RAMADHAN HARUSKAH RESTORAN DAN TEMPAT HIBURAN DITUTUP ?

Memasuki awal bulan Ramadhan ini, suasana dan gairah umat dalam beribadah sangat terasa peningkatannya. Dimana-mana masjid dipenuhi oleh kaum muslimin yang ingin beribadah merebut barokah, rahmat dan ridha Allah. Hal ini tentu tidak perlu diherankan, mengingat hampir 90 % rakyat Indonesia terdiri dari kaum muslimin.

Sebagai agama terakhir, Islam diturunkan untuk membawa rahmat bagi seluruh alam, bukan sebaliknya sebagai pembawa duka nestapa dan keonaran. Apalagi Nabi pernah berpesan kepada umatnya bahwa orang terbaik adalah orang yang paling banyak memberi manfaat kepada orang lain. Oleh karena itulah maka sebagai umat Islam kita harus benar-benar memahami ajaran Nabi yang murni untuk dipedomani dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga dengan demikian jadilah Islam benar-benar sebagai agama pembawa rahmat.

Ibadah puasa telah diwajibkan dalam Islam kepada seluruh umatnya yang baligh, berakal, mampu melakukannya dan tidak sedang terlarang mengerjakan puasa itu. Apapun alasannya yang jelas ibadah puasa telah tercantum sebagai salah satu rukun Islam.

Sebenarnya puasa bukanlah sebuah ibadah yang baru bagi umat manusia. Artinya, jauh sebelum Nabi Muhammad diutuskan ke dunia, ibadah puasa telahpun menjadi kewajiban bagi umat-umat sebelumnya. Nabi Dawud dan umatnya adalah pengamal puasa paling berat dalam sejarah manusia. Mereka mengerjakan puasa berkelang hari sepanjang tahun. Demikian juga dengan Nabi Musa, beliau dan umatnya diwajibkan berpuasa selama 40 hari 40 malam dalam setiap tahunnya. Jelasnya, ibadah puasa adalah hal yang umum bagi kehidupan manusia yang beragama.

Dalam Islam, Allah Swt. memerintahkan kewajiban berpuasa ini didalam Al Qur-an surat Al Baqarah ayat 183: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkannya berpuasa terhadap orang-orang sebelum kamu. Mudah-mudahan kamu bertakwa

Kenapa Restoran Harus Ditutup?

Telah berkembang di tengah-tengah umat Islam Indonesia suatu anggapan bahwa seluruh restoran harus ditutup di siang hari selama bulan Ramadhan. Ada yang memintanya dengan cara yang halus sekedar menghimbau. Tetapi, ada juga yang  bersikap ‘memaksa’ agar seluruh restoran ditutup saja.

Benarkah ajaran Islam seperti itu? Benarkah selama bulan Ramadhan restoran ‘haram’ dibuka di siang hari?

Sebenarnya di dalam Al Qur-an dan hadist Nabi, masalah ini telah diatur sedemikian rupa. Hanya saja jarang kaum muslimin yang mengetahuinya dengan baik dan benar. Pasalnya, selama ini kita telah terbiasa dibentuk (bahkan oleh para kiai) untuk menuntut apa yang menjadi hak-hak kita. Padahal menuntut hak bukanlah sebuah kewajiban. Artinya, tidak berdosa seseorang itu jika bagian yang menjadi haknya tidak diambilnya. Malah yang paling penting seharusnya menunaikan apa yang menjadi kewajiban kita, bukan mengutamakan penuntutan hak.

Telah nyata di dalam Al Qur-an ada 4 jenis kelompok manusia yang boleh tidak berpuasa, alias makan dan minum di siang hari bulan Ramadhan. Mereka itu adalah: orang non-Islam, orang sakit, orang musafir dan orang-orang yang lemah (karena jompo atau sakit menahun). Orang non-Islam jelas tidak dipanggil untuk melaksanakan ibadah puasa. Berarti mereka diizinkan untuk makan dan minum di siang hari bulan Ramadhan. Adapun orang sakit dan musafir, mereka boleh makan dan minum karena meninggalkan puasa dengan syarat menggantinya kelak setelah sembuh atau kembali ke tempatnya. Sedangkan orang yang lemah, mereka cukup membayar fidyah dengan memberi makan 1 orang miskin untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan.

Adapun dalam hadist ada 6 jenis kelompok manusia yang boleh meninggalkan puasa: wanita haid, wanita yang sedang nifas, menyusui, hamil, anak-anak dan orang gila. Berarti total ada sepuluh kelompok yang diizinkan Allah untuk makan dan minum di siang hari bulan Ramadhan. Inilah ajaran Islam yang benar! Seandainya di bulan Ramadhan seluruh restoran dipaksa tutup semuanya, kemanakah kesepuluh kelompok ini makan siang? Bukankah selama ini mereka biasa makan dan minum di restoran?

