Sholat 'Ied Menggusur Sholat Jum'at?

Beberapa tahun belakangan ini telah terjadi dua hari Raya pada diri kaum muslimin, khususnya di Indonesia. Disebut  ‘Dua Hari Raya’, karena hari Ied bertepatan jatuh pada hari Jum’at.

Segelintir kecil orang Islam di negeri ini mempercepat hari Raya mereka dengan alasan tidak boleh ada dua khutbah dalam sehari, segelintir lagi sengaja memperlambat hari Raya-nya dengan menambahkan puasa Ramadhan mereka sehari lagi. Alasannya sama yakni tidak boleh ada dua khutbah pada hari yang sama. Segelintir lagi, ada pula yang sengaja tidak sholat jum’at berjamaah, dan hanya mengerjakan sholat dzuhur saja di rumah masing-masing, dengan alasan jika lebaran jatuh hari jum’at, maka cukup sholat Idul Fitri/Idul Adha dikerjakan secara berjamaah, kemudian kewajiban jum’at mereka sudah gugur karenanya. Sehingga cukup bagi mereka memilih antara sholat dzuhur atau sholat Jum’at. Bagi mereka hari itu sholat Jum’at tidak wajib lagi, karena telah melakukan sholat Ied.

Benarkah demikian…..?

Hukum Sholat Jum'at

Sholat Jum’at hukumnya wajib atas setiap laki-laki mukmin yang merdeka, telah baligh dan sehat (tidak sakit). Hal ini berdasarkan hadis nabi dari Thariq bin Syihab Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi telah bersabda: “Sholat jum’at merupakan hak dan wajib atas setiap orang Islam, dilakukan secara berjama’ah, kecuali empat orang (yang boleh tidak melaksanakan sholat jum’at) yaitu hamba sahaya, wanita, anak-anak, dan orang sakit”. (HR. Imam Abu Dawud, Shohih). Keterangan: hadis ini diberi catatan oleh Imam Abu Dawud, bahwa Thariq bin Syihab melihat nabi namun tidak mendengar apa-apa dari nabi. Berarti hadis ini mursal sahabat. Hadis mursal sahabat dalam madzhab Syafi’i terpakai sebagai hujjah. Dan seluruh ulama Syafi’i sepakat tentang hal ini, kecuali Abu Ishaq al Asfaraini. (lihat Majmu’ Syarah Muhadzdzab, Imam Nawawi jilid ke-5 halaman 620 - 621).

Dalam hadis yang lain dari Hafsah Radhiyallahu ‘anha Nabi telah bersabda: “Menghadiri Sholat jum’at hukumnya wajib atas setiap orang Islam yang telah baligh.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah, dan An-Nasa’i, Shohih).

Berkata Qadhi Abu Ishaq al Marazi: tidak ada perbedaan pendapat dalam mazhab Syafi’i bahwa hukum sholat jum’at adalah fardhu ‘ain. Dinukilkan oleh Ibnu Munzir dalam kitabnya Kitabul Ijma’ wa Kitabul Asyraf: Telah sepakat seluruh kaum muslimin bahwa sholat jum’at itu hukumnya wajib. Sementara Imam Ghazali menyatakan sesungguhnya sholat jum’at telah di fardhukan di Mekah sebelum nabi berhijrah ke Madinah (lihat Majmu’ Syarah Muhadzdzab, Imam An Nawawi jilid V halaman 622).

Dari keterangan di atas jelaslah bagi kita bahwa hukum sholat jum’at itu adalah wajib bahkan di dalam mazhab Syafi’i hukumnya adalah fardhu ‘ain.

