BOM DAN NAFSU BIADAB

Peristiwa kejam yang sangat terkutuk kembali terjadi lagi di Ibu Pertiwi tercinta ini. Beberapa orang manusia tak berdosa telah terkorban melepas nyawa secara sia-sia tanpa mengetahui alasan mengapa mereka harus mati. Sementara para keluarga terkoyak jiwanya oleh luka kepedihan yang mendalam atas peristiwa itu.

Pagi kamis yang cerah tanggal 9 September 2004, pada pukul 10.30 WIB, Indonesia kembali dipukul secara telak oleh manusia-manusia biadab yang telah melakukan pengeboman di depan Kedutaan Besar Australia, Jl. H.R. Rasuna Sahid Jakarta. Korban yang tewas menurut Kapolri adalah sembilan orang. Sementara John Howard, PM Australia mengatakan korban yang tewas adalah sebelas orang. Bagi kita, satu orang yang tewas saja sudah merupakan sebuah kepedihan yang mendalam, apalagi sampai beberapa orang.

Rasanya tidak ada satu bangsa yang beragama dan beradab di dunia ini menyetujui perbuatan keji yang biadab itu. Akal sehat kita, sebagai manusia juga tidak dapat menerima adanya orang yang tega membunuh sesama manusia melalui cara-cara yang amat keji. Agama Islam sebagai panutan mayoritas rakyat Indonesia pun dengan tegas telah menolak dan mengancam pelaku pembunuhan nyawa manusia tanpa hak. Dalam Al Qur-an surat Al Maidah ayat 32 ada tertulis, “Barangsiapa membunuh satu nyawa manusia, maka seolah-olah ia telah membunuh nyawa seluruh umat manusia. Dan, barangsiapa yang memberi hidup kepada satu nyawa manusia, maka seolah-olah dia telah menghidupi seluruh manusia.” Inilah ajaran yang luhur yang telah difirmankan oleh Allah Tuhan Semesta Alam. Dan, kita benar-benar prihatin melihat kenyataan bahwa ternyata masih ada juga manusia yang tega melawan nurani dan perintah Tuhan dengan membunuh orang lain yang tidak berdosa.

Analisa

Dua minggu sebelum peristiwa pengeboman ini terjadi, Amerika Serikat disusul oleh Australia telah memberikan peringatan kepada dunia akan terjadinya peristiwa pengeboman di Indonesia dalam bulan September ini. Dan, nyatalah kini peristiwa itu benar-benar telah terjadi. Sayangnya Kapolri Dai Bachtiar dengan mantap masih membanggakan keamanan Indonesia yang terkendali menurut versinya, pada pertemuan dengan Anggota DPR, justru ketika peristiwa naas itu terjadi. Sebagai seorang Kapolri beliau seharusnya tanggap atas pernyataan kedua negara tersebut. Pasalnya memang ramalan mereka sering terbukti. Terlepas apakah peristiwa-peristiwa pengeboman tersebut “direkayasa” oleh mereka atau tidak. Lagi pula apa ruginya jika kita menggelar siaga terutama menjelang saat dilangsungkannya pilpres ?

Orang boleh saja curiga terhadap Amerika dan Australia yang jauh-jauh hari sudah mengetahui bahwa peristiwa itu akan terjadi. Jangan-jangan peralatan bom tersebut memang dikirim dari sana untuk kemudian diledakkan di wilayah Indonesia dengan mempergunakan kaum Fundamentalis yang berpikiran sempit lagi bodoh. Tidak dapat dipungkiri bahwa beberapa orang kaum fundamentalis yang picik telah terang-terangan terlibat dalam beberapa peristiwa pengeboman sebelumnya. Lihat peristiwa bom Bali (12 Oktober 2002) dan bom Mariot (5 Agustus 2003) yang kesemuanya telah menampilkan pion-pion berpikiran picik tersebut, memang benar ada terlibat sebagai pemicu pengeboman. Namun, sampai dengan saat ini aktor intelektual dari peristiwa pengeboman yang ada belum pernah dapat diungkapkan, ditangkap dan dihukum mati.

Negara Indonesia belumlah mampu membuat bahan-bahan bom yang sebegitu canggih. Dan, itu berarti bahan-bahan tersebut diimport dari negara-negara maju yang telah terbukti mampu membuatnya. Kapolri menduga pelakunya adalah pemain lama yang masih buron yaitu DR. Azhari dan Nurdin M. Top. Namun, perlu ditekankan agar negara-negara maju pembuat bahan bom dapat lebih mengetatkan pengawasan di negaranya sehingga bahan-bahan tersebut tidak lolos keluar, yang pada gilirannya dipakai oleh kaum teroris untuk melalukan teror.

