Isra’ Wal Mi'raj

Perintah Sholat Dari 50 Kali Menjadi 5 Kali Dalam Sehari

Belakangan ini kami sering mendengar dari ceramah para da’i yang mengatakan bahwa perintah sholat fardhu diberikan Allah kepada Nabi Muhammad pada saat Isra’ M’iraj hanyalah 5 kali saja dalam sehari semalam, dan diberikan langsung sekali saja. Tidak seperti yang kita dengar selama ini yakni awalnya diperintahkan 50 kali, kemudian dikurang-kurangi sampai akhirnya menjadi 5 kali saja. Alasan mereka mustahil Nabi tawar menawar dalam urusan mentaati perintah Allah.

Lebih dahsyatnya lagi mereka mengatakan bahwa kisah memohon dikuranginya perintah sholat dari 50 kali menjadi 5 kali saja adalah riwayat dari kelompok Yahudi dalam rangka mengagungkan Nabi Musa agar kelihatan lebih agung dari Nabi kita. Kelompok da’i ini kelihatan sangat alergi jika mengetahui bahwa orang yang sudah wafat seperti Nabi Musa AS.,  ternyata masih dapat memberi manfaat kepada orang yang masih hidup. Sehingga mereka pun mati matian mencoba mengobah jalannya kisah peristiwa Isra’ dan Mi’raj itu. Sebab jika tidak, kisah tersebut akan mengobrak-abrik sebuah keyakinan yang telah mereka doktrin dan suntikkan pula kepada umat Islam, khususnya di Indonesia, yakni ; ”orang yang sudah mati putus hubungan dengan yang hidup”.

Kami penulis merasa perlu menjelaskan perkara yang mulai dirusak dari dada dan akar keyakinan umat Islam Indonesia. Sesungguhnya perintah sholat pada malam Isra’ dan Mi’raj memang berawal dari 50 waktu sehari semalam, kemudian terakhir dikurangi menjadi 5 waktu dalam sehari semalam atas saran dari nabi Musa, karena beliau merasa khawatir umat nabi Muhammad akan berat melaksanakan sholat 50 kali sehari semalam mengingat Bani Israil, umat Nabi Musa pernah gagal dalam mengemban perintah sholat ini. Perlu ditegaskan bahwa yang dikhawatirkan nabi Musa adalah bukan nabi Muhammad yang  tidak mampu atau merasa berat dalam melaksanakan perintah Allah ini, akan tetapi umat nabi Muhammad-lah yang beliau khawatirkan akan berat memikul tanggung jawab sholat itu jika banyaknya 50 kali dalam sehari semalam.

Untuk itu kami merasa perlu meluruskan persoalan ini agar menjadi terang benderang. Tentu saja berdasarkan dasar hujjah yang kokoh dari hadis hadis nabi yang shohih. Apalagi dalam tuntunan Ahli Sunnah Wal Jama’ah, peran akal semata tidak bisa menggusur pemahaman yang didapat dari hadis-hadis shohih. Lain halnya dalam pemahaman Mu’tazilah alias Jaringan Islam Liberal, yang memang sangat mendewakan akal, tetapi sangat remeh dalam menerima hadis hadis nabi.

Berikut ini kami kutipkan riwayat tentang sholat yang secara panjang lebar menceritakan tentang peristiwa Isra’ dan Mi’raj yang mengatakan bahwa awalnya sholat itu diperintahkan sebanyak 50 waktu kemudian dikurang dan dan dikurangi oleh Allah akhirnya menjadi  5 waktu saja.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik Ra. Dan Malik bin Sha’sha’a, sebuah hadis  oleh Imam Muslim pada jilid I halaman 926 sebagai berikut :

 

 ….. Didatangkan kepadaku Buraq, yaitu seekor hewan yang berwarna putih; tubuhnya lebih tinggi dan keledai, tetapi lebih rendah dari baghal. Ia meletakkan kedua kaki depannya di ufuk batas jangkauan penglihatannya.

Aku menaikinya dan Jibril membawaku berjalan hingga sampailah aku di Baitul Muqaddas. Lalu aku menambatkan hewan itu di Iingkaran tempat para nabi biasa menambatkan hewan tunggangannya. Aku memasuki masjid dan melakukan salat dua rakaat di dalamnya, sesudah itu aku keluar.

