudah dapat dipastikan bahwa hampir seluruh elit politik PKS adalah kader Wahabi/Salafi yang militan, jauh dari faham Asy’ari/ Syafi’i yang merupakan mayoritas paham anutan masyarakat Indonesia.

Akan tetapi, tidak dapat dipungkiri bahwa suara 7 % hasil perolehan PKS adalah ditunjang oleh para simpatisan partai yang bukan dari golongan Wahabi/Salafi, tetapi dari barisan Islam tradisional Asy’ari/Syafi’i yang kecewa dengan partai-partai lama, yang tidak aspiratif. Tentu saja tidak mudah menggiring mereka untuk mendukung tokoh yang berasal dari luar faham yang mereka anut.

Berarti diperkirakan tidaklah bulat suara PKS akan mengalir ke Amien. Dan besar kemungkinan para simpatisan yang bermadzhab Syafi’i akan mengalirkan dukungan kepada pasangan Wiranto Wahid. 

 

Sejarah Lama

            Pada Pemilu 1999, Partai Keadilan (kini PKS) dengan getol berkampanye menjual Islam ke seluruh tanah air untuk meraup suara. Janji yang diusung adalah platform Islam dan perjuangan Islam. Tetapi apa lacur…setelah gagal mendapatkan suara minimal 2 %, akhirnya sesuai dengan peraturan di DPR, partai ini tidak dapat berdiri sendiri sebagai sebuah fraksi.

Semestinya, PK bergabung dengan beberapa fraksi Islam yang ada di DPR kala itu. Seperti, fraksi PPP, fraksi PBB, atau fraksi Daulat Umat, yang merupakan fraksi koalisi partai Islam gurem.

Nyatanya, PK lebih memilih bergabung dengan fraksi Reformasi pimpinan Amien Rais yang berplatform nasionalis bukan Islami. Hal ini telah dicatat oleh para pengamat politik Islam sebagai sebuah penghianatan yang dilakukan Partai Keadilan terhadap para pemilihnya kala itu. Meskipun, tidak disadari oleh sebagian besar para pemilih PK yang lugu, jujur dan awam.

 

Analisa

Kini, setelah Pemilu 2004 usai, PK telah berubah menjadi sebuah partai baru yang bernama PKS (Partai Keadilan Sejahtera). Janji yang diumbar pada Pemilu kali ini juga tidak jauh berbeda dengan Pemilu sebelumnya, yaitu Islam dan perjuangan Islam.

Kekecewaan umat Islam terhadap partai-partai Islam yang ada, telah menyebabkan menggelembungnya perolehan suara PKS. Meskipun, partai tradisional Islam, PPP, sebenarnya tidak mengalami penurunan yang berarti. Begitu juga PBB, yang hanya mengalami sedikit penurunan. Lantas dari mana suara perolehan PKS…? Suara yang berhasil disedot PKS sebagian besarnya adalah suara umat Islam yang pada Pemilu lalu terobsesi biusan memelas yang ditampilkan Megawati sebagai ‘korban’ orde baru di PDIP.

            Perkiraan paling rasional tentang kemana arah dukungan PKS, semestinya sudah dapat ditebak, yaitu ke partai Islam yang sama-sama satu platform. Sayangnya, satu-satunya Capres dari partai Islam Hamzah Haz, ketua PPP itu, sejak awal sudah dicurigai sebagai “boneka” PDIP karena pakai sowan segala kepada Bu Mega, sesaat sebelum maju menjadi Capres. Mungkin atas kecurigaan ini lah, maka dukungan PKS mustahil mengarah ke Hamzah Haz.

            Sempat juga berhembus adanya dukungan sebahagian massa PKS ke Wiranto. Tetapi tampaknya isu tersebut diabaikan saja oleh para elit politik PKS, dan lebih memilih bergabung kepada Amien Rais ketimbang Wiranto.

            Meskipun telah dibacakan beberapa kriteria jatuhnya pilihan PKS kepada Amien, tetapi tidaklah dapat dipungkiri bahwa alasan paling utama memilih Amien Rais tidak lain adalah alasan akidah, alias faham. Inilah yang sebenarnya telah disembunyikan oleh para elite PKS terhadap para pemilihnya.

Dimaklumi bahwa Amien Rais yang berlatar-belakang Muhammadiyah (Wahabi/Salafi) jelas memiliki keterikatan batin dengan kaum muslimin yang sefaham dengannya. Dan, terbukti sampai dengan saat ini para pendukung Amien Rais adalah Hidayatullah, Persis, Al Irsyad, diakhiri oleh PKS. Kesemua ormas ini jelas-jelas sejenis dan sefaham dengan Amien Rais yang Muhammadiyah.

Sedangkan ormas lain seperti, NU, Mathlaul Anwar, Al Ittihadiyah dan seluruh penganut thariqat, termasuk para Habaib non Wahabi mayoritas ada di belakang Wiranto. Ini disebabkan karena pengaruh Wiranto (yang bukan Wahabi) dan pasangannya Sholahuddin Wahid, orang besar NU, yang juga bukan Wahabi.

