Hilangnya Nurani Kini

 Negeri ini boleh merasa bangga sebagai sebuah bangsa yang besar dengan jumlah penduduk yang lebih dari 220 juta jiwa, serta memiliki tanah yang luas, lautan yang luas, hutan yang luas, ditaburi berbagai macam kekayaan flora dan fauna bahkan kandungan bumi yang melimpah dari emas sampai minyak.

Seharusnya, rakyat di negeri ini sudah merasakan nikmatnya kekayaan yang membuat iri negeri lain di dunia ini. Koes Plus pernah menggambarkan negeri nusantara sebagai “Jamrud Katulistiwa. Bukan lautan hanya kolam susu, kail dan jala cukup menghidupimu, tiada badai tiada topan kau temui, ikan dan udang menghampirimu. Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman”. Tapi apa kenyataannya? Berbagai topan telah datang menerjang dari yang kecil sampai yang paling besar yang bernama tsunami. Dia datang dan meluluh lantakkan bagian negeri ini bahkan yang berjuluk Serambi Makkah, dan merenggut ratusan ribu nyawa anak bangsa ini. Sedangkan rehabilitasi dan dana bantuan yang telah terkumpul tak jelas tersalur kemana.

Sudah matikah hati nurani bangsa ini? Baru-baru ini terbetik kabar bahwa dana bantuan untuk daerah yang ditimpa bencana justru dikorupsi oleh orang-orang terhormat yang duduk sebagai wakil rakyat di DPR sana. kenapa orang yang seharusnya mengayomi dan melindungi rakyatnya sampai tega hati mengkhianati rakyatnya sendiri. Bahkan lebih dari itu mereka sanggup menilep uang bantuan bencana alam. Mungkin memang hati nurani mereka telah mati. Mati karena gila dunia!

Nurani Kalangan Umat Beragama

Sore hari tanggal 9 September yang lalu penulis berjalan melewati Istana Presiden RI. Saat itu kelompok mahasiswa yang menamakan diri mereka “Aliansi untuk Kebebasan Beragama” yang terdiri dari GMKI Jakarta, PMKRI Jakarta, FH Universitas Kristen Indonesia, PMK STISIP Widuri, PMK Universitas Mpu Tantular, STT Duolos, STT Arastamar, KBM NTT, BK-PAK, Akper PGI Cikini, dan YAI. Mengadakan demostrasi untuk menolak SKB dua Menteri No. 01/BER/MEN-MAG/1969 dan meminta kepada pemerintah agar mencabut SKB tersebut dalam selebaran yang mereka buat dikatakan bahwa SKB tersebut bersikap diskriminatif dan menghancurkan kebebasan umat Kristen beribadah.

Benarkah SKB tersebut diskriminatif? Apakah memang umat Kristen tertekan dengan adanya SKB tersebut? Semua orang yang bisa membaca pasti dapat melihat adilnya SKB tersebut. Tidak ada diskriminasi dalam isi SKB yang menyudutkan pihak Kristen. Pengaturan pendirian rumah ibadah dan pelaksanaan dakwah dimana pun di dunia ini pasti diatur dan tidak boleh semau gue. Di Norwegia saja, negeri yang paling menghormati kebebasan, pendirian rumah ibadah juga diatur sedemikian rupa. Begitu juga dengan keberadaan dakwah. Di negeri Belanda, misalnya, aktifitas dakwah Islam di dalam Masjid masih harus dilaporkan lengkap dengan isi materi dakwah kepada pemerintah Belanda. Toh, umat Islam di sana tidak merasa terkekang. Bahkan mereka bisa memahami aturan yang berlaku itu.