Jibril menyuguhkan kepadaku sebuah wadah berisikan khamar dan sebuah wadah lagi berisikan susu. Maka aku memilih wadah yang berisikan air susu, dan Jibril berkata, “Engkau memperoleh fitrah.”

Kemudian Jibril membawaku naik ke langit yang terdekat, lalu Jibril mengetuk pintunya, dan dikatakan kepadanya, “Siapakah kamu?” JibriI menjawab, “Jibril.” Dikatakan lagi, “Siapakah orang yang bersamamu?” Jibril menjawab “Muhammad.” Dikatakan lagi, “Apakah Ia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya?” Jibril menjawab, “Dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya.”

Maka dibukakanlah bagi kami (pintu langit terdekat), tiba-tiba aku berjumpa dengan Adam, dan Adam menyambut kedatanganku serta berdoa kebaikan untukku.

Setelah itu Jibril membawaku naik ke langit yang kedua, ia mengetuk pintunya. Maka di katakan kepadanya, “Siapakah kamu?” JibriI menjawab, “Saya Jibril.” Dikatakan kepadanya, “Siapakah yang bersamamu itu?” Jibril menjawab, “Muhammad.” Dikatakan lagi “Apakah dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya?” Jibril menjawab, “Dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya.” Maka dibukalah pintu langit yang kedua bagi kami, tiba-tiba saya bersua dengan dua orang nabi anak bibiku yaitu Yahya dan Isa, maka keduanya menyambut kedatanganku dan mendoakan kebaikan buatku.

Kemudian Jibril membawaku naik ke langit yang ketiga, lalu Jibril mengetuknya maka dikatakan kepadanya, “Siapakah kamu?” Jibril menjawab, “Saya Jibril.” Dikatakan kepadanya, “Siapakah orang yang bersama mu?” Jibril menjawab, “Muhammad.” Dikatakan lagi, “Apakah dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya?” Jibril menjawab, “Dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya.” Maka dibukalah pintu langit yang ketiga untuk kami, tiba-tiba saya bersua dengan Yusuf a.s., dan ternyata dia telah dianugerahi separuh dan ketampanan. Yusuf a.s. menyambut kedatanganku dan mendoakan kebaikan buatku.

Jibril membawaku lagi naik ke langit yang keempat, dan ia mengetuk pintunya. Maka dikatakan, “Siapakah kamu?” Jibril menjawab, “Saya Jibril.” Dikatakan lagi, “Siapakah orang yang bersamamu?” Jibril menjawab, “Muhammad.” Dikatakan lagi, “Apakah dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya?” Jibril menjawab, “Dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya.” Maka dibukakanlah pintu langit yang keempat bagi kami. Tiba-tiba saya bersua dengan Nabi Idris. Lalu Nabi Idris menyambut kedatanganku dan mendoakan kebaikan buatku.

Kemudian Allah Swt. berfirman:

“Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.”

(Maryam: 57)

Kemudian Jibril membawaku naik ke langit yang kelima. Jibril mengetuk pintunya, lalu dikatakan, “Siapakah kamu?” Jibril menjawab, “Saya Jibril.” Dikatakan, “Dan siapakah orang yang bersamamu itu?” Jibril menjawab, “Muhammad.” Dikatakan lagi, “Apakah dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya?” Jibril menjawab, “Dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya.”

Maka dibukakanlah pintu langit yang kelima bagi kami, tiba-tiba saya bersua dengan Harun a.s. Harun menyambut kedatanganku, lalu mendoakan kebaikan buatku.

Jibril membawaku naik ke langit yang keenam. Ia mengetuk pintunya, lalu dikatakan kepadanya, “Siapakah kamu?” Jibril menjawab, “Saya Jibril.” Dikatakan, “Dan siapakah orang yang bersamamu itu?” Jibril menjawab, “Muhammad.” Dikatakan pula, “Apakah dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya?” Jibril menjawab, “Dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya.” Maka dibukakanlah pintu langit yang keenam bagi kami, tiba-tiba saya bersua dengan Musa a.s. Lalu Musa menyambut kedatanganku dan mendoakan kebaikan buatku.

