Menikahi Saudara Satu Ibu dan Saudara Sesusuan

Assalammualaikum Wr wb.

Maaf pak Kiyai, disini saya sebagai umat islam yang masih rendah tingkat ilmunya ingin bertanya kepada Kiyai tentang sesuatu hal, yang janggal di benak saya. Begini pak:

Ada 2 orang insan lain jenis yang dilahirkan oleh seorang ibu dan tapi lain bapak. Bolehkan ke dua orang ini (insan ini) menikah dalam aturan Islam, yang dia tidak se susuan?


Basri Effendi

Jawaban

Dua orang manusia yang merupakan saudara satu ibu, berlainan bapak disebut saudara satu perut alias saudara kandung. Mereka HARAM untuk saling menikah. Jelas mereka itu dam bahasa Arab disebut MAHRAM, yaitu orang yang haram dinikahi.

Keterangan yang pasti ada dalam Al-Qur’an Surat Annisa’ ayat 22, 23 dan 24. Semuanya itu adalah orang-orang yang haram dinikahi.

22. “Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang Telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang Telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh).

23.  “Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, Saudara-saudara bapakmu yang perempuan; Saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang Telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), Maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang Telah terjadi pada masa lampau; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

24. “Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki[282] (Allah Telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang Telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah Mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu Telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Dari keterangan di atas jelaslah perkawinan antar saudara, baik saudara itu merupakan saudara satu ibu ataupun saudara satu bapak, kedua-duanya HARAM dinikahi. Apalagi bagi mereka yang merupakan saudara satu ibu satu bapak.

Selain saudara yang tiga jenis di atas, Islam juga mengenal saudara satu susuan yang disebut rodho’ah. Saudara satu susuan ini juga haram dinikahi. Rasulullah pernah menceraikan pasangan suami isteri yang ternyata saudara satu susuan yang terlanjur menikah. Ini menunjukkan bahwa rodho’ah itu memang haram saling menikah juga. Rasulullah bersabda : “ Diharamkan apa yang disebabkan persusuan, sebagaimana apa yang diharamkan sebab keturunan” ( H.R. Muslim, Abu Daud, dan Turmidzi, shohih ). Ini adalah dalil yang shohih yang menyamakan keharaman sebab keturunan, seperti ayah, ibu, anak, cucu, paman, bibi, seketurunan, serupa dengan ayah, ibu, anak. Cucu, paman, bibi yang sepersusuan.

Imam Asy Syafi’I menegaskan penyusuan anak yang diharamkan adalah setelah lima kali menyusu secara terpisah-pisah. Dan jumlah hisapan yang dimakan sang anak itu adalah sebatas sampai anak itu terlena, atau merasa telah mereguk air susu itu. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda : “ Tidaklah mengharamkan satu atau dua hisapan, dan tidak pula karena satu atau dua kali menyusu” ( H. R. Muslim, Turmidzi, Abu Daud, dan Ibnu Majah, shohih ).

Dalam riwayat yang menceritakan jumlah susuan yang menyebabkan haram adalah lima kali susuan. Rasul bersabda : “ Susuilah dia sebanyak lima kali susuan, sehingga dia haram (menikah dengan mu) karena susu itu…! ( H.R. Abu Daud ).

Untuk saudara sesusuan ini, proses penyusuannya mesti dilakukan saat seseorang itu masih bayi, yakni di bawah usia dua tahun. Jika sudah dewasa tidaklah dia disebut anak susuan lagi. Hal ini disebabkan susu ibu perlu untuk pertumbuhan saat masih bayi saja, tidak pada saat sudah besar. Dengan demikian, sungguh keliru besar orang yang mengatakan jika seorang suami mengisap air susu isterinya, maka sang suami akan menjadi anak susuan, dan wajib bercerai…….!

Di zaman Khalifah Umar bin Khattab ada seorang wanita yang memiliki seorang budak wanita yang sering ditiduri oleh suaminya. Maka sang wanita itu menyusui budak wanitanya itu. Kemudian dia berkatakepada suaminya  : “ budak wanita itu sudah haram bagimu, dia sudah saya susui..…!”

Ketika suami wanita itu mengadu kepada Khalifah Umar, maka Umar r.a berkata : “ Pukullah isterimu itu, dan tidurlah dengan budak wanitamu itu. Hanya saja persusuan yang mengharamkan pernikahan itu adalah penyusuan pada anak kecil saja…!” ( Al Umm, Imam Syafi’i, bab Rodho’ah). Keterangan ini jelas menunjukkan bahwa rodho'ah berlaku bila proses penyusuan itu terjadi saat yang disusui masih berusia bayi, dan di bawah usia dua tahun. Penyusuan tidak berlaku pada orang dewasa, apalagi bagi seorang isteri terhadap suaminya.

Wallahu A'lam Bishshowab

Share this post