SBY, ANTARA PELUANG DAN TANTANGAN

Susilo Bambang Yudhoyono telah dapat dipastikan akan maju ke putaran kedua pemilihan Presiden Republik Indonesia. “Tongkrongannya” yang kalem, murah senyum dan tidak banyak bicara amat sesuai dipandang sebagai type seorang calon pemimpin.

Kita mungkin masih ingat bagaimana penampilan Pak Harto ketika masih muda, hampir mirip seperti SBY kini. Tepatnya, SBY hampir dapat dikatakan sebagai penjelmaan “Pak Harto Muda”. Akankah prestasi yang beliau capai dapat disamai oleh SBY ?

Kalau Pak Harto naik ke tampuk kepresidenan karena dipilih oleh anggota MPR pada Sidang Istimewa tahun 1966 yang diketuai oleh Jendral Nasution, setelah populer dan sukses sebagai penyandang Supersemar 1966, kini SBY masih memerlukan perjuangan keras dalam usahanya memenangkan pertandingan Pilpres putaran kedua yang seru, karena kepopuleritasan beliau masih harus diuji lagi.

Peluang

Melihat jumlah perolehan suara SBY-Kalla, yang sampai dengan tulisan ini dibuat masih menempati urutan pertama dengan meraup 33,59 % suara unggul 7 % dari saingan terdekatnya pasangan Mega-Hasyim, maka dapat diprediksikan bahwa SBY akan dapat menang pada pilpres putaran kedua nantinya.

Jika menilik hasil pilpres 5 Juli yang lalu, terlihat jelas bahwa mesin politik telah gagal untuk mendongkrak suara bagi Capres unggulan yang dimajukan, terutama Capres partai Golkar yang telah berkoalisi dengan PKB. Meskipun menurut hitungan matematis jika saja mesin politik keduanya berjalan maksimal akan memperoleh paling sedikit 31 % suara. Nyatanya, perhitungan itu meleset. Pasangan Wiranto-Wahid hanya mampu menangguk 22,20 % suara, kalah jauh dengan pasangan SBY-Kalla dan Mega-Hasyim.

Dari sini nampaknya peluang SBY-Kalla tetap besar. Apalagi kalau dibandingkan dengan perolehan suara partai Demokrat yang hanya mendapat 57 kursi di DPR-RI, namun berhasil menjuarai putaran pertama pilpres tanggal 5 Juli yang lalu. Keunggulan figur SBY-Kalla telah mengalahkan kekuatan mesin politik yang seharusnya ampuh dalam menjaring dan menengguk suara.

Jika saja penampilan SBY tetap mantap pada putaran kedua, maka dapat dipastikan beliau akan duduk di kursi RI-1. Namun, yang namanya persaingan, pihak lawan tentu tidak akan tinggal diam. 1001 cara untuk mendongkel SBY pasti akan dipergunakan. Kita masih ingat, beberapa calon presiden yang populer di mata rakyat Amerika akhirnya harus terjungkal karena kepopulerannya mendadak hancur setelah pihak lawan membuka rahasia pribadi sang calon.

Kalau saja SBY bersih dari catatan kecacatan pribadi, atau sekurang-kurangnya pihak lawan tidak mencium cacatnya itu, maka peluang beliau untuk maju tetap akan mulus. Sebaliknya, jika saja beliau memiliki cacat yang di mata masyarakat merupakan sebuah aib, dan pihak lawan berhasil mendapatkannya pula, maka kehancuranlah yang akan menunggu beliau.

Aib-aib itu bisa berupa skandal seks, korupsi, kolusi atau bahkan keluarga. Berhembus kabar yang tidak sedap bahwa istri beliau diragukan ke-Islamannya. Apalagi adik kandung istri beliau menikah dengan seorang perwira tinggi yang bukan Islam. Tampaknya SBY harus secara transparan menjelaskan keberadaan agama istri beliau, untuk mempertahankan dukungan suara dari umat Islam yang tidak dapat dipungkiri telah mendukung dan memilih beliau pada pilpres 5 Juli lalu.Dan,dukungan itu jauh lebih besar dari jumlah suara pemilih partai Demokrat yang hanya 7 %-an.

