Kenapa Makan Babi Haram

Assalamu ‘alaikum, Pak Ustad

Saya mau banya kenapa babi itu diharamkan, padahal kambing lebih berbahaya. Kita bisa darah tinggi kalau makan daging kambing, sedangkan babi tidak begitu. Terus terang saya yakin dengan ayat al quran yang menyatakan keharaman babi, tapi pertanyaan ini saya ajukan karena banyak masyarakat yang bertanya tentang logika yang saya sebutkan di atas tadi.

Demikian Pak Ustad, sebelum dan sesudahnya saya mohon maaf.


Zulham Afandi

Jawaban

Wa’alaikum Salam

Alhamdulillah Washsholatu Wassalamu ‘Ala Rasulillah,

Pertanyaan anda memang banyak beredar di masyarakat, tidak saja pada masyarakat Indonesia, akan tetapi juga pada masyarakat dunia, termasuk Eropah dan Amerika yang sudah maju sekalipun. Di akhir zaman ini, di mana banyak orang mulai mengandalkan logika dan mengesampingkan agama, hal-hal yang mirip dengan persoalan di atas semakin mencuat ke permukaan, baik karena memang dianggap issu yang penting, ataupun karena memang sengaja dihembuskan oleh oknum-oknum tertentu untuk mendangkalkan keimanan umat Islam, dan pada akhirnya diharapkan dapat mengeluarkan mereka dari agama Islam itu. Sungguh berbahaya…….!

Dalam Islam yang pertama diharamkan adalah semua makanan yang najis. Firman Allah SWT :

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya…” (QS: Al Maidah ayat 3).

Dari ayat di atas ada tiga benda yang terang-terangan disebutkan najis dan haram dimakan yakni, : bangkai, darah dan daging babi.

Dalam ayat yang lain Allah berfirman :

“…… dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan keji…..” (QS: Al A’raf ayat 157). Pada ayat ini Allah mengharamkan semua yang keji-keji. Di antara yang keji itu adalah anjing. Hal ini berdasarkan hadis nabi : “ Anjing itu keji, dan keji pula uang hasil penjualan anjing itu”. (H.R.Muslim dan Abu Daud, shohih). Bahkan dalam hadis yang lain dari jalan Yusuf bin Khalid, sampai ke Ibnu Abbas, Rasulullah telah bersabda : “ Hasil penjualan anjing adalah uang keji, dan uangnya itu adalah yang paling keji darinya” (H.R.  Daruquthni, Hakim, dan Baihaqi). ( Lihat Kitab Majmu’ Syarah Muhadzdzab, Imam An-Nawawi, Jilid X, halaman 3-4).

Sebenarnya, daging babi tidak saja haram dimakan oleh umat Islam pengikut nabi Muhammad SAW, akan tetapi juga diharamkan atas umat-umat sebelum umat nabi Muhammad SAW. Kaum Yahudi dan Nashrani juga selama ribuan tahun telah diharamkan memakan daging babi ini. Dalil akan haramnya daging babi bagi Yahudi dan Nashrani dapat dirujuk pada kitab Taurat, atau yang sekarang berubah nama menjadi Bibel, alias perjanjian lama. Dalam Imamat Orang Levi , Pasal 11 Ayat 7, dikatakan : “Jangan makan babi. Binatang itu haram, karena walaupun kukunya terbelah, ia tidak memamah biak.” (BIS (1985) ©SABDAweb Im 11:7), “dan lagi babi, karena sungguhpun kukunya terbelah dua, ia itu bersiratan kukunya, tetapi ia tiada memamah biak, maka haramlah ia kepadamu” (TL (1954) ©SABDAweb Im 11:7), “Demikian juga babi, sebab walau ia berkuku belah, bahkan kukunya membentuk celah, tetapi hewan itu tidak memamah biak, itu najis bagimu” (MILT 2008).

Nah, dari keterangan di atas jelaslah bagi kita bahwa Allah sejak dahulu kala, telah mengharamkan babi untuk dimakan oleh orang-orang yang beriman, bahkan menurut kabar babi sudah adalah sejak awal waktu  babi diciptakan, yakni di atas kapal nabi Nuh ‘Alaihissalam. Wallahu A’lam. Memang ada sebagian orang-orang yang sempit akalnya, menuduh bahwa nabi Muhammad meniru-niru Yahudi. Ini adalah tuduhan yang sangat keji. Ada banyak makanan yang haram pada Yahudi, tapi halal bagi nabi Muhammad dan umatnya, seperti unta,susu unta, keledai liar dll. Dan, sebaliknya ada pula yang halal bagi Yahudi tapi haram bagi nabi kita SAW.

Secara ilmiah manusia modern telah membuktikan bahwa makanan sangat memberi pengaruh kepada akal manusia. Jika makanan yang dimakan itu baik, maka orang itu akan menjadi baik pula , sebagai akibat dari pengaruh makanannya itu. Namun jika seseorang suka memakan yang keji-keji, maka lambat laun sifatnyapun akan berubah menjadi keji pula. Misalnya, orang yang suka meminum minuman keras alias pemabuk, maka akal pikirannya bahkan karakter jiwanya akan berubah menjadi lebih buruk dibandingkan ketika dia belum berkenalan dengan minuman keras itu. Juga orang yang mulai memakai narkoba maka pasti jiwanya akan berubah menjadi keji dibandingkan ketika masa dia belum memakai narkoba itu.

