Menghajikan Orang Mati

Assalamualaikum Wr. Wb.,

Pak Ustadz, Insya Allah saya akan menunaikan ibadah Haji tahun ini. Orang tua saya mengatakan kepada saya untuk sekalian menghajikan almarhum kakak saya. Pertanyaan saya, apakah bisa kita menghajikan orang yang sudah meninggal? Apakah bisa saya menjalankan ibadah haji sekaligus berniat menghajikan almarhum kakak saya atau harus orang lain yang menjalankannya. Kalau yang menjalankannya orang lain kira-kira biayanya berapa?

Mohon penjelasan dari Pak Ustadz. Terima kasih.

Wassalam,

Dedy 


Dedy

Jawaban

Wa'alaikum Salam Wr. Wb.

Melaksanakan ibadah haji untuk orang yang sudah mati yang di Indonesia populer dengan istilah “Badal Haji”,  telah menjadi amalan bagi kaum muslimin di seluruh dunia dari kalangan penganut empat mazhab, khususnya mazhab Syafi’i Rahimahullahu Ta’ala. Amalan ini pastilah berdasarkan hadis-hadis yang datang dari baginda Nabi Saw., sebab tidak mungkin jika seluruh ulama se-dunia selama ribuan tahun, sepakat dalam kesesatan dan sepakat pula menyesatkan umat Islam se-dunia. Hal ini perlu kami tegaskan, sebab akhir-akhir ini ada segelintir umat Islam yang curiga terhadap nilai luhur para ulama dengan menggugat suatu perkara yang sudah menjadi kesepakatan para ulama, seolah-olah kesepakatan para ulama itu tidak punya dalil.

Suatu hal yang sangat tidak beradab……..

Dalil-Dalil Badal Haji Untuk Orang Mati

Untuk menjawab pertanyaan anda tentang menghajikan orang yang sudah wafat, kami akan mengajukan beberapa hadis shohih dari Nabi Shallallau ‘Alaihi Wassallam.

 Dari Abdullah bin Abbas Ra. Beliau berkata: “Bahwasanya seorang wanita dari suku Juhainah datang kepada Nabi, lalu dia bertanya: Ibuku bernazar untuk naik haji, tetapi dia wafat sebelum mengerjakan haji itu. Apakah boleh aku menggantikan haji ibuku itu. Nabi bersabda: “Ya boleh, berhajilah engkau menggantikan dia. Seandainya ibumu itu berhutang tentu engkau bisa membayar hutangnya, bukan? Maka hutang kepada Allah lebih berhak untuk dibayar (HR. Imam Bukhari, lihat Fathul Bari’ jilid IV halaman 437)

Dari keterangan di atas dapat difahamkan sebagai berikut:

  • Amalan yang tertinggal dianggap hutang kepada Allah
  • Hutang kepada Allah lebih berhak dibayar daripada hutang kepada manusia yang juga wajib dibayar
  • Nazar haji dapat digantikan orang lain (anak, saudara, kerabat, dan lain-lain)
  • Pahala haji dapat dihadiahkan kepada orang yang sudah mati

Dalam hadis yang lain, dari Abdullah bin Abbas Ra.huma beliau menjelaskan: Adalah Fadhal bin Abbas Ra.huma mengiringkan Nabi Saw. ketika sedang berhaji, manakala datang seorang wanita dari suku Khats’am maka Fadhal memandang wanita itu, dan wanita itu pun memandang pula kepada Fadhal. Kemudian Nabi memalingkan kepala Fadhal ke arah lain (agar tidak memandang wanita itu) dan wanita itu berkata: “Ketika perintah haji datang, bapak ku sudah tua,beliau tidak sanggup lagi berkendaraan. Apakah boleh aku menggantikan haji beliau? Nabi bersabda: “Boleh”. Kejadian ini terjadi pada haji wada’ (HR. Imam Bukhari, lihat Fathul Bari’ jilid IV halaman 440)

Keterangan hadis di atas menunjukkan bahwa badal haji malah dapat dilakukan untuk orang yang sudah jompo, atau lemah dalam melakukan haji. Anaknya atau orang lain boleh melakukan ibadah haji untuk orang yang tak kuat lagi melakukan ibadah haji bagi dirinya.