Kalau Allah saja memperbolehkan sepuluh kelompok manusia ini makan dan minum, kenapa ada orang yang mengaku hambanya Allah malah menghalangi mereka makan dengan menutup restoran..?! Jelas ini adalah sebuah kekeliruan pemahaman agama yang harus diluruskan dengan segera.

Ada orang berkata bahwa memberi makan dan minum manusia disiang hari bulan Ramadhan adalah sebuah dosa. Ini juga sebuah kekeliruan lagi. Seharusnya melayani orang yang diizinkan Allah untuk tidak berpuasa dan menikmati makan dan minum justru menjadi sebuah pahala. Karena berkhidmat kepada mereka adalah sesuatu yang halal dan terpuji.

Mungkin muncul sebuah kekhawatiran bahwa apabila restoran dibuka di siang hari Ramadhan maka akan banyak orang-orang yang seharusnya wajib berpuasa, tetapi memiliki iman yang lemah, justru akan memanfaatkannya untuk bolos puasa. Andaikata pun ini benar, apakah layak jika gara-gara mereka yang lemah iman itu, lantas semua orang yang diizinkan Allah untuk tidak berpuasa mesti menanggung penderitaan lapar dan haus...? Tindakan ini jelas tidak manusiawi, kalau tidak mau dikatakan zalim!.

Seharusnya, kita dapat mengambil jalan tengah yaitu dengan menulis di pintu masuk restoran pada bulan puasa ini sebuah tulisan yang berbunyi: ”Khusus Buka Untuk Orang Non-Islam dan Yang Uzur Saja!!”, tanpa harus menutup restorannya.

Sedangkan agar tidak mengganggu kaum muslimin yang berpuasa, restoran dapat saja memasang tabir kain untuk menutupi keadaan di dalamnya. Sementara, mereka yang berpuasa janganlah mendatangi restoran di siang hari. Sebab restoran bukan tempat untuk orang yang sedang berpuasa.

Dengan cara ini, para karyawan dan pengusaha masih tetap bisa mendapatkan gaji dan bonus lebaran secara halal dan patut sesuai dengan ajaran agama yang benar.  Tidak seperti selama ini, restoran dipaksa tutup sehingga jangankan mendapat bonus hari raya sebesar sebulan gaji, bahkan untuk mendapatkan gaji sebulan seperti biasanya saja mereka hampir-hampir putus harapan.

Tempat Hiburan

Idealnya dalam Islam seluruh tempat hiburan mesti dihindari oleh semua kaum muslimin. Mungkin saja tempat hiburan itu tidak maksiat, akan tetapi setidaknya membawa kepada kelalaian. Sebaliknya, bagi orang non-Islam tempat hiburan itu jelas merupakan sebuah kebutuhan. Di sanalah mereka mendapatkan ketenangan dalam hidup ini.

Sayangnya, secara kenyataan hampir semua tempat hiburan di Indonesia justru dipenuhi oleh orang-orang Islam sendiri. Mulai dari karyawan, penghibur, manajer bahkan pemilik tempat hiburan itu kebanyakan adalah kaum muslimin.

Ada beberapa hal yang perlu dicermati. 1. tidaklah semua tempat hiburan itu maksiat. 2. Para karyawannya kebanyakan terdiri dari kaum muslimin.

Jika tempat hiburan itu menyerempet maksiat seperti panti pijat, diskotik, dan karaoke, maka sudah jelas seluruh kaum muslimin wajib menghindarinya. Namun, tidak serta merta kita dapat melarang orang non-Islam untuk menikmati tempat hiburan tersebut. Bagi mereka tempat seperti itu bukan tempat maksiat. Bahkan jika mereka menikmati tempat seperti itu dengan segala macam minuman kerasnya sekalipun, tetap saja itu bukan maksiat bagi mereka. Pasalnya, ada satu suku bangsa yang meyakini akan mendapat pahala dari dewanya jika mereka mabuk atau bermain judi. Dalam keyakinan mereka ada Dewa Mabok dan Dewa Judi di langit sana yang akan memberi mereka pahala atas perbuatannya itu. Terus, kenapa kita orang Islam harus ikut campur atas keyakinan mereka itu.