Bahkan seorang pemakan sayur, vegetarian, biasanya sifatnya lebih penyabar dibandingkan dengan seorang pemakan daging. Inipun sudah dibuktikan melalui berbagai penelitian ilmiah.

Bagaimana dengan babi….?

Babi adalah binatang pemakan segalanya. Dalam istilah ilmiah disebut omnivora. Hampir tidak ada makhluk yang serakus babi ini. Makhluk ini adalah pemakan segala-galanya. Sampai-sampai najisnya sendiripun dimakannya. Tidak serupa dengan ayam. Ayam itu, selapar apapun dia tidak akan mau memakan najisnya sendiri. Demikian juga ikan, lembu, kambing, rusa, kijang, mereka semua tidak akan mau memakan najis mereka sendiri walaupun dalam keadaan darurat laparnya.

Belum lagi sifat babi yang keji lainnya. Salah satunya adalah babi ini binatang yang tidak punya rasa cemburu. Dia bisa saja “bercampur” dengan babi lain di depan pasangannya, atau sebaliknya, membiarkan pasangannya “dicampuri” oleh pasangan lain di depan matanya. Bahkan, babi bisa melakukan hubungan homo seksual, dan lesbian pula, yakni “bercampur” jantan dengan jantan dan betina dengan betina.

Di samping hal di atas, babi juga sangat rakus dalam mengisi perutnya. Babi jika makan, bukan saja menelan lewat mulut, akan tetapi hidungnya pun dipakainya untuk menelan makan  berbarengan dengan mulutnya itu. Sementara ruang perutnya diisi semua dengan makanan, bahkan sampai ke pangkal lehernya, semua diisinya dengan makanan. Itulah sebabnya secara anatomi babi hampir tidak memiliki leher. Mungkin itulah sebabnya mengapa orang tidak menyembelih babi. Mereka membunuh babi dengan menusukkan besi panjang dari duburnya. Hal ini tidak lain karena babi tidak punya leher untuk disembelih! Lehernyapun dipakai untuk mengendapkan makanan yang dimakannya. Luar biasa rakusnya binatang ini…..!

Nah, apakah binatang sekeji babi ini pantas dimakan…? Akal sehat akan menolak memakan makhluk rakus dan keji ini. Pasalnya, makanan pasti akan mempengaruhi akal manusia yang memakannya. Jika babi yang rakus dan keji luar biasa ini dimakan, maka sangat dikhawatirkan sifat orang yang memakannya lambat laun akan berubah pula menjadi rakus dan keji seperti babi. Na’udzubillah……

Mungkin anda akan bertanya pula, bagaimana dengan buaya, kucing, harimau, singa, gagak, burung hantu, biawak dan lain-lain hewan pemakan daging mentah, yang bahasa ilmiahnya disebut carnivora itu?  bukankah mereka juga binatang yang keji? Untuk menjawabnya, telah diriwayatkan dalam sebuah hadi dari Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhuma : “ Adalah Rasullullah SAW telah mengharamkan umatnya untuk memakan semua hewan buas yang menangkap mangsa dengan cakarnya (hewan pemakan daging), dan memakan semua burung yang menyambar mangsanya (burung pemakan daging)” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Sungguh mengagumkan sekali, bahwa Rasulullah SAW lebih dari 14 abad yang lalu sudah mengharamkan semua hewan yang omnivore dan carnivore, seolah-olah Rasulullah sudah tahu bahwa manusia akhir zaman ini jika tidak diberi panduan hidup, banyak umatnya yang akan menelan dan memakan segala-galanya tanpa pandang bulu lagi.

Adapun ungkapan yang mengatakan bahwa kambing dapat menyebabkan darah tinggi adalah ungkapan yang keliru menurut penelitian ilmiah. Justru penelitian ilmiah mengatakan bahwa daging lembu lebih tinggi kadar kolesterolnya dibandingkan dengan daging kambing. Artinya, daging kambing malah lebih aman dimakan dibandingkan daging lembu. Jadi tidak benar daging kambing penyebab darah tinggi.

Sedangkan babi setelah diteliti secara ilmiah ternyata sangat banyak mengandung berbagai bakteri, amuba, dan kuman penyakit yang tidak terhitung banyaknya. Salah satunya adalah cacing pita. Kuman-kuman yang ada pada babi bahkan tidak mati setelah direbus air mendidih yang lama sekalipun. Belum lagi sekarang ini telah merebak penyakit flu babi, yang terang-terangan berasal dan ditularkan oleh babi. Betapa bahayanya…………

Dan, alangkah beruntungnya kita kaum muslimin yang berdiri di atas agama yang suci, yang senantiasa menjaga umatnya untuk menjalani kehidupan yang suci, tidak hanya suci secara lahiriah saja, namun jauh lebih penting adalah bersih zhahiriahnya. Dengan demikian, selain tubuh mereka akan sehat, juga batin mereka akan sehat, bersih, dan kuat  pula. Nekat memakan apa saja tanpa meneliti yang mana halal atau haram, akan menyebabkan jiwa berubah menjadi keji, sekeji makanannya.

Nabi juga sudah memperingatkan bahwa tiap-tiap daging yang tumbuh dari yang haram, maka neraka adalah tempat yang pantas baginya…..! Dan Allah berfirman “…..dan (Allah) menghalalkan bagi mereka segala yang baik-baik……” (QS. Al A’raf: 157)

Dengan menjaga makanan senantiasa halal, diharapkan jiwa dan raga menjadi suci, dan di akherat kelak mendapat kedudukan yang tinggi. Semoga….. Amin!

Wallahu A’lam Bishshowab.

Share this post