Sebenarnya yang lebih penting lagi bagi kita, Polri harus segera menangkap kedua orang tersebut, bukan hanya pandai menuduh mereka seperti yang selama ini. Yang kedua, seluruh rakyat Indonesia semestinya menyadari bahwa mengebom sasaran sipil adalah sebuah perbuatan keji dan biadab. Dengan begitu, para tokoh agama dan masyarakat mesti bertindak ekstra keras dan cepat untuk memberikan kepahaman kepada segenap masyarakatnya agar mereka sadar dan tidak dapat direkrut menjadi pion pelaku peledakan oleh kaum teroris.

Sementara kalangan menduga, bahwa perbuatan Gorries Mere, menenteng-nenteng terpidana bom Bali, Ali Imron di sebuah Café adalah sebuah perbuatan yang memancing ular keluar dari sarangnya. Bisa saja para anggota kelompok tersebut menjadi panik setelah melihat temannya “kongkow-kongkow” dengan petinggi polisi. Dan, pada gilirannya mereka menganggap bahwa Ali Imron pasti telah berkhianat dan membocorkan rahasia dan jaringan mereka selama ini. Sehingga, bom yang semestinya diledakkan pada tanggal 11 September (tepat ulang tahun peristiwa WTC) atau 20 September tepat pada saat pemilihan Presiden dan Wakilnya diledakkan lebih awal, yaitu tanggal 9 September kemarin. Seandainya kepanikan ini yang memang diinginkan oleh Gorries Mere, kenapa Polri tidak serta merta melakukan pengamanan yang ketat, kalau perlu siaga dua atau bahkan siaga satu ?

Masalah Intelijen

Menilik dari selalu lolosnya peristiwa demi peristiwa pengeboman di negeri ini, nampaknya pelimpahan penanganan masalah keamanan ke tangan Polri perlu ditinjau ulang. Pasalnya, Polri dinilai belum memiliki kemampuan dan sarana yang cukup untuk mencegah dan menggulung sindikat pengeboman. Intelijen Polri terasa sangat lemah dan tergolong tidak capable dalam masalah ini.

Di masa orde baru ketika itu intelijen masih di bawah TNI, keamanan dan stabilitas nasional sangat dirasakan keberadaannya oleh rakyat Indonesia. Ketika itu komando teritorial berjalan sangat efektif dari Panglima ABRI sebagai pimpinan tertinggi terus menurun ke segenap jajarannya sampai ke jajaran yang terkecil yaitu Babinsa, di desa-desa. Sehingga pada saat itu ada istilah, “Andai kata ada jarum jatuh sekalipun pasti akan ketahuan”. Sangat efektif dan terorganisir dengan rapi.

Memang kejujuran sangat diperlukan saat sekarang ini. Jika Kapolri dan segenap jajarannya tidak mampu memegang kendali keamanan, kenapa tidak membagi tugas untuk dipegang oleh pihak lain demi keamanan rakyatnya ? Sikap ngotot yang merugikan rasanya tidak perlu dipertahankan kalau memang merugikan kita semua. Jelasnya sebagai pengayom dan pemegang kendali keamanan Polri dapat saja tetap berperan penuh terutama dibidang hukum dan kriminilitas. Adapun untuk menangani pemberontakan di dalam negeri (rebellion security) atau membawahi intelijen yang bersifat khusus seperti kasus terorisme, Polri bisa saja melimpahkannya kepada TNI yang telah terbukti lebih terlatih selama ini. Apalagi senjata yang digunakan oleh kaum teroris kini benar-benar telah menggunakan senjata milik militer, seperti roket, granat dan bahkan bom.

 Ambil contoh Filipina dan Thailand yang serta-merta menyiapkan seluruh militernya untuk diterjunkan ke sejumlah lokasi strategis, pusat bisnis, hotel dan kantor-kantor pemerintah tanpa harus  malu-malu, seperti negara Indonesia. Jelasnya buat apa harus menjaga gengsi dalam keadaan yang gawat seperti sekarang ini ? Kata orang Medan, “buat apa lah bimas ?” (biar mati asal stand, rela mati demi gengsi). Satu sikap yang naif yang tidak mencerminkan sikap intelektual yang terpuji.