Kemudian Jibril membawaku naik ke langit yang ketujuh, dan Jibril mengetuk pintunya, maka dikatakan, “Siapakah kamu?” Jibril menjawab, “Saya Jibril.” Dikatakan, “Siapakah orang yang bersamamu?” Jibril menjawab, “Muhammad.” Dikatakan lagi, “Apakah dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya?” Jibril menjawab, “Dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya.”

Maka dibukakanlah pintu langit yang ketujuh bagi kami. Tiba-tiba saya bersua dengan Nabi Ibrahim a.s. yang ternyata sedang bersandar di Baitul Ma’mur. Dan tiba-tiba saya melihat Baitul Ma’mur dimasuki setiap harinya oleh tujuh puluh ribu malaikat, lalu mereka tidak kembali lagi kepadanya.

Selanjutnya Jibril membawaku ke Sidratul Muntaha, tiba-tiba saya jumpai Sidratul Muntaha itu daun-daunnya seperti daun telinga gajah besarnya, dan buah-buahannya seperti gentong besarnya. Tatkala Sidratul Muntaha itu dipengaruhi oleh perintah Allah yang mencakup kesemuanya, maka berubahlah bentuknya Pada saat itu tiada seorang pun dan makhluk Allah Swt. yang mampu menggambarkan keindahannya.

Allah menurunkan wahyu-Nya kepadaku, dan Dia men-fardukan atas diriku shalat lima puluh kali setiap siang dan malam hari. Lalu kemudian saya turun hingga sampai ke tempat Musa berada.

Musa bertanya, “Apakah yang telah difardukan oleh Tuhanmu atas umatmu?” Saya menjawab, “Lima puluh salat setiap siang dan malam hari.” Musa berkata, “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan kepada-Nya buat umatmu. Karena sesungguhnya umatmu tidak akan mampu melakukannya. Sesungguhnya aku pernah mencoba Bani Israil dan menguji mereka.

Maka saya kembali kepada Tuhanku dan berkata, “Wahai Tuhanku, berikanlah keringanan buat umatku.” Maka Dia meringankan lima salat buatku. Lalu saya turun hingga sampai ke tempat Musa berada, dan Musa bertanya, “Apakah yang telah engkau lakukan?” Saya menjawab, “Allah telah memberikan keringanan lima kali salat buatku.”

Musa berkata, “Sesungguhnya umatmu tidak akan mampu melakukannya. Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah lagi keringanan kepada-Nya buat umatmu.”

Saya terus menerus bolak balik antara Musa dan Tuhanku, dan Tuhanku memberikan keringanan kepadaku lima kali salat setiap saya menghadap. Akhirnya Allah berfirman, “Hai Muhammad, semuanya Lima kali salat setiap siang dan malam hari. Setiap kali shalat berpahala sepuluh kali Iipat, maka semuanya genap menjadi lima puluh kali salat. Barang siapa yang berniat melakukan suatu kebaikan, lalu dia tidak mengerjakannya, maka dicatatkan baginya pahala satu kebaikan; dan jika dia mengerjakannya, maka dicatatkan baginya pahala sepuluh kebaikan. Barang siapa yang berniat akan mengerjakan suatu keburukan, lalu dia tidak mengerjakannya, maka amal keburukan itu tidak dicatat. Dan jika dia mengerjakannya, maka dicatatkan satu amal keburukan.”

Maka saya turun hingga sampai ke tempat Musa berada dan saya menceritakan kepadanya segala sesuatunya. Maka Musa berkata, “Kembalilah kepada Tuhanmu, dan mintalah keringanan kepada-Nya buat umatmu, karena sesungguhnya umatmu tidak akan mampu mengerjakannya.”

Maka Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya saya telah bolak-balik kepada Tuhanku sehingga aku merasa malu (kepada-Nya).”

Keterangan:

Imam Muslim meriwayatkannya dan Syaiban ibnu Farrukh, dan Hammad ibnu Salamah dengan lafaz ini. Lafaz hadis ini lebih sahih daripada lafaz yang diriwayatkan oleh Syarik.

