Mengulangi Nikah Karena Hamil

Assalamu'alaikum wr wb Pak Ustadz ada beberapa pertanyaan yang saya mau tanya

- Apakah perlu dinikahkan lagi sepasang Suami istri yang baru muallaf?

- Apakah hukumnya ketika baru saja bersih dari haid dan belum mandi junub kemudian berjima'?

- Apakah perlu dinikahkan kembali org hamil di luar nikah?

- Bagaimana cara mengganti sholat, zakat, dan puasa yg kita tinggalkan ketika dahulu kita belum dapat hidayah?

-Apakah ada sholat zuhur sesudah sholat jumat? (ada beberapa tempat di aceh yg melaksanakan itu)

Mohon dibantu jawaban dan dalil-dalil yang menyertainya!

JAZAKALLOH..

Wasalam


Ucok Perfumes Medan - Fadhly Firmansyah Siagian

Jawaban :

Wa'alaikum Salam Warahmatullahi Wabarakatuh. Alhamdulillahi Washsholatu Wassalamu 'Ala Rasulillah,

1. Dalam Islam pernikahan yang dilakukan oleh sepasang suami istri ketika keduanya belum memeluk  agama Islam, tetap sah sebagai suami istri jika keduanya masuk Islam dalam waktu yang bersamaan. Pernikahan mereka tidak perlu diulang lagi saat keduanya telah masuk Islam. Nabi bersabda: “Islam itu menghancurkan segala sesuatu (kebatilan) yang dilakukan sebelum masa sebelum Islam"(H.R.Muslim). Lain halnya bila yang masuk Islam itu hanya  salah satu dari pasangan suami istri tersebut. Konsekuensinya pernikahan mereka secara otomatis batal. Artinya, pasangan itu secara otomatis terceraikan dengan sebab salah satu dari pasangan itu masuk Islam.

Hal yang sama juga berlaku atas pasangan yang menikah secara Islam. Pernikahan mereka sah karena memang kedua pasangan tersebut sudah Islam. Kemudian jika salah seorang dari pasangan itu  murtad (keluar dari Islam), maka pernikahan itu secara otomatis menjadi batal dengan sendirinya. Dan, tidak diperlukan proses perceraian secara resmi lagi. Pernah terjadi pada zaman Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam di mana Ummi Habibah binti Abu Sofyan menikah dengan Ubaidillah bin Jahsy. Pernikahan itu mereka lakukan saat keduanya belum memeluk Islam. Kemudian keduanya serentak masuk Islam. Ternyata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengulangi lagi pernikahan keduanya menurut cara Islam. Artinya, pernikahan yang dilakukan pada masa sebelum memeluk Islam tetap sah hukumnya saat keduanya masuk Islam.

Beberapa waktu kemudian Ummi Habibah dan suaminya Ubaidillah bin Jahsy berhijrah ke Etiopia bersama dengan rombongan sahabat lainnya, di bawah pimpinan Ja’far bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat dihindar, ternyata Ubaidillah bin Jahsy murtad dari Islam dan pindah agama memeluk agama Kristen, agama mayoritas masyarakat Etiopia saat itu. Dan, Ummi Habibah secara otomatis tercerai dari  suaminya Abdullah bin Jahsy. Sepulangnya dari Etiopia, Ummi Habibah yang hidup terlunta-lunta terpisah dari suaminya yang murtad, dan ditolak oleh bapaknya, Abu Sofyan yang saat itu masih menjadi pimpinan pasukan kafir Quraiy. Akhirnya, Ummi Habibah dinikahi oleh Baginda Rasulullah.

Dengan demikian teranglah bahwa pernikahan yang dilakukan sebelum Islam oleh sepasang suami istri tetap dihitung sah jika keduanya secara bersamaan memeluk agama Islam. perlu dicatat, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah menikah-ulangkan setiap pasangan suami-istri yang masuk Islam secara bersamaan.  