 

Akhir Pertarungan

            Hampir semua pihak meramalkan bahwa pertarungan pemilihan Capres dan Cawapres kali ini tidak akan selesai dalam satu putaran. (kecuali Mega, yang entah memakai perkiraan apa begitu yakin akan memenangkan pertarungan cukup pada putaran pertama saja).

            Wiranto sebagai kandidat terkuat menurut versi hitungan mesin politik, diperkirakan telah mengantongi tidak kurang dari 30% suara. Ini berasal dari suara Golkar 21%, PKB 11%, PKPB 2%, Patriot Pancasila 0,8 %. Seandainya saja hitungan pahit suara yang berhasil digondol Hasyim ke Mega sebesar 4%, toh Wiranto masih menjagoi perhitungan dengan nilai tertinggi.

Posisi kedua masih dikuasai Mega dengan asumsi 19 % suara PDIP, 2 % suara PDS, lain-lain 4 % berarti total 25 %. Sementara pada posisi ketiga Amien Rais yang diduga oleh sementara pihak bakal menjadi “kuda hitam” yang menyerodok ke posisi kedua menjungkirkan Mega.

Namun, yang jelas suara di kantong Amien hanyalah 7 % suara PAN, 7 % suara PKS (anggap saja tidak ada yang menyeberang ke Wiranto), lain-lain dari partai-partai gurem berwarna kekirian (Marhaenis, sosialis dan komunis). Kelihatannya, di atas kertas Amien akan sangat sulit mengumpulkan suara 25 % untuk mengungguli Mega.

Adapun SBY pada akhiri-akhir ini, popularitasnya disalib di tikungan oleh Amien. Dan, suara SBY pun hampir mustahil mencapai 25 % jika melihat perolehan suara partai Demokrat yang hanya 7 %.

            Seandainya saja Amien ketiban pulung dan berhasil menyodok ke putaran kedua berhadapan dengan Wiranto. Akankah Amien memenangkan pertarungan…?

Kelihatannya tidak mudah bagi Amien untuk dapat menduduki kursi kepresidenan RI 1. Sebab, Megawati bagaimanapun pasti akan lebih memilih berkoalisi dengan Wiranto ketimbang dengan Amien. Mungkin, di sinilah baru kelihatan kepiawaian tim sukses Mega “merangkul” Hasyim. Nampaknya, Hasyim akan digunakan sebagai mediator “mengawinkan” PDIP dengan Golkar melalui Sholahuddin Wahid sang Cawapres, ketua NU itu, menyingkirkan Amien pada pertarungan akhir.

            Sebaliknya jika saja Amien gagal maju ke putaran kedua, maka kepada siapakah mereka akan berkoalisi ? Rasanya sangat mustahil jika Amien dan PKS akan berkoalisi dengan Mega yang selama ini terkesan “memusuhi” umat Islam – sebut ketika Mega dan PDIP-nya menolak UU Sisdiknas, UU Adopsi Anak dan juga menolak dimasukkannya kata-kata iman dan takwa pada amandemen UUD ’45 di DPR.

            Lantas kemana Amien dan PKS akan berlindung…?

            Menjadi Golput beresiko akan “dimaki” dan “ditinggalkan” para pemilihnya yang sudah terlanjur menyanjung mereka sebagai pahlawan Islam. Sebab, dianggap lari dari medan perang alias meninggalkan perjuangan umat Islam. Sedangkan jika bergabung dengan Wiranto mungkin tidak ada beban apa pun bagi Amien pribadi yang Nasionalis. Paling-paling Amien akan ditinggal lari oleh para “teman baru golongan kiri-nya” saja. Tetapi, bagaimana dengan PKS yang membawa bergerbong-gerbong umat….?

            Baru saja maju ke medan tempur kemudian harus mundur dan pindah bendera, ke Wiranto…? Hal ini tentu akan menimbulkan kesan bahwa PKS plin-plan atau dihitung tidak cakap dalam memandang dan menghitung langkah politik ke depan. Anak Bawang….. begitulah kira-kira kata orang Medan…..!

Sementara langkah untuk maju sudah pula tertutup, sebab jagoannya tersingkir pada putaran pertama. Dan, sangatlah disayangkan jika akhirnya PKS terjebak dalam situasi maju kena mundur kena. Merenung dan memandang nasi yang sudah menjadi bubur.

Tentu akhirnya, PKS terpaksa memilih maju dan bertukar kubu, menghadapi pertandingan yang sudah digelar. Bak kata petuah Melayu, “Sekali layar terkembang, surut kita berpantang”. 

Nampaknya, pemeo memperjuangkan kepentingan politik yang jauh dari pengaruh kepentingan individu maupun golongan masih memerlukan waktu yang panjang bagi perjalanan perjuangan politik di Indonesia. Langkah PKS kali ini bakal tercatat dalam sejarah sebagai satu proses adanya geliat perjuangan politikus religius, meskipun masih merupakan kepompong yang bermetamorfosis tidak sempurna. Dan, lagi-lagi terulang perpecahan umat pada tahun 1955 di Konstituante, yang mana ketika itu umat Islam juga terpecah ke dalam dua partai NU dan Masyumi. Keduanya gagal menyisihkan kaum Nasionalis dan kaum Komunis dalam bertanam pengaruh di kancah perpolitikan Indonesia. 

Quo Vadis, PKS….?!

Share this post