Pak Harto, Negarawan yang Sederhana

Sebagai seorang mantan presiden yang telah memimpin negeri ini selama 32 tahun, Pak Harto dapat dipastikan telah memberikan kenangan yang teramat banyak. Berjuta-juta orang mengakui telah memperoleh manfaat dari sepak terjang dan karya beliau selama itu. Ada yang berubah nasib dan naik martabatnya karena dana bantuan beasiswa dan mendapat pekerjaan yang layak, ada yang berubah ekonominya karena mendapat dana Bimas, dan yang jelas secara keseluruhan roda ekonomi berputar bahkan sampai mencapai pertumbuhan 8% per tahunnya, 3 kali lebih besar dari Bangladesh dan 2,5 kali lebih besar dari India. Dengan itu, negara ini sempat digelari sebagai “macan baru dari Asia” bergandengan dengan Korea Selatan.

Sayang seribu sayang, konspirasi asing dengan dana yang menggurita meruntuhkan ekonomi macan-macan baru Asia dengan hembusan krisis moneter yang dahsyat. Sejak itu pula Pak Harto harus berhenti dari jabatan presiden Republik Indonesia.

 

 

Pola Hidup Sederhana

Teramat sering ucapan “pola hidup sederhana” meluncur dari bibir beliau dalam setiap kunjungan ke daerah maupun pidato-pidatonya. Dan, ternyata memang ucapan ini tidak sekadar pemanis bibir belaka, akan tetapi telah menjadi sikap hidup pada diri beliau.

Kesederhanaan beliau terlihat dari jenis pakaian yang dipakai, bangunan dan bentuk rumah kediaman, makanan yang beliau makan sehari-hari, peralatan rumah tangga yang dipakai di kediamannya dan lain-lain dapat teramati secara nyata. Buatan dalam negeri dan bukan barang mewah.

Rumah beliau hanya sebuah rumah tua yang sederhana dan didiami semenjak beliau menjabat jabatan presiden RI. Bahkan begitu sederhananya sehingga bila dibandingakan dengan rumah salah seorang mantan Bupati Deli Serdang di Medan saja terlihat sangat berbeda, bagaikan siang dengan malam. Mengenai makanan, lebih mengejutkan lagi. Makanan yang sering terhidang di meja makan beliau adalah sayur gudeg, ikan bandeng goreng, rebus telur asin, petis dan beberapa macam lalapan plus sambal. Sedangkan buah-buahan pencuci mulut hampir tidak pernah terhidang buah impor seumpama apel dan anggur. Paling-paling pepaya, semangka dan sawuh. Mengejutkan bukan..? Kejadian ini bukan hanya sekali saja penulis saksikan dengan mata kepala sendiri, bahkan terkadang dengan beberapa teman yang sempat kami bawa bertemu dan makan semeja dengan beliau.

Sebagai tambahan yang dapat kita lihat adalah kesederhanaan beliau bahkan ketika menderita sakit yang parah. Kali ini beliau tetap memilih RSPP Jakarta untuk tempat berobat dan tetap pula memilih para dokter dari anak bangsanya sendiri. Padahal beliau dan anak-anak beliau pasti mampu memilih tempat berobat yang paling hebat meski tempatnya di ujung dunia sekalipun. Namun hal itu tidak terjadi. Sikap sederhana, mulia, bersahaja, dan menghormati kemampuan anak bangsanya, telah beliau tunjukkan. Sikap yang saat ini benar-benar sangat langka. Kini, banyak “pemimpin kecil” yang baru sekelas bupati saja sudah kelimpungan terbang ke Singapura atau Tokyo, bahkan hanya sekadar untuk berobat mata.

Penyabar dan Mencintai Rakyatnya

Ketika zaman Reformasi sedang membahana, dimana-mana orang sibuk mencaci, menista, memaki, bahkan menghina Pak Harto dan keluarga. Saat itu sikap kenegarawanan beliau muncul. Dengan legowo beliau mundur dan menyerahkan pucuk pimpinan negara kepada BJ Habibie, sesuai dengan konstitusi UUD 1945 pasal 6 ayat 1. Beliau tidak mau menggunakan kekerasan, padahal banyak organisasi pemuda, TNI/Polri yang tetap setia pada beliau. Segala hujatan dan makian pun tidak pernah dibalas sama sekali. Sikap diam dan pasrah diri benar-benar wujud pada diri beliau.

Pernah suatu hari seorang tamu dengan jengkel menyebut nama seseorang yang teramat getol menghujat di TV dan koran-koran pada kediaman Jalan Cendana. Beliau menanggapinya dengan tenang seraya berujar,”Biar saja…dia belum tahu bagaimana susahnya memimpin negara besar dengan penduduk yang beragam-ragam ini…!” Dan, memang terbukti setelah “sipenghujat” itu memegang salah satu jabatan pimpinan tinggi di negeri ini, ternyata orang itu cuma pandai bicara saja dan sama sekali tidak pandai berbuat seperti ucapannya. Sungguh kasihan…!

Kecintaan terhadap rakyat pun masih tetap tergambar pada ucapan beliau ketika menerima kunjungan Presiden SBY. Apa ucapan beliau? “Presiden, jangan lupa swasembada pangan…!” Begitu melekatnya keinginan beliau agar tidak ada rakyat yang lapar di negeri ini. Hebatnya ucapan itu muncul pada saat kondisi beliau dalam keadaan sangat lemah didera pendarahan usus yang parah. Satu hal lagi yang perlu dicatat, adalah jiwa kenegarawanannya yang kental. Tanpa rasa risih dan segan beliau memanggil SBY dengan ucapan,”Presiden”, padahal di tahun 1973 beliau lah yang menyematkan pin Adhi Makayasa ke dada SBY ketika lulus dari Akademi Militer.

Pemimpin yang besar adalah pemimpin yang mengerti keadaan rakyatnya…

Adapun mengenai segala kesalahan beliau, peribahasa Indonesia telah pun memberitahu kita. “tak ada gading yang tak retak..” artinya,”tidak ada pohon yang tak bergetah, walaupun birah dengan keladi, tak ada insan yang tak bersalah, kecuali rasul dengan nabi…!


(Tulisan ini telah dimuat di Tabloid STAR NEWS pada tahun 2005)

Share this post