Di sisi lain, jika ada pasangan suami istri yang menikah sebelum masuk Islam, kemudian salah satu dari keduanya masuk Islam, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memisahkan antara suami istri tersebut serta melarang mereka melakukan hubungan suami istri selama salah satu dari pasangan itu masih belum masuk Islam.  Jika kemudian salah satu pasangan tadi menyusul masuk Islam, maka Nabi mengembalikan pasangan tersebut sebagai suami istri tanpa harus mengulangi nikah mereka. Sebaliknya jika salah satu pasangan tetap menolak masuk Islam, maka Nabi memisahkan pasangan itu secara permanen, yakni menceraikan mereka.Hal ini justru pernah terjadi pada diri anak kandung Nabi sendiri yang bernama Zainab radhiyallahu ‘anha dengan suaminya Abul ‘Ash bi Ar-Rabi’ bin Abdus Syams. Nabi memisahkan keduanya karena Abul ‘Ash tidak masuk Islam, dan Nabi baru mengembalikan puteri beliau kepadanya setelah Abul ‘Ash masuk Islam.

2. Dilarang melakukan hubungan suami istri bagi pasangan yang istrinya baru suci dari haid namun belum melaksanakan mandi janabah. Lain halnya jika pasangan suami istri yang junub karena baru saja melakukan hubungan suami istri, sang suami cukup berwudhu sebelum mengulangi jima’ dengan istrinya itu untuk kedua kalinya. Tidak diwajibkan mandi atas keperluan ini.

3. Orang yang hamil di luar nikah sah dinikahkan secara Islam jika memang memeluk agama Islam. Tidak ada larangan menikahkan wanita yang hamil di luar nikah. Sayyid Abi Bakr Syatha’ dalam kitab I’anathuth Thalibin mengatakan sedemikian itu. Pada kenyataanya, wanita hamil itu ada 3 macam:

1. Wanita hamil dan memiliki suami. Wanita hamil jenis ini haram dinikahkan dengan siapa pun sebab statusnya adalah istri orang.

2. Wanita hamil sedang dalam masa ‘iddah, baik karena diceraikan suaminya atau karena ditinggal mati oleh suaminya. Wanita hamil jenis ini juga haram dinikahkan. Firman Allah dalam Al Qur’an Surat At-Thalaq ayat 4: “dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya…” Perlu dicatat bahwa wanita yang memiliki ‘iddah pasti pernah menikah, sebab wanita yang tidak menikah pastilah tidak memiliki ‘iddah….!

3. Wanita hamil tidak memiliki suami dan tidak pula tidak sedang dalam masa iddah akibat dicerai suami atau ditinggal mati suaminya. Wanita jenis ini sah dan boleh dinikahkan, karena tidak ada kehormatan atas kehamilannya itu. Hanya saja perlu dicatat jika kelahiran sang bayi terlalu cepat yakni di bawah 6 bulan dari hari pernikahan yang resmi, maka anak tersebut adalah anak ibunya bukan anak bapaknya. Kelak jika anak itu perempuan yang berhak menjadi wali nikahnya adalah wali hakim (pemerintah). Di Indonesia wali hakim adalah Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan, dan berjenjang ke atas sesuai dengan Undang-undang Pemerintah Republik Indonesia. Sedangkan bapaknya, yakni orang yang menikahi ibu anak tersebut tidak berhak menjadi wali nikah anak itu. Lain halnya jika kelahiran sang bayi 6 bulan atau 7 bulan atau lebih setelah hari pernikahan, maka anak yang lahir adalah sah anak bapaknya yang menikahi ibu anak itu, bahkan jika pelaku yang menghamili sang ibu bukan lelaki yang menikahi sang ibu itu sekalipun. Selain pernikahannya sah, pernikahan itu juga tidak perlu diulangi lagi setelah sang bayi lahir. Bagaimana pun pernikahan tidak pernah menjadi batal hanya kerena melahirkan seorang anak. Hal ini perlu ditegaskan karena akhir-akhir ini telah beredar ajaran baru di masyarakat yang mewajibkan pernikahan ulang bagi pasangan yang menikah dalam keadaan hamil, setelah anaknya dilahirkan. Ini tidak ada dasar hukumnya sama sekali….!