Hukum Sholat Ied

Dalam mazhab Syafi’i, Imam Syafi’i dan seluruh sahabat-sahabatnya sepakat bahwa hukum sholat Idul Fitri adalah sunat adanya. Seluruh kaum muslimin sepakat bahwa sholat Ied disyariatkan dalam Islam dan hukumnya bukan fardhu ‘ain. Dalil akan hal ini adalah sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Thalhah bin Ubaidillah Radhiyallahu ‘anhu: “ Ada seorang lelaki datang kepada nabi bertanya tentang Islam. Maka nabi menjawab: “Sholat lima waktu yang telah diwajibkan Allah atas setiap hambanya”. Kemudian laki-laki itu bertanya lagi: Apakah ada tambahan atas ku selain sholat lima waktu itu? Nabi menjawab: “tidak ada tambahan bagimu kecuali sholat-sholat sunat saja”. (HR. Bukhari Muslim).

Imam Nawawi mengatakan bahwa sholat Ied hukumnya sunnat Muakkad dalam mazhab Syafi’i, demikian juga dalam mazhab Maliki dan Mazhab Hanafi serta jumhur ulama. (lihat Majmu’ Syarah Muhadzdzab, jilid VI halaman 52- 53).

Dari keterangan-keterangan di atas jelaslah bagi kita bahwa sholat Idul Fitri dan Idul Adha hukumnya sunnat muakkad, sedangkan sholat jum’at hukumnya fardhu ‘ain. Dengan demikian mustahil sebuah amalan yang sunat dapat menggusur amalan yang wajib. Kaum muslimin khususnya pengikut mazhab Syafi’i mesti berhati-hati dan tetap menjaga kewajiban sholat jum’at, jika terjadi hari raya pada hari jum’at. Jangan terpedaya oleh pendapat-pendapat yang tidak berdasar, di mana akhir-akhir ini mulai tumbuh menjamur di negeri Indonesia tercinta. Saya melihat pendapat yang mengatakan ‘tidak perlu sholat jum’at lagi di hari raya’ berasal dari ajaran yang berhembus dari Saudi Arabia, negeri yang banyak mengeluarkan fatwa yang ganjil-ganjil dan banyak bertentangan dengan madzhab Imam Syafi’i!

Keringanan Meninggalkan Sholat Jum’at Di Hari Raya

Dalam Islam Idul Fitri dan Idul Adha disebut hari raya. Orang Indonesia menyebutnya Lebaran dalam bahasa Arab dikenal dengan sebutan Ied.

Pada zaman Rasulullah memang pernah terjadi Ied (yakni hari raya) jatuh pada hari jum’at. Pada saat itu nabi telah berkuthbah dan  mengizinkan sebagian kaum muslimin untuk meninggalkan jum’at bila mereka mau meninggalkannya, namun juga, beliau mengizinkan mereka untuk tetap duduk menunggu sholat jum’at bila mereka mau. ( Tetapi perlu penjelasan yang lengkap atas syarah hadis tersebut, karena hadis ini tidak sederhana pengertiannya ).

Dalam kitab Al Um Imam As Syafi’i Rahimahullahu Ta’ala menjelaskan sebuah hadis: Dikabarkan kepada kami oleh Ibrahim bin Ahmad yang mengatakan dikabarkan kepada kami oleh Ibrahim bin ‘Uqbah dari Umar bin Abdul Aziz r.a yang mengatakan: “Telah berkumpul dua hari raya (yaitu hari Ied dan hari Jum’at) pada masa Rasulullah, lalu nabi bersabda: “Barangsiapa yang mau duduk (tetap berada di Madina menunggu jum’at) bagi penduduk perbukitan, maka hendaklah dia duduk menunggu jum’at tanpa memberatkannya.

Telah terjadi pada zaman Khalifah Ustman bin Affan Ra. dan telah diriwayatkan dalam sebuah atsar: Imam Syafi’i meriwayatkan dari Imam Maliki, dari Ibnu Syihab, dari Abi Ubaid – bekas budaknya Ibnu Azhar -, r.a yang mengatakan : Saya hadir pada sholat hari Raya bersama Usman bin Affan r.a, kemudian beliau datang melaksanakan sholat kemudian berkhutbah : Pada hari ini telah berkumpul pada kalian dua hari Raya, (Jum’at dan Ied), maka barang siapa di antara penduduk perbukitan luar kota yang suka menunggu pelaksanaan Jum’at, hendaklah dia menunggu Jum’at itu. Dan, siapa yang mau pulang kampung (tidak mau menunggu Jum’at), maka pulanglah! Saya telah pun mengizinkannya untuk pulang. (Lihat keterangan dalam Kitab Al-Umm, Imam Syafi’i, Jilid I, halaman 274)