Kalau di Indonesia aturan ini dianggap sebagai pengekangan oleh umat Kristen adalah suatu yang tidak masuk akal. Aturan yang diberlakukan justru membuat keadaan menjadi baik. Apalagi kebebasan yang absolut pasti menimbulkan banyak kerusakan. Seharusnya hati nurani dipakai dengan kejernihan iman. Bukan sebaliknya melakukan fitnah dan memutar-balikkan fakta. Kalau orang luar negeri mengatur umat Islam mereka mengatakan, “sudah selayaknya dakwah harus diatur”. Namun jika negeri sendiri mengatur dakwah agama mereka sebut sebagai sebuah pengekangan. Apakah hati nurani kita sudah hancur kini?

Kristen Protestan memiliki tidak kurang dari 700 sekte yang berbeda. Bayangkan jika setiap sekte bebas membangun dan memiliki Gereja tanpa aturan yang mengikat, bisa-bisa satu RW penuh dengan Gereja belaka. Jika saja nurani dipakai dengan kejernihan iman pasti sekte yang banyak bisa diperkecil dan kalau perlu dihilangkan. Bukankah yang dituju Tuhan sama, kitab yang dipakai pun kitab yang sama, aliran yang didalami pun aliran yang sama, yakni sama-sama Protestan. Kenapa tidak bisa bersatu? Jawabnya adalah nurani yang luntur!

Kini di luar negeri telah tersiar berita bahwa umat Islam Indonesia telah menghancurkan dan menutup Gereja-gereja secara paksa. Sebuah berita dusta yang sengaja disebar luaskan oleh orang-orang yang tidak punya nurani.

Ini baru masalah rasa. Belum lagi kasus korupsi dan manipulasi yang melibatkan tokoh-tokoh agama. Rasanya sesak dada ini melihat runtuhnya nurani justru di kalangan kaum beragama dan mereka yang sering membawa-bawa agama kemana-mana.

Pagar Makan Tanaman

Kerusakan nurani ternyata memang sudah sedemikian parahnya. Berbagai masalah yang bersumber dari penyakit nurani telah pun mencuat ke permukaan. Ada jaksa yang menangani kasus pidana narkoba justru bertindak sebagai agen dan pengedar narkoba. Begitu juga dengan oknum polisi, malah sudah memiliki pangkat sebagai Ajun Komisaris Besar (AKBP, yang sederajat dengan Letnan Kolonel dalam kalangan militer) juga tertangkap sebagai pengedar narkoba. Mereka-mereka ini seharusnya bertindak sebagai pagar anak bangsa dari kerusakan akibat narkoba yang durjana itu. Tetapi kenyataannya, mereka justru bertindak sebagai pagar makan tanaman, menangguk di air keruh, menggunting dalam lipatan. Benar-benar tidak punya nurani!

Belum lagi kasus Pertamina yang diamanatkan untuk mengelola kekayaan minyak dan gas bumi negara bagi kesejahteraan rakyat yang sedang terpuruk dalam kemiskinan lahir batin yang kronis. Sayangnya, oknum-oknum yang diamanati justru berlaku khianat. Bahkan mereka yang bertindak sebagai pengawas malah berlaku seperti bandit. Sialnya, penyeludupan BBM telah mereka lakukan selama bertahun-tahun dan merugikan negara lebih dari 8 triliun rupiah. Mustahil hal ini dilakukan sendirian. Pasti melibatkan oknum-oknum aparat keamanan dari berbagai instansi yang ada. Sebuah jaringan mafia yang canggih, bahkan sangat licik dengan memakai pipa bawah laut sepanjang 7 mil. Bukan main benar-benar tidak punya nurani sama sekali. Mereka sanggup menari-nari di tengah penderitaan anak bangsanya sendiri.

Lantas salahkah jika kemudian banyak pihak termasuk Presiden SBY meminta mereka dihukum dengan seberat-beratnya? Penulis malah ingin mengusulkan agar para pagar pemakan tanaman ini dihukum mati saja.

Mungkin mereka akan berkata, “Bah kejam sekali hukuman mati itu! Kemana hati nurani anda kok tidak kasihan terhadap kami ini. Bah bagaimana pula nurani bisa disebut-sebut oleh orang yang tidak punya nurani? Ada-ada saja amangoi!

Share this post