Makam Mewah Tidak Membawa Manfaat

Di tengah masyarakat miskin, ada orang yang membangun makamnya Rp. 5 milyar kan luar biasa. Sementara orang-orang lain mencari makan saja susah.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa haram terkait bisnis jual beli lahan makam di kalangan muslim yang terdapat unsur berlebih-lebihan dan sia-sia.

“Jual beli dan bisnis lahan untuk kepentingan kuburan mewah yang terdapat unsur tabzir dan israf hukumnya haram.” Ujar Wakil Sekretaris Jenderal MUI Pusat, KH Tengku Zulkarnain, Jumat 28 Februari 2014.

Makam yang dimaksud mewah dalam fatwa ini adalah makam yang mengandung unsur tabzir dan israf, baik dari segi luas, harga, fasilitas maupun nilai bangunan.

Tabzir adalah menggunakan harta untuk sesuatu yang  sia-sia dan tidak bermanfaat menurut ketentuan syar’i ataupun kebiasaan umum di masyarakat. Sementara Israf adalah tindakan yang berlebih-lebihan, yaitu penggunaan lahan melebihi kebutuhan pemakaman.

Tengku Zulkarnain menjelaskan, jual beli lahan untuk kepentingan kuburan dibolehkan sepanjang sesuai ketentuan, antara lain syarat dan rukun jual beli terpenuhi; dilakukan dengan prinsip sederhana, tidak