Dari hadis-hadis  di atas perlu ditegaskan bahwa yang diperbolehkan memilih untuk tidak melaksanakan sholat Jum’at pada hari Ied itu hanyalah penduduk perbukitan di luar kota Madinah, yang datang untuk ikut sholat Hari Raya bersama nabi dan penduduk Madinah, dua kali dalam setahun saja. Sedangkan di kampung mereka tidak ada dilaksanakan sholat Jum’at, karena sepi dan sedikitnya rumah-rumah di dusun mereka itu. Jika mereka mau pulang segera setelah melaksanakan sholat Hari Raya di Madinah, maka mereka diizinkan untuk pulang tanpa harus menunggu dan melaksanakan sholat Jum’at, yang mana sholat Jum’at itu wajib ditegakkan di Madinah, namun tidak wajib di dusun mereka.

Sekarang ini pun, jika orang-orang yang mudik ke kampung halaman mereka, pada Hari Raya Lebaran atau Lebaran Haji, maka jika bertepatan jatuh pada hari Jum’at, mereka, para pemudik itu,  boleh memilih untuk sholat Jum’at atau meninggalkan Jum’at. Hal ini bukan karena sholat Jum’at sudah tergusur menjadi tidak wajib lagi hukumnya, tetapi tidak lain adalah karena mereka sedang dalam keadaan musafir. Dan, orang musafir memang tidak wajib sholat Jum’at. Adapun penduduk kota atau kampung, yang tidak sedang bermusafir, tentu mereka tetap wajib melaksanakan sholat Jum’at walaupun hari Jum’at itu bersamaan dengan hari Ied. Dalam Islam, menurut kaedah ushul, sangat mustahil bila sebuah amalan yang hukumnya sunat dapat menyebabkan tergusurnya sebuah amalan yang hukumnya wajib….!. Dalam hal ini, sholat Ied hukumnya sunat, bagaimana bisa menggusur sholat Jum’at yang hukumnya wajib….?

Perlu dicatat bahwa tidak ada diriwayatkan ketika terjadi Hari Raya pada Hari Jum’at, kemudian nabi tidak datang sholat Jum’at. Beliau tetap datang sholat Jum'at!. Demikian juga Bilal beliau tetap adzan Jum’at, dan tidak tidur-tiduran meninggalkan Jum’at. Begitu juga para Sahabat pilihan yang dijamin masuk Surga selagi masih hidup, mereka semua tetap sholat Jum’at. Bahkan seluruh Sahabat Radhiyallahu ‘anhum Ajma’in yang tinggal di kota Madinah dan Mekkah semuanya hadir sholat Jum’at. Tidak ada di antara mereka yang tidur-tiduran atau bermalas-malasan serta membolos sholat Jum’at. Yang ada tidak datang sholat Jum'at  adalah penduduk dusun-dusun di perbukitan yang mana selama ini pun mereka tidak sholat Jum’at karena sedikitnya jumlah rumah di dusun itu. Sebahagian mereka ada yang menunggu sholat Jum'at di Madinah, sedangkan sebahagian lagi ada yang pulang ke kampung halaman mereka setelah sholat Ied bersama nabi di hari Raya itu.

Lantas apakah kita lebih memilih membolos sholat Jum’at pada Hari Raya itu….?

Mau ikut Nabi dan para Sahabat, atau ikut nafsu sesa'at ……? Semoga keterangan ini dapat menjadi pelita bagi umat Islam yang kebingungan menghadapi terpaan ajaran-ajaran baru yang menyesatkan. Amin…….!

Wallahu A’lam bishshowab

Share this post