4. Bagi orang yang sudah memeluk agama Islam tetapi lalai melaksanakan shalat dan puasa setelah berusia baligh, kemudian orang tersebut mendapat hidayah dan tobat dari kekeliruannya, maka orang itu wajib meng-qadha seluruh puasa dan shalatnya yang ditinggalkan sebab lalai, pada masa-masa  sebelum orang itu mendapat hidayah. Cara mengganti puasanya dapat dicicil pada setiap hari sampai sama jumlahnya dengan puasa yang ditinggalkannya. Misalnya, orang tersebut lalai berpuasa selama 10 tahun, maka hutang puasanya adalah 10 x 30 hari yaitu sebanyak 300 hari. Hutang puasa ini dapat dicicilnya sepanjang masa yang ada sampai lunas hutang puasa 300 hari yang ditinggalkan itu.

Demikian halnya dengan sholat yang ditinggalkan oleh seseorang. Orang tersebut wajib mengganti shalat yang ditinggalkannya itu. Cara menggantinya boleh dengan cara dicicil. Misalnya seseorang lalai shalat selama 5 tahun, kemudian orang itu mendapat hidayah, maka ia dapat mengerjakan sholat secara double setiap hari saat mengerjakan sholat 5 waktu. Insya Allah selama 5 tahun berikutnya hutang shalat itu akan lunas.

Nabi sendiri pernah tiga kali meng-qadha shalat beliau yang tertinggal. Pertama, shalat Shubuh saat bermusafir, beliau meng-qadha sholat shubuh itu setelah bangun tidur pada waktu Dhuha. Kedua, beliau meng-qadha shalat Ashar dan Magrib pada waktu perang Khandaq, di mana beliau kerjakan qadha tersebut di waktu shalat Isya. Ketiga, Nabi meng-qadha shalat Qabliyah Dzuhur yang tertinggal karena sibuk membagi zakat kepada fakir miskin. Beliau meng-qadha shalat Qabliyah Dzuhur itu pada waktu setelah Ashar (waktu yang justru  terlarang melakukan shalat) di rumah Ummi Salamah. Ketiga-tiga riwayat ini terdapat dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim. Seluruh ulama empat mazhab (Mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali) sepakat bahwa shalat yang tinggal wajib diqadha dengan segera. Hanya Ibnu Hazm (Mazhab Dzahiri) yang diikuti oleh Ibnu Taimiyah saja yang menolak kewajiban qadha ini. (lihat Majmu’ Syarah Muhadzdzab, Imam Nawawi). Dan Imam Nawawi mengatakan pendapat yang mengatakan sholat yang tertinggal tidak perlu diganti(qadha) adalah pendapat yang batil….!

Demikian juga dengan hal zakat yang ditinggalkan tetap wajib diqadha ( dibayarkan) juga, sebanyak jumlah zakat yang ditinggalkannya di masa sebelum mendapat hidayah keta’atan.

5. Sholat dhuhur yang dikerjakan setelah sholat Jum’at, dilakukan karena khawatir  sholat Jum’atnya tidak sah, sebab ada masjid lain yang letaknya sangat berdekatan dengan masjid di mana dia melaksanakan Jum’at itu, juga melaksanakan sholat Jum’at. Dalam Madzhab Syafi’i diyakini hanya boleh ada satu sholat Jum’at yang sah bila ada dua masjid berdekatan mengadakan 2 Sholat Jum’at secara bersamaan, yaitu Masjid yang lebih dahulu mengumandangkan Takabiratul Ihram, itulah yang sholat Jum’atnya sah. Karena khawatir tidak sah, maka mereka menempelnya dengan sholat Dhuhur….!

Demikian agar kiranya keterangan ini membawa manfaat.

Wallahu a’lam bishshawab

 

Share this post