Dalam pertanyaan anda di atas haji yang akan anda kerjakan adalah untuk saudara kandung anda yang telah wafat. Untuk memperkuat bahwa menghajikan orang lain adalah satu amalan yang sah dan teruji dalam syariat Islam marilah kita lihat hadis di bawah ini:

Dari Abdullah bin Abbas Ra., bahwasanya nabi Muhammad Saw. Mendengar seorang laki-laki membaca talbiyah dalam ibadah haji, “Labbaik ‘an Syubrumah” (Ya Allah kupenuhi panggilan Mu sebagai pengganti atas si Syubrumah) kemudian Nabi bertanya kepada orang itu: “Siapakah Syubrumah itu” orang itu menjawab: “Saudaraku atau kerabatku.” “Apakah engkau sudah pernah mengerjakan haji untuk dirimu?” Tanya Nabi. Orang itu menjawab: “Belum”. Kemudian Nabi bersabda: “Kerjakanlah haji untukmu terlebih dahulu, kemudian barulah engkau menghajikan si Syubrumah itu (tahun depan)”. (HR. Abu Dawud, lihat Sunan Abu Dawud jilid II halaman 162)

Dari keterangan hadis di atas teranglah bagi kita bahwa menghajikan karib kerabat diperbolehkan oleh Nabi Saw. baik orang itu lemah tapi masih hidup, atau pun orang tersebut sudah wafat. Tuduhan yang mengatakan bahwa menghajikan orang lain adalah amalan yang bid’ah alias dibuat-buat, adalah sebuah tuduhan yang menentang hadis-hadis shohih di atas.

Jika saja menghajikan orang lain sebuah perbuatan bid’ah dan terlarang melakukannya pastilah nabi tidak mengatakan kepada laki-laki itu, “kerjakanlah haji untukmu terlebih dahulu, kemudian barulah engkau menghajikan si Syubrumah itu”. Dan, semestinya nabi akan bersabda, “Cukuplah engkau berhaji untuk dirimu sendiri, dan lupakan saja si Syubrumah”. Atau bahkan lebih tegas lagi dari itu, nabi akan berkata, “ Cukup engkau berhaji untuk dirimu saja, sedangkan menghajikan si Syubrumah itu adalah perbuatan bid’ah, dan tiap bid’ah akan masuk neraka…!”

Kenyataannya tidak demikian. Dengan tegas nabi bersabda, “(tahun depan) barulah engkau menghajikan si Syubrumah itu”, artimya menghajikan orang lain direstui nabi keberadaannya. Hal ini selain masuk dalam sunnah taqririyah, yakni  sunnah yang dibuat shahabat nabi dan dibiarkan nabi, juga termasuk sunnah qouliyah nabi, yakni sunnah yang disabdakan oleh nabi sendiri, untuk diamalkan oleh seluruh umat baginda sampai dunia kiamat.

Dengan demikian, kita tidak perlu terpengaruh atas tuduhan segelintir kelompok orang yang menuduh bahwa badal haji adalah sebuah perbuatan bid’ah, karena amalan kita ini punya dalil yang kokoh dan sudah pula diamalkan oleh para ulama di seluruh dunia. Pembahasan panjang tentang dalil-dalil “menghadiahkan pahala dalam Islam” sudah pun dibahas oleh para ulama secara panjang lebar dalam berpuluh-puluh kitab besar. Justru maksud segelintir oknum yang melarang badal haji itu yang perlu dipertanyakan. Apakah mereka bermaksud hendak menyesatkan umat Islam? Atau mereka mau memecah belah persatuan umat Islam yang sudah kokoh? Atau mereka benar benar bodoh sehingga tidak pernah tahu bahwa ada hadis hadis yang mensunnahkan amalan badal haji ini….?

Penulis sendiri pernah berdialog langsung dengan seorang guru besar mazhab Salafi yang mengajar di masjid Nabawi, di Madinah, dan beliau mengatakan kepada kami bahwa amalan badal haji itu adalah ijma’ ulama sedunia, dan disokong dengan dalil hadis hadis yang shohih. Dan beliau justru berpesan agar kami mengajarkan amalan badal haji ini  kepada seluruh murid-murid kami di tanah air Indonesia ini. Demikian jawaban kami semoga bermanfaat. Amin….

Wallahu A”lam bishshowab

Share this post