Hajji Bagi Wanita

Assalamu'alaikum ustadz,

Ada teman tanya sama saya dan saya tidak bisa jawab. Pertanyaannya begini: “Apa benar haji tidak wajib bagi wanita karena sejarah haji dari amalan Siti Hajar?” Mohon penjelasan dan dasar hukum dari ustadz. Wassalam.

Agus Suliadi

Jawab:

Alhamdulillah Washsholatu Wassalamu ‘Ala Rasulillah,

Kata hajji dalam bahasa Arab, berarti maksud dalam Bahasa Indonesia. Secara bahasa menurut Al-Laits, Hajji adalah menziarahi sesuatu dan mengagungkannya. Menurut ulama ahli Fiqih, hajji adalah menyempurnakan kunjungan kepada Ka’bah dengan maksud ibadah kepada Allah.

Dalil perintah berhajji terdapat dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 97: “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, Yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.”

Dalam hadis Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda ketika menjawab pertanyaan Sahabat mengenai amal yang paling afdhal. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah telah ditanya, “Apakah amalan yang paling afdhal?” Rasul menjawab, “beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Kemudian ditanya lagi, “Apakah amal yang afdhal setelah itu?” Rasul menjawab, “Hajji yang mabrur.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari keterangan di atas, jelaslah bagi kita bahwa perintah hajji itu dialamatkan kepada seluruh manusia yang beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Tidak peduli apakah dia itu laki-laki atau perempuan, jika saja orang tersebut memiliki kemampuan untuk melaksanakan hajji itu.Apalagi ayat Al-Qur'an di atas mengatakan "kepada semua manusia"

Khusus untuk menjawab pertanyaan teman anda tentang pernyataan orang yang mengatakan bahwa wanita tidak wajib berhajji, dengan ini kami mengatakan bahwa perkataan itu adalah perkataan yang keliru serta menyalahi syariat Islam.

Dalam sebuah hadis yang bersumber dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ibunda kaum muslimin, dan merupakan istri tercinta dari baginda Rasul, diriwayatkan sebagai berikut: “Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, telah berkata beliau, “Aku telah berkata, “Wahai Rasulallah, kami para wanita telah melihat bahwa berjihad fi sabilillah itu adalah sebuah amalan yang afdhal. Lantas apakah kami mesti ikut berperang juga?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab, “Akan tetapi sebaik-baik jihad bagi wanita adalah hajji yang mabrur.” (HR. Bukhari, Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Baihaqi, Ibnu Khuzaimanah).

Dari hadis di atas jelaslah bahwa kewajiban berhajji dialamatkan kepada seluruh kaum muslimin laki-laki dan perempuan yang memiliki kemampuan untuk melaksanakannya. Khusus bagi wanita selain hajji itu diwajibkan atas mereka, berhajji bagi para wanita juga merupakan jihad yang paling afdhal di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Dalam hadis yang lain dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Sesungguhnya seorang wanita mengangkatkan seorang anak bayi di hadapan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dari gendongannya seraya berkata, “Ya Rasulallah, apakah bagi anakku ini ada hajji atasnya? Nabi menjawab:Ya, ada! Dan pahala hajjinya untukmu!” (HR. Muslim, Abu Dawud, Nasa’i). Dari keterangan hadis ini, didapat gambaran bahwa wanita juga melaksanakan hajji bersama Rasulullah.

Dalam sebuah riwayat dari Jabir radhiyallahu ‘anhu telah berkata dia, “Kami telah berhajji bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan saat itu ikut para wanita dan anak-anak. Kami mengucapkan labbaik untuk anak-anak dan juga berlari-lari kecil (sa’i) untuk anak-anak.” (HR. Turmudzi dan Ahmad).

Telah datang banyak riwayat yang shahih bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membawa seluruh istri-istri beliau untuk melaksanakan ibadah hajji pada tahun ke-10 Hijriah, yang merupakan hajji wada’, hajji pertama dan sekaligus hajji terakhir bagi baginda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.


Sumber bacaan: Majmu’ Syarah Muhadzdzab, Imam Nawawi

Share this post