MILITERISME KAUM SIPIL

Sebuah Tragedi Kemanusian Paling Mengenaskan

Ketika Partai Demokrat dengan resmi mencalonkan pasangan SBY dan Yusuf Kalla sebagai capres dan cawapres, gerakan anti militerisme dan penolakan capres dari militer belumlah begitu besar. Akan tetapi ketika Wiranto dengan mengejutkan berhasil memenangkan pertarungan pada konvensi Partai Golkar dan kemudian resmi dicalonkan sebagai capres, maka mulailah menggelembung gerakan anti militerisme dan penolakan capres militer. Meskipun gerakan tersebut hanya dilakukan oleh segelintir mahasiswa dan LSM-LSM tertentu namun gerakan tersebut sempat menghiasi halaman-halaman berbagai media massa dan juga berita media elektronik. Puncaknya adalah pada peringatan tragedi semanggi dan peringatan jatuhnya kekuasaan Presiden Soeharto, tanggal 21 Mei yang lalu. Sayangnya, kemudian tercium bau tak sedap bahwa gerakan tersebut ternyata melibatkan tangan kekuasaan, apalagi sejumlah elemen mahasiswa yang terlibat dalam gerakan anti militer tersebut sempat berkumpul di rumah salah seorang menteri dari kabinet Gotong Royong yang sedang berkuasa sekarang ini. Meskipun berita ini sempat mendapatkan bantahan dari oknum terkait, namun nyatanya setelah hari itu, teriakan anti militer dan penolakan capres militer redam dengan sendirinya. Bahkan spanduk-spanduk yang senada dengan itu mendadak menghilang dari sudut-sudut ibukota Jakarta.

Apakah militerisme itu..?? Militerisme adalah “tindak kekerasan yang dilakukan oleh penguasa untuk melanggengkan kekuasaannya.” Ini berbeda dengan militer. Militer adalah alat negara untuk menjaga stabilitas dan kelangsungan hidup bangsa dalam suatu negara. Militer tidak sama dengan militerisme. Dan itu juga berarti tidak semua penguasa militer berpaham militerisme. Pada zaman modern ini, kita bisa melihat Fidel Ramos misalnya, dia seorang militer yang berpangkat Jenderal dan pernah menjabat sebagai Menteri Pertahanan negara Philipina. Kita dapat melihat bersama bahwa selama kepemimpinannya beliau memerintah dengan semangat demokrasi yang jauh dari sifat-sifat militeristik, dan sangat bertolak belakang dengan pendahulunya, Marcos. Demikian juga dengan Kolonel Moammar Khaddafi, penguasa Libya. Bagi orang yang pernah menetap di Tripoli, Libya, pasti mereka akan membuktikan betapa dekatnya beliau dengan rakyatnya. Beliau berani berkendaraan berkeliling negeri bahkan tanpa pengawal yang berarti serta berani bersalaman dan berpeluk cium dengan rakyatnya. Hal ini sangat kontras dengan pemimpin-pemimpin negara yang mengaku paling demokratis di Eropa maupun Amerika, yang sangat terjaga ketat dan hampir mustahil dapat bergaul mesra dengan rakyatnya sebagaimana yang dicontohkan oleh Khaddafi. Tegasnya, sifat militeristik dapat saja dilakukan oleh penguasa dari pihak militer maupun pihak sipil.

Selama sejarah terbentang, dunia telah mencatat beberapa penguasa sipil yang bertindak dengan cara militeristik yang sangat kejam, jauh dari sifat persamaan hak dan keadilan, jauh dari sifat demokrasi dan malah sebaliknya penuh dengan pertumpahan darah, penyiksaan, terror, ketakutan dan kematian. Dalam risalah ini kami ingin menguraikan beberapa tokoh sipil dunia yang menganut paham militerisme.

  1. Karl Marx

Karl Marx adalah salah seorang penggagas Paham Komunis yang katanya menjanjikan persamaan hak dan keadilan. Namun nyatanya ajarannya telah menyebabkan kesengsaraan bagi berjuta-juta ummat manusia.