Islam jelas telah menggariskan agar umatnya tidak memaksa umat lain untuk mengamalkan ajaran Islam. Lakum dinukum waliyadin (bagimu agamamu dan bagiku agamaku) demikian Al Qur-an mengatakan. Kalau begitu, sebenarnya tempat hiburan sejenis itu seharusnya boleh saja buka kapanpun juga, asal saja kaum muslimin tidak mendatanginya. Jelasnya, kalau mau gentleman, seharusnya pemeriksaan KTP dapat dilakukan di pintu masuk tempat hiburan sejenis itu. Kemudian semua orang yang beragama Islam dilarang masuk. Dan, hanya orang non-Islam saja yang diizinkan masuk. Dengan demikian kita telah mengatur umat kita untuk mentaati ajaran agamanya, tanpa harus memaksa orang lain mengikuti ajaran agama kita. Hal ini telah pun dilakukan di Malaysia, salah satu negara Melayu di Asia Tenggara ini. Apa salahnya jika kita meniru mereka?

Sebuah Dilema

Banyak para pekerja di tempat hiburan malam terdiri dari kaum muslimin. Mereka bekerja disana untuk mendapatkan sekedar gaji bagi keperluan makan dan biaya anak sekolah. Sebagian mereka ada yang menikmati pekerjaan disana karena kelemahan iman. Sementara sebagian yang lain menderita karena keterpaksaan.

Lantas apa upaya kita sebagai sesama kaum muslimin?

Sebagian kita tidak mau tahu posisi dan keberadaan mereka. Malah berbagai macam cacian dilontarkan untuk menghina mereka. Padahal Allah memerintahkan kita untuk saling sholeh mensholehkan sesama muslim yang bersaudara ini.

Mereka yang menikmati bekerja disana jelas memiliki iman yang lemah. Namun, seberapa besarkah usaha yang telah kita buat untuk menarik dan menyadarkan mereka dari ‘dunia’ sana?

Telah terbukti bahwa usaha dakwah yang dilakukan secara lemah lembut melalui jalur: uswatun hasanah (contoh yang baik), qoulun ma’ruf (kata-kata yang baik dan lemah lembut), sodaqoh aw hadiah (memberi sedekah dan hadiah), dan do’a mampu menukar seseorang menjadi muslim yang lebih baik. Artinya, tidaklah dakwah itu selalu hanya dengan kata-kata atau khutbah, seperti yang selama ini lebih diutamakan. Sering dakwah yang mengutamakan contoh teladan dan sokongan materi melalui sedekah dan hadiah lebih membekas dan berhasil.

Kita boleh saja keberatan dengan mereka kaum muslimin yang bekerja di tempat yang menyerempet maksiat tersebut. Akan tetapi, apa yang telah kita perbuat untuk menolong mereka? Ada sebagian kita dengan lantang memaksa semua tempat hiburan itu ditutup, khususnya di bulan Ramadhan yang suci ini. Lantas terpikirkah mereka terhadap nasib para pekerja yang jelas-jelas akan kehilangan gaji satu bulan dan bonus lebaran. Kemudian berhari rayalah para pekerja itu dengan segenap keluarga tanpa uang gaji dan bonus yang diharapkan. Nasib malang yang seharusnya mendapat simpati dari kaum muslimin.

Memang pekerjaan mereka boleh jadi kurang ideal menurut ukuran agama. Namun disisi lain, pekerjaan yang lebih baik pun tidak pernah kita tawarkan kepada mereka. Padahal jaringan umat Islam di Indonesia sangat besar, karena 90 % penduduk Indonesia beragama Islam. Misalnya saja, pembantu rumah tangga. Masih banyak kaum muslimin yang kaya tega-teganya menggaji pembantunya sebesar 150 ribu sebulan dengan beban semua pekerjaan rumah tangga harus beres. Coba saja seandainya gaji mereka satu juta rupiah sebulan (yang sebenarnya sangat ringan bagi orang kaya), mungkin banyak orang Islam yang lebih memilih menjadi pembantu rumah tangga daripada harus bekerja di tempat hiburan malam.

Maukah para ulama yang selama ini keras menyerang keberadaan hiburan malam serta menuntut agar semuanya ditutup di bulan suci ini menyantuni para pekerja muslim yang kehilangan gaji mereka di tempat itu? Bukankah bulan suci ini bulan ‘panen-nya’ para ulama? Beranikah para ulama menyisihkan sepersepuluh harta mereka mengganti gaji ‘korban fatwa’ ulama tersebut? Kami khawatir jika tidak demikian akan banyak sekali kaum muslimin yang lemah iman semakin membenci para ulama dan bukan mustahil mereka akan murtad karena menganggap diperlakukan secara tidak adil dan luput dari perhatian sesama kaum muslimin.

Semoga saja bulan suci ini membawa berkah bukan membawa resah. Selamat melaksanakan ibadah Puasa dan menjadi orang terbaik di muka bumi ini.

Share this post