Pernyataan Kasad

Baru-baru ini sebelum peristiwa pengeboman terjadi, Kepala Staf TNI AD, Jendral TNI Riamizard Ryacudu menyatakan disela-sela pertemuan Para Kasad se- Asean. Beliau mengatakan, “untuk menanggulangi aksi terorisme yang menjadi musuh umat manusia, tidak tertutup kemungkinan dijalin kerjasama bilateral ataupun multilateral dengan Angkatan Darat Rusia”.

Rasanya perlu menanggapi ucapan ini dengan penuh keseriusan. Pasalnya selama ini banyak pihak terutama di negara-negara Islam yang sangat meragukan keberadaan Amerika Serikat, Inggeris dan Australia berkaitan dengan masalah terorisme. Bahkan ada sementara anggapan yang mengatakan bahwa pihak mana saja pun yang punya “hubungan baik” dengan Amerika, Inggeris dan Australia akan mengalami peristiwa pengeboman yang bertubi-tubi. Saudi Arabia misalnya, selama ini terkenal sebagai negara yang sangat aman. Namun, setelah negara ini bersekutu dengan Amerika dan mengizinkan adanya pangkalan militer AS di sana, mendadak tindak terorisme  dan bom demi bom serta tembak-menembak menjamur di sana. Hal yang sama juga dialami pula Pakistan, Afganistan dan Indonesia yang juga dianggap selalu takut dan tunduk pada keinginan Amerika. Sikap menghindarkan diri dari pertemanan dengan Amerika, Inggeris dan Australia telah diambil oleh negara Spanyol yang dengan tegas menarik pasukannya dari persekongkolan dengan AS di Iraq, segera setelah negaranya diguncang bom dahsyat. Hasilnya kini negara itu menjadi aman !

Sebaliknya, negara-negara yang tidak berteman dengan Amerika seperti Lybia, Cuba, China dan Korea Utara justru aman dari tindak terorisme dan pengeboman tersebut.

Dengan demikian, tegasnya pemerintah perlu menindak lanjuti ucapan Kasad ini bahkan ketingkat yang lebih tinggi lagi, yaitu menjauhkan diri dari “pertemanan” dengan Amerika, Inggeris dan Australia. Sikap ini tentu tidak boleh diartikan sebagai tanda setuju terhadap tindak terorisme !

Alasan kedua yang mesti memacu kehati-hatian kita adalah sikap Australia yang terlalu berlebihan dalam menyikapi masalah pengeboman di jalan Rasuna Said tersebut. Australia dengan serta-merta dan tanpa diminta oleh pemerintah Indonesia langsung mengirimkan menteri luar negerinya, Alexandre Downer dengan sembilan  orang ahli bomnya ke Jakarta. Padahal negara kita masih punya personil yang banyak untuk menangani masalah tersebut, apalagi pada peristiwa itu tidak ada satu orang Australia pun yang terkorban. Sikap ini selain dapat dinilai berlebihan dan menghina aparat serta melanggar kedaulatan negara kita, juga menyimpan misteri. Sepertinya, tersirat sedikit kecurigaan akan adanya “unsur rekayasa” dalam peristiwa ini. Seolah-olah “membuat jalan” untuk memberi peluang masuknya para intelijen Australia ke Indonesia. Apalagi mengingat sikap Australia yang kurang bersahabat dengan Indonesia selama ini. Lihatlah berita betapa ternyata rudal-rudal Australia mengarah ke segenap wilayah negara Indonesia. Belum lagi sikap “arogan militer” mereka dalam setiap latihan tempur yang dengan terang-terangan selalu mengibaratkan dan mengatakan “musuh datang dari Utara !”, menunjuk wilayah Indonesia. Seolah-olah negara kita ini adalah sumber datangnya serangan dan permusuhan ! Sangat berbeda dengan militer kita yang dalam latihan tempur selalu menyebut negara kiasan,dengan istilah, “musuh datang dari negara Rusa, negara Macan dll”.

Namun bagaimana pun, kesimpulannya terorisme adalah musuh semua orang dan semua bangsa. Oleh karena itu terorisme mesti dienyahkan dari dunia ini tanpa pandang bulu. Dan kita mesti bersatu padu bergandeng tangan serta mengerahkan segala daya dan upaya untuk membasminya. “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh…!.”

Share this post