Persoalan ini bukanlah persoalan kecil. Apalagi dianggap sebagai persoalan pribadi. Kita harus paham, dalam adat-istiadat orang Timur, seseorang yang telah terlanjur jadi bintang di mata masyarakat, tidak boleh menyandang sedikit pun hal-hal yang dianggap cacat. Ini memang resiko.

Di negeri Barat pun kebiasaan itu terjadi. Misalnya, di Amerika semua orang bebas menenggak minuman keras sampai mabuk sekalipun. Namun, jika seorang kandidat presiden pernah tertangkap mabuk sedang mengendarai mobil, persoalan itu akan menjadi batu sandungan besar baginya untuk dapat duduk menjadi presiden. Begitu juga dengan skandal seks. Di Amerika, paham seks bebas telah menjadi anutan bagi masyarakatnya. Orang dapat saja bebas melakukan hubungan sesama mereka. Akan tetapi, sialnya jika seorang kandidat presiden terbukti pernah memiliki sebuah skandal di luar pernikahan yang sah, orang itu jangan harap untuk bermimpi menjadi presiden lagi.

Beberapa hari belakangan ini, Media Massa mulai sibuk memberitakan upaya koalisi dari Tim Mega-Hasyim, saingan SBY-Kalla itu. Kelihatan seperti yang telah diduga oleh banyak pihak, jauh-jauh hari Hamzah, sang ketua PPP sudah mengucapkan bakal mendukung Mega.

Kita tidak pernah habis mengerti dimana kecerdasan Hamzah dipergunakan ? Sedangkan untuk mendukung dirinya sendiri saja menjadi Capres, sebagai Ketua Umum PPP, beliau telah gagal menggiring para pemilih partainya memilih dirinya. Bagaimana bisa diharapkan beliau berhasil menggiring mereka memilih Mega …? Tindakan Hamzah sungguh merupakan tindakan yang tidak rasional dan memalukan. Wajarlah jika kemudian mulai terdengar suara dari elite politiknya di wilayah Jawa Tengah yang menginginkan segera diselenggarakannya Munaslub untuk menggusur dirinya.

Begitu juga dengan ucapan Akbar Tanjung, Ketua Umum Golkar yang juga ingin berkoalisi dengan Mega. Tampaknya pagi-pagi hari para elite Golkar sudah memberontak dan tidak setuju atas prakarsa itu. Suara tegas sudah dikeluarkan oleh angkatan muda Golkar. Dan, penulis yakin para pemilih partai Golkar pada Pemilu Legislatif yang lalu tidak akan sudi memenuhi ajakan Akbar untuk bersekutu dengan Mega.

Sementara, para pendukung Amien mulai  terpecah ke dalam dua kelompok. Satu kelompok memilih Golput dan sebagian lain akan memilih serta tidak setuju Golput. Persoalannya akankah mereka yang tidak Golput mendukung SBY ? Kalau kelompok pendukung Amien yang berbau “kekirian” (Sosialis, Marhaenis dan Komunis) sangat diragukan mau se kubu dengan SBY, dimana kelompok kiri biasanya anti militer. Sebaliknya, militer biasanya juga anti kelompok kiri. Rasanya mustahil mempersatukan keduanya saat sekarang ini. Di kubu ini SBY kelihatannya akan kehilangan peluang.

Adapun pengikut dan simpatisan PKS kelihatannya akan lebih memilih SBY mengikuti jejak “saudaranya” PBB yang jauh-jauh hari sudah bersekutu lebih awal. Sementara PBR pun sudah hampir pasti berada di pihak SBY. Analisa ini dibuat “berdasarkan bedanya besaran kerusakan yang akan diterima” jika bersekutu dengan SBY dibanding dengan Mega.

Kelompok Islam rasanya telah sangat kecewa dengan sepak terjang Mega dan PDIP-nya selama ini yang telah nyata selalu berseberangan dengan kepentingan Islam bahkan sering berlawanan (hanya Hasyim Muzadi saja yang melawan arus membela Mega sekarang ini). Oleh karena itu, pihak Islam kelihatannya ingin mencoba “orang baru”, untung-untung sikap “orang baru” ini lebih baik terhadap Islam dan memberi keuntungan pada Islam. Kelihatannya, sikap ini pun akan menjadi pilihan bagi PKB, musuh besar Mega.

