Syair dan Lagu

Secara umum nyanyian adalah perpaduan antara syair dan nada. Kalaulah sebuah syair dibacakan dengan nada seperti orang membaca sebuah buku atau sajak, maka tidaklah dia dinamakan bernyanyi. Bernyanyi adalah mengeluarkan suara yang di dalamnya terdapat nada-nada tertentu yang tersusun, seiring dengan itu dilekatkanlah nada-nada tersebut pada syair. Maka jadilah dia sebuah nyanyian.

Bila sebuah nyanyian disampaikan dengan suara yang merdu, disebutlah dia nyanyian yang merdu. Tetapi apabila sebuah nyanyian disampaikan dengan suara yang sumbang, disebutlah dia nyanyian yang sumbang/buruk.

Suara yang merdu adalah anugerah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

Artinya: “Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak mengutus seorang Nabi melainkan pasti suaranya bagus” (HR. Tirmidzi)

Suara yang merdu itu dapat berpengaruh kepada jiwa makhluk hidup.

Kalaulah tidak demikian, bagaimana seorang anak dapat diam dari tangisannya ketika mendengar suara sang ibu mendendangkan sebuah lagu kepadanya. Itulah sebabnya sejak zaman purbakala sampai zaman modern ini manusia mengenal banyak jenis nyanyian. Ada lagu perjuangan, ada pula lagu peperangan, ada lagi yang disebut lagu perkawinan. Lagu penidur anak di daerah Melayu disebut lagu dodoy, di Eropa disebut lullaby dan lain-lain. Kadangkala lagu penidur anak ini dengan syair, tetapi kadang kala tanpa syair. Di negeri Aceh Darussalam, orang-orang disana menidurkan anak mereka dengan menyanyikan syair-syair yang menanamkan keimanan, seperti:

Laa ilaaha illallah kafe’ musuh Islam.

Laa ilaaha illallah kafe’ musuh Allah. (kafe’ – kafir)

Suatu hari, ketika kami (penulis) sedang berada di sebuah kampung yang sepi, di negara Bangladesh, ada seorang ayah yang memakai baju tersangat buruk. Beliau sedang menidurkan anaknya pada sebuah ayunan kain di bawah sebuah pohon yang rindang. Ketika itu musim panas. Sang ayah bernyanyi dengan suara yang merdu.

Kami, penulis ini, sejenak terpesona dengan alunan lagu dan syair yang dinyanyikan oleh ayah anak itu. Sayang hanya satu bait yang sempat kami catatkan. Namun nada dan syair lagu itu sampai sekarang masih terhafal  dan membekas dengan baik di dalam benak kami.

Bunyinya begini :

Duniate nao ka dayya,

Akhirate kandayyona…

Duniate nao ka dayya,

Jahanname kandayyona…

(Dunia ini adalah tempat menangis, biarlah kita menangis di dunia asalkan jangan menangis di akhirat. Dunia ini memang tempat menangis, biarlah kita menangis di dunia asal jangan menangis lagi di neraka jahannam…).

Sebenarnya lagu dan syair itu telah ada pada setiap bangsa di dunia ini di segala zaman. Rasanya mustahil memusnahkan lagu dan syair dari kehidupan manusia yang beradab. Mungkin itulah sebabnya kenapa Baginda Rasul tidak mengharamkan dan tidak memusnahkan keduanya dalam syari’at agama yang Beliau bawa.

Di dalam tilawah Al Qur’an, sunnat hukumnya menggunakan suara yang merdu. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah memuji Abu Musa al- Asy’ari, ketika beliau membaca Al Qur’an, “Sesungguhnya telah diberikan kepadanya seruling dari seruling-seruling keluarga Daud” (HR. Bukhari).

Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wasallam bersabda, artinya: “Bukanlah golongan kami orang yang tidak melagukan Al Qur’an

Adapun, mendengarkan suara yang bagus pada selain tilawah Al Qur’an di dalam syari’at Islam hukumnya mubah. Kalaulah tidak demikian adanya, niscaya menjadi haramlah juga mendengarkan suara kicau burung murai atau perkutut yang merdu.

Meskipun demikian, jika mendengarkan suara-suara yang merdu itu menyebabkan hati menjadi lalai dari mengingati Allah, maka bukan dari segi mendengarkannya itu yang diharamkan, akan tetapi adalah dari hal yang membuat lalainya itulah yang haram. Allah berfirman: “(Dan orang-orang yang beriman yang memperoleh kemenangan itu adalah) orang-orang yang meninggalkan sesuatu (perbuatan dan perkataan) yang sia-sia”. (QS. Al Mu’minun: 3)

Kedudukan syair pada zaman Baginda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

Syair telah pun masyhur sejak zaman sebelum kedatangan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Dan terus tumbuh subur sampai ke zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Imam Syafi’i mengatakan: “Syair itu adalah ucapan dari manusia, maka yang baik daripadanya dinilai baik. Dan yang buruk daripadanya dinilai buruk”.

Maka sebagaimana bolehnya mengucapkan syair tanpa nada dan suara yang merdu, tentu boleh pula mengucapkan syair dengan suara yang merdu dan bernada. Karena pada dasarnya boleh juga.

Adalah telah sampai berita dalam riwayat Bukhari dan Muslim bahwa banyak diantara para sahabat telah menyanyikan syair di hadapan Baginda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasalla . Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda: “Sesungguhnya pada syair itu ada terdapat hikmah”.

Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata, “Ketika Rasulullah tiba di Madinah, lalu Abu Bakar dan Bilal Radhiyallahu ‘anhuma sakit demam. Dan di Madinah ketika itu berjangkit penyakit kolera, maka aku (Aisyah) berkata: “Wahai Ayahku bagaimana perasaanmu sekarang ? Dan wahai Bilal bagaimana perasaanmu sekarang ?” maka Abu Bakar bermadah dengan sebuah syair: “Semua manusia, pagi-pagi berada pada keluarganya, dan mati itu adalah, lebih dekat dari tali sendalnya…” Adapun Bilal ketika sembuh dari demamnya, dia mengangkat suaranya seraya bersyair pula: “Adakah tidak kiranya ingatanku, ketika aku bermalam pada suatu malam, di sebuah lembah, sedang sekelilingku tumbuh rumput hijau yang pendek-pendek ? Adakah pada suatu hari aku mengambil air di Mijannah? Adakah terang bagiku air Syammah  dan air Tufail…? (HR. Imam Bukhari dan Muslim).

Juga ada diriwayatkan ketika Baginda Rasul dan para sahabat tengah menggali parit untuk persiapan perang Khandaq ketika itu Baginda bersyair:

Artinya: “Wahai Tuhanku tidak ada kehidupan yang senang kecuali di akhirat. Maka ampunilah orang-orang Anshar dan Muhajirin. Kemudian para Sahabat menjawab: “Kamilah yang menyokong Nabi Muhammad untuk berjihad sepanjang hayat”.  (HR. Bukhari Muslim)

Pada suatu hari Baginda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam meletakkan sebuah mimbar di dalam Masjid, khusus untuk Hassan bin Tsabit, yaitu seorang penyair ulung ketika itu. Hassan berdiri memuji dan membela Rasulullah dari serangan syair orang-orang kafir. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menguatkan Hassan dengan Ruhul Qudus, tentang apa yang dipertahankannya atau yang dipujikannya mengenai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (HR. Bukhari, Abu Daud, Tirmidzi dan Hakim).

Kelak di suatu hari di zaman Sayyidina Umar bin Khattab, Hassan bin Tsabit ini, pernah menyanyikan beberapa kuntum syair di dalam Masjid Nabi. Dan sang khalifah ketika itu terlihat tidak senang kepadanya atas perbuatannya itu. Maka Hassan menjawab, “Wahai Amirul mu’minin, sesungguhnya aku pernah melakukan hal yang sama di zaman orang yang kedudukannya lebih baik daripada kamu

Ada lagi satu riwayat dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, “Adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bernyanyi-nyanyi beberapa kuntum syair di sisi Rasulullah, dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tersenyum kepada mereka.” (HR. Tirmidzi)

Dari Amr bin Asy-Syuraid, dari bapaknya dimana bapaknya telah menerangkan: “Aku telah menyanyikan seratus kuntum syair di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, hasil gubahan Ummiyah bin Abish-Shult. Kesemua syair tersebut telah disambut oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan ucapan: “Lagi… lagi, tambahkan lagi…!!

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyambung: “Hampirlah Ummiyah itu menjadi Islam dalam syair-syairnya” (HR. Muslim).

Yang paling masyhur mengenai nyanyian ini adalah riwayat yang menceritakan bahwa para wanita Madinah naik ke atas rumah-rumah mereka serta memukul rebana dan bernyanyi untuk menyambut kedatangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

Thala ‘al badru ‘alayna Min tsaniyyatil wada’
Wajaba syukru ‘alayna Mada’a lillahi da’

Artinya:    “Telah terbit purnama raya pada kami, dari bukit Tsaniyyatil Wada’ (Makkah) , wajiblah kami bersyukur, apa yang diserukan oleh Penyeru (Rasulullah)  kepada Allah”. (HR. Bukhari Muslim).

Inilah mungkin satu-satunya nyanyian tertua yang masih populer diingat, dihafal, diajarkan, dan dinyanyikan sampai tahun 2011 sekarang ini….! Hal ini banyak tidak diketahui oleh kaum muslimin sehingga mereka menganggap syair “Thala’al Badru” ini hanya dikarang-karang orang akhir zaman alias amalan bid’ah. Padahal syair ini adalah hadis shohih riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim. Mengherankan, bukan….?

Hukum Mendengar Nyanyian dan Syair

Sebenarnya mendengarkan nyanyian dari syair yang baik dan tidak ma’siat (seperti syair-syair porno, yang membangkitkan gairah seksual, atau yang menjauhkan pendengarnya dari agama) hukumnya mubah saja, tidak haram. Akan tetapi, sesuatu yang mubah, tetap saja tidak dapat disamakan derajatnya dengan mendengarkan lantunan ayat-ayat suci Al Qur’an yang merdu. Mendengarkan tilawah Al Qur’an hukumnya sunnat dan diberi pahala atasnya, sedangkan mendengarkan nyanyian hanya mubah saja dan tidak diberi pahala apa-apa.  Lain persoalan jika syairnya adalah sholawat-sholawat atas nabi, tentu saja pelantunnya akan mendapat sepuluh pahala untuk setiap sholawat yang dilagukannya…..

Kesimpulannya, perbuatan yang mubah itu tidak boleh dilarang keberadaannya. Bagaimana kita dapat melarang orang untuk makan nasi, minum teh, tidur, bertamasya, naik mobil dan lain-lain yang hukumnya mubah…?

Kecuali, jika ada seseorang yang siang dan malam kerjanya asyik menyanyi saja… atau makan saja… atau tidur saja… atau tamasya saja…Yang terlarang itu bukan nyanyi-nya, bukan makan-nya, bukan tidur-nya, bukan tamasya-nya. Akan tetapi, pakai “saja” nya itu yang dilarang; tidur saja.., makan saja..., nyanyi saja… tamasya saja.....

Wallahu ‘Alam Bishshowab

Share this post