  1. Lenin

Lenin adalah seorang penguasa sipil dari Uni Sovyet. Dalam masa kekuasaannya sekian puluh tahun, Lenin telah menumpahkan darah, menyerbu negara-negara tetangganya dan telah membunuh puluhan juta rakyat tak berdosa.

  1. Stalin

Stalin adalah penguasa sipil dari Uni Sovyet yang menggantikan Lenin. Orang ini bahkan lebih kejam dari Lenin. Sikap dan penampilannya yang parlente dan penuh senyum ternyata menyimpan nafsu iblis yang kejam. Dia tidak segan-segan membunuh lawan-lawan politiknya dan orang-orang yang tidak sejalan dengan visi dan misi. Dalam Perang Dunia II melawan Jerman, pasukannya berhasil mengusai Berlin dan melakukan berbagai kekejaman yang tidak terperihkan serta membunuh puluhan juta orang yang tidak berdosa. Kekejamannya bahkan melebihi kekejaman Hitler sekalipun.

  1. Mao Tse Tung

Mao adalah mantan seorang petani dari Daratan Cina yang kemudian berhasil merebut kekuasaan negeri Cina. Sebagai seorang penguasa sipil, apalagi mantan seorang petani, seharusnya ia dapat memerintah dengan sikap lemah lembut yang penuh dengan kasih sayang dan demokratis. Namun ternyata dia adalah seorang penganut militerisme yang fanatik. Pemerintahan militeristik yang dilakukannya telah menyebabkan jatuhnya korban jutaan rakyat Cina yang tidak berdosa.

  1. Polpot.

Polpot juga seorang petani dari negeri Kamboja. Sebagaimana layaknya seorang petani, dunia mungkin tidak pernah mimpi bahwa Polpot adalah mesin pembunuh yang sangat haus darah. Tidak kurang dari dua juta orang penduduk Kamboja yang telah terbunuh dibawah pemerintahan militeristik yang dilakukannya. Pembunuhan yang dilakukan oleh rezim Polpot terhadap rakyatnya sendiri berlangsung sangat mengerikan dan dilakukan tanpa pandang bulu. Dari pihak kaum muslimin tidak kurang dari tujuh ratus ribu orang tua, muda, laki-laki, perempuan bahkan anak bayi yang mereka bunuh. Salah satu adegan pembunuhan yang dilakukan rezim Polpot adalah dengan merebus para ulama Islam Kamboja di dalam sebuah kuali besar. Para korban dituntun menuju ke kuali tersebut dengan melewati anak-anak tangga yang dibuat dari Al-Qur’an-Al Qur’an yang disusun untuk kemudian dipijak oleh para korban yang matanya ditutup kain hitam, menjemput maut di kuali mendidih itu. Polpot akhirnya bunuh diri di sebuah hutan persembunyiannya dalam keadaan hina dina.

Kelima tokoh sipil penganut militerisme ini semuanya berpaham Komunis. Mereka telah membantai tidak kurang dari 120 juta orang. Belum lagi korban pembunuhan rezim Vietcong di Vietnam dan korban Partai Komunis Indonesia (PKI) sejak awal kemerdekaan sampai dihancurkannya PKI pada tahun 1965 oleh pasukan Sarwo Edi.

Disamping pemerintah sipil dari pihak komunis, sejarah dunia juga mencatat beberapa tokoh sipil militeristik nasionalis yang tak kalah kejamnya dari sipil militeristiknya kaum komunis.

  1. Benito Mussolini.

Dia adalah seorang penguasa sipil dari Italia yang mencetuskan faham Fasis. Semula Fasis dicetuskan untuk menyebarkan rasa aman dan keadilan serta menyebarkan faham demokrasi, namun dalam perjalanannya sikap nasionalisme-fasis telah berubah menjadi mesin pembunuh yang tragis. Salah satu negara yang menjadi korban Italia adalah Libya. Meskipun Libya hanya sebuah negara kecil, tetapi perlawanan yang dilakukan oleh rakyat Libya yang dipimpin oleh Omar Mokhtar, seorang guru mengaji penganut paham Thariqat Sanusiyah telah berhasil menyusahkan penguasa fasis Italia itu selama 29 tahun. Dan selama dua puluh sembilan tahun ini pulalah pembunuhan demi pembunuhan telah dilakukan oleh rezim Mussolini. Orang kejam ini akhirnya dihukum mati oleh rakyatnya sendiri setelah hancurnya fasisme.

