Tentang Hewan Qurban

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Ustadz, ini ada taklim yg dihadiri oleh anak saya di Dubai (UAE), bahwa Nabi Muhammad Rasullullah bersabda:

“Apabila telah masuk 10 Dzulhijjah dan salah seorang dari kalian  ingin menyembelih Qurban maka janganlah dia menyentuh (memotong) sesuatu dari rambut dan jangan pula kukunya, sampai hewan qurbannya disembelih.” (HR Muslim 1977, Abu Dawud 2791,Ibnu Maja’ 3149, Achmad dll).

Maksudnya rambut, kuku dari orang yang berkorban ? Mohon menjelaskan kesemuanya ini Ustadz sehubungan pencerahan dalam ceramah subuh dari ustadz di TPI beberapa minggu yang lalu.

Syukron


M.Ghozee Ameen

Jawaban

Alhamdulillah Washsholatu Wassalamu ‘Ala Rasulillah,

Hadis yang anda kemukakan ini adalah hadis shohih yang bersumber dari Ummi Salamah Radhiyallahu ‘Anha, berbunyi : “Jika telah masuk sepuluh hari Dzulhijjah, dan salah seorang kamu bermaksud untuk menyembelih hewan kurban (pada hari Raya Kurban dan hari-hari Tasyriq), maka janganlah dia menyentuh(memotong), rambutnya sedikit juga pun” (HR. Muslim, Ibnu Majah, Nasa’i, Ahmad, Baihaqi).

Dalam Riwayat yang lain dikatakan: “Jika telah masuk sepuluh hari Dzulhijjah, dan di sisi kamu ada hewan kurban (yang akan kamu potong), maka janganlah kamu menggunting rambut dan janganlah memotong kuku.” (H.R. Muslim).

Dalam riwayat yang lain dikatakan: “Jika kamu telah melihat bulan sabit (tanda tanggal satu Dzulhijjah telah masuk), dan kamu bermaksud hendak menyembelih kurban (pada tanggal 10 atau hari-hari Tasyriq), maka hendaklah dia menahan diri dari memotong rambutnya serta kukunya.” (H.R. Muslim, Hakim).  

Dari keterangan hadis di atas dapat diambil kesimpulan:

1. Sunnat hukumnya bagi seseorang  yang berniat untuk menyembelih kurban Idul Adha, untuk menahan diri agar tidak memotong rambut dan kuku selama sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah sampai saat disembelihnya hewan kurban miliknya itu.

Imam Nawawi dalam Kitab Majmu’ Syarah Muhadzdzab Jilid ke IX, halaman 421, mengatakan: “Telah berkata Imam-imam dalam Madzhab Syafi’i, bahwa barangsiapa yang bermaksud memotong hewan kurban, dan telah masuk padanya sepuluh hari bulan Dzulhijjah, maka makruh baginya memotong kuku-kukunya, dan makruh pula mencukur rambut di kepalanya, dan bulu-bulu di wajahnya, atau bulu-bulu di badannya, sampai masa telah disembelihnya hewan kurbannya itu”.

Setelah selesai hewan kurban itu disembelih, maka sunnat hukumnya bagi orang yang telah berkurban itu mencukur rambut kepalanya, memotong kuku-kukunya, dan mencukur bulu-bulu tubuhnya.

Kemakruhan memotong rambut dan kuku itu hukumnya makruh tanzih (¾ haram), dalam Madzhab Imam Syafi’i. Bahkan Imam Rafi’i dan Imam Abul Hasan Al-‘Ibadi mengharamkannya karena mematuhi hadis-hadis di atas secara zhahir.

Kemakruhan memotong rambut setelah memasuki 10 hari bulan Dzulhijah, juga termasuk dimakruhkan memotong seluruh bulu-bulu tubuh adalah berdasarkan hadis dari Ummu Salamah adalah Rasulullah Saw. bersabda: “Jika telah masuk 10 hari bulan Dzulhijjah sedangkan salah seorang kamu bermaksud menyembelih hewan qurban, maka janganlah dia menyentuh (mencukur) rambutnya dan bulu-bulu tubuhnya sedikitpun” (HR. Muslim)

Adapun hikmah tidak mencukur rambut dan bulu adalah untuk mengekalkan kesempurnaan pahala dan kebebasan dari neraka serta mengambil hikmah seumpama orang yang sedang berihram.

Dalam hal memotong kuku dan mencukur rambut ini Imam Ahmad menghukumkannya sebagai perbuatan yang haram. Sedangkan Imam Maliki dan Imam Hanafi tidak memandangnya sebagai perbuatan yang makruh.

2. Hadis yang menjelaskan “Jika salah seorang kamu telah melihat bulan sabit awal Dzulhijjah……” menunjukkan bahwa menetapkan pelaksanaan ibadah qurban telah ditetapkan oleh Rasulullah Saw. dengan melihat awal bulan (Rukyatul Hillal). Hal ini penting ditegaskan karena telah muncul satu faham dari segelintir umat Islam bahwa Idul Adha ditetapkan setelah melihat orang wukuf di Padang Arafah. Padahal mereka Wukuf di Arafah justru karena melihat bulan sabit awal Dzulhijjah juga, baru tanggal sembilannya mereka wukuf di sana.

Hewan qurban boleh berkelamin jantan dan boleh juga berkelamin betina hal ini berdasarkan hadis nabi dari Ummi Karaz dari Nabi Saw. sesungguhnya beliau telah bersabda: “Aqiqah untuk anak laki-laki dua kambing dan untuk anak perempuan satu kambing dan tidak menjadi persoalan apakah kambing itu jantan atau betina.” (HR. Imam Ahmad, Nasa’i, Turmidzi, Ibnu Maja’ dan Abu Dawud)

Keterangan: Jika hewan jantan atau betina boleh untuk aqiqah, maka menurut pandangan ulama pastilah boleh pula untuk qurban Idul Adha dan hari Tasyriq.

Wallahu A’lam bishshawab

Sumber bacaan: Kifayatul Akhyar, Majmu’ Syarah Muhadzdzab, Fathul ‘Aziz

Share this post