Imam Baihaqi mengatakan bahwa di dalam hadis ini terkandung dalil yang menunjukkan bahwa Mi’raj dilakukan pada malam Nabi Saw. di-Isra’-kan dari Mekah ke Baitul Muqaddas.

Imam Baihaqi ini berkata hadis ini adalah benar dan tidak diragukan lagi kebenarannya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasan ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Sabit Al Bannani, dari Anas ibnu Malik, bahwa Rasulullah mensabdakan hadis di atas.

Imam Ahmad mengatakan pula bahwa telah menceritakan kepada kami Abul Mugirah, telah menceritakan kepada kami Safwan, telah menceritakan kepadaku Rasyid ibnu Sa’id dan Abdur Rahman ibnu Jubain, dari Anas

Imam Abu Daud mengetengahkannya melalui hadis Safwan ibnu Amr dengan sanad yang sama; juga dan jalur yang lain, tetapi tidak disebutkan nama Anas.

Imam Abu Daud mengatakan pula, menceritakan kepada kami Waki’, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Sulaiman At-Taimi, dari Anas yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

“Di malam aku menjalankan Isra bersua dengan Musa a.s sedang berdiri mengerjakan shalat di dalam kuburnya

Imam Muslim meriwayatkannya melalui hadis Hammad ibnu Salamata, dari Sulaiman Ibnu Tarkhan At-Taimi dan Sabit Al-Bannani, keduanya menerima hadis ini dari Anas. Menurut An-Nasa-i, riwayat ini lebih sahih daripada riwayat yang menyebutkan dan Sulaiman dan Sabit dari Anas.

Masalah Melihat Allah

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Hammam, dari Qatadah, dari Abdullah ibnu Syaqiq yang mengatakan bahwa ia pernah berkata kepada Abu Zar, “Seandainya saya melihat Rasulullah Saw., tentu saya akan bertanya kepadanya.” Abu Zar bertanya, “Apakah yang akan kamu tanyakan kepadanya?” Saya berkata, “Saya hendak bertanya kepadanya, apakah dia pernah melihat Tuhannya?” Abu Zar menjawab bahwa ia pernah bertanya kepada Nabi Saw. pentanyaan tersebut. Maka beliau Saw. menjawab melalui sabdanya:

“Sesungguhnya aku telah melihat-Nya (tertutupi oleh) nur, mana mungkin saya dapat melihat-Nya(langsung).

Demikianlah bunyi hadis menurut apa yang ada di dalam riwayat Imam Ahmad.

Imam Muslim di dalam kitab sahihnya telah mengetengahkannya melalui Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, dari Waki’, dari Yazid ibnu Ibrahim, dari Qatadah, dan Abdullah ibnu Syaqiq, dari Abu Zar telah mengatakan:

Saya pernah bertanya kepada Rasulullah Saw, “Apakah engkau telah melihat Tuhanmu?” Rasulullah Saw. menjawab, “Dia (tertutupi oleh) nur, mana mungkin saya dapat melihat-Nya.”

Imam Muslim telah mengetengahkannya pula melalui Muhammad ibnu Basysyar, dan Mu’az ibnu Hisyam; telah menceritakan kepada kami ayahku, dan Qatadah, dan Abdullah ibnu Syaqiq yang mengatakan bahwa ia pernah berkata kepada Abu Zar, “Seandainya saya sempat melihat Rasulullah Saw., tentulah saya akan bertanya kepadanya.” Abu Zar berkata, “Apakah yang kamu tanyakan kepadanya?” Ibnu Syaqiq berkata, “Saya akan bertanya kepadanya, ‘Apakah engkau telah melihat Tuhanmu?’.” Abu Zar menjawab, “Bahwa ia pernah menanyakan hal itu kepada Nabi Saw:, dan Nabi Saw. menjawabnya:

“Aku hanya melihat nur (cahaya).”

Penegasan ini penting sebab sekarang ini masih ada segelintir kelompok yang mengaku ‘kaum shufi’ mengatakan sering berjumpa dengan Allah, bahkan berkata kata langsung dengan Allah. Tidak diragukan lagi bahwa kelompok ini adalah kelompok sesat, yang keluar dari pemahaman Ahlussunnah wal jama’ah.

Wallahu A’lam


 

Share this post