  1. Adolf Hitler.

Perawakannya yang kecil dan pendek sepertinya tidak akan menimbulkan bahaya apa-apa. Apalagi dia berasal dari golongan nasionalis. Sayangnya, sikap nasionalisme yang dimiliki oleh Hitler tidak menjamin penguasa sipil ini bersikap demokratis. Dia telah memerintahkan tentaranya untuk menyerbu Eropa dan Uni Sovyet. Gerakannya ini telah menyebabkan puluhan juta manusia.

Mungkin kita menganggap bahwa tokoh-tokoh nasionalis yang militeristik hanyalah miliknya kaum lelaki saja. Ternyata anggapan itu keliru. Sejarah telah mencatat pula bahwa perempuan pun terlibat dalam paham militerisme. Kami ingin memberikan beberapa nama antara lain:

  1. Isabella

Dia adalah seorang penguasa sipil Kristen Spanyol. Meskipun dia hanya seorang wanita, tetapi ternyata memerintah dengan cara-cara militeristik yang kejam. Banyak pesaingnya yang dibunuh oleh kaki tangannya. Yang paling memilukan adalah peristiwa penyembelihan 40 ribu kaum muslimin termasuk orang tua, wanita, anak-anak bahkan bayi-bayi mungil sekalipun. Sikap dan perilaku yang adil dari kaum muslimin selama ratusan tahun di Spanyol sedikitpun tidak menggugah rasa lemah lembut kewanitaannya. Tindakannya terhadap kaum muslimin di Spanyol umpama kata pepatah; “air susu dibalas dengan air tuba”.

  1. Golda Meiyer, mantan Perdana Menteri Israel.

Wanita inilah yang mengobarkan perang Arab-Israil di tahun 1967 dan 1973 dan berhasil mencaplok Gurun Sinai milik Mesir dan Dataran Tinggi Golan milik Suriah, belum lagi Palestina dan Libanon. Tindakannya ini telah menyebabkan penderitaan bangsa Arab yang berkepanjangan. Dan bangsa Palestina juga harus menanggung penderitaan akibat tindakan militeristik para penguasa sipil Zionis Israil selama tiga dasawarsa ini.

  1. Margareth Thatcher

Wanita yang berjuluk wanita besi ini pernah mengobarkan perang dengan Argentina karena sengketa masalah Pulau Folkland (terkenal dengan perang Malvinas).

Kini di era milenium ketiga, ternyata faham militerisme kaum sipil tidak juga hilang. Militerisme kaum sipil tetap saja muncul bahkan dari negara-negara yang berkoar-koar sebagai penegak demokrasi dunia. Lihatlah bagaimana tindakan George W. Bush dan herdernya yang paling setia, Tony Blair…!! Mereka tidak malu-malu mengerahkan militernya menyerbu negara kecil yang masih terbelakang dan miskin, Afganistan, hanya dengan alasan  ingin menangkap Osama bin Laden. Malangnya, ketika negara Afganistan telah mereka kuasai, perburuan terhadap Osama mendadak loyo sementara mereka tetap bercokol tidak mau pergi-pergi dari Afganistan. Belum lagi penyerbuan kedua negara ini ke Irak. Dalihnya adalah mencari dan memusnahkan senjata pemusnah masal yang konon dimiliki oleh Irak. Tanpa mengindahkan PBB dan seluruh masyarakat dunia akhirnya Irak dicaplok, korban-korban rakyat sipil yang tak berdosa berjatuhan, sementara senjata pemusnah masal yang dituduhkan tidak pernah ada…! Yang paling menjengkelkan hati adalah tindak kekerasan paling memalukan yang terjadi di penjara Abu Ghraib.

Ternyata kaum sipil tidaklah merupakan jaminan akan jauh dari tindakan militeristik, sebab ternyata paham militerisme itu telah dipraktekkan oleh banyak kalangan penguasa sipil. Dan terbuktilah memang militerisme belum tentu miliknya militer

Share this post