Keyakinan umat Islam mendukung SBY, karena SBY dianggap tidak akan macam-macam, karena kondisi partai pendukung beliau, partai Demokrat di DPR hanya berjumlah kecil. Yaitu sekitar 57 kursi saja. Dengan kekuatan di DPR yang sekecil ini, beliau akan sangat mudah untuk didongkel dengan impeachment bila dianggap melanggar konstitusi.

Salah satu faktor kelemahan tim SBY-Kalla…!

Kemampuan

Persoalan kedua yang menghadang SBY adalah perkara kemampuan. Akankah beliau mampu menyelesaikan semua PR yang ada …?

Dahulu ketika Pak Harto baru berkuasa, beliau bahkan tidak mempunyai sebuah partai pendukung pun. Namun, segera di tahun 1971, yaitu pada pemilu pertama beliau berhasil menggalang kekuatan di DPR melalui Sekber Golkar yang baru dibentuk. Kemudian Pak Harto segera membuat kejutan dalam tindakan, (bukan retorika ucapan belaka) dengan memenuhi sandang, pangan, papan. Kebutuhan rakyat kecil akan hajat hidup yang primer segera terpenuhi. Kemudian program kerja nyata melalui Pelita demi Pelita cukup memukau hati rakyat Indonesia bahkan mendapat penghargaan di mata dunia. Keberhasilan kedua yang menonjol adalah menjamurnya perusahaan-perusahaan asing yang berlomba-lomba bertanam modal di Indonesia, dan di-back up dengan stabilitas negara yang mantap.

Persoalannya sekarang, SBY tidak seharusnya merasa cukup puas dengan hanya memiliki penampilan dan perbawa yang mirip Pak Harto. Beliau harus benar-benar berusaha keras mewujudkan kerja nyata seperti yang pernah dibuat Pak Harto agar dicintai oleh rakyat Indonesia dan dikagumi dunia di awal-awal orde baru dulu.

Persoalan yang menjadi PR bagi SBY saat ini sangat berat. Tidak saja masalah yang menyangkut politik, sosial budaya, ekonomi dan hankam saja. Berbagai persoalan yang kompleks telah membelit bangsa Indonesia akhir-akhir ini. Pertumbuhan ekonomi yang kecil, tingkat pengangguran yang besar dan pencabutan subsidi bagi rakyat kecil benar-benar membutuhkan jalan keluar yang jitu dengan segera.

Dalam bulan-bulan ini saja, rakyat kecil telah dicekik dengan biaya sekolah yang tidak rasional lagi. Dimana-mana terdengar keluhan atas besarnya biaya sekolah yang tak terpikulkan bagi rakyat kecil. Suatu persoalan yang tidak pernah terjadi di zaman orde baru. Penyelesaian persoalan yang menindas kehidupan rakyat kecil ini, dalam waktu yang harus sangat singkat diselesaikan oleh SBY. Dan, tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Gagalnya penyelesaian persoalan tersebut akan menyebabkan jatuhnya SBY dari tampuk kekuasaan seperti yang telah diramalkan oleh Gus Dur.

Di samping itu semua, ada satu hal lagi yang harus dimiliki oleh SBY yaitu sikap yang tegar tidak cengeng. Mega, selama kepemimpinannya telah menunjukan sikap cengeng itu. Selalu menyalahkan pendahulu, tidak puas dengan keadaan sekarang, penuh dengan keluh kesah bahkan terhadap kinerja tim-nya sendiri. Jika saja SBY berhasil mewujudkan kerja nyata dan sikap tegar, menyelesaikan semua PR yang ada, maka dukungan rakyat Indonesia yang jauh lebih dahsyat dari dukungan partai politik pasti akan diperolehnya.

Tinggal lagi, akankah harapan ini dapat terwujud…?

Mampukah SBY mengalahkan Mega…?

Jangan tanya pada rumput yang bergoyang. Partisipasi dan suara rakyat Indonesia yang ikut memilih pada pilpres putaran kedua nanti lah yang akan menentukannya….

Raja alim raja disembah, raja lalim raja disanggah….! Sebuah pribahasa Melayu yang layak direnungkan oleh sang pemenang pilpres putaran kedua nantinya.

Horas do hita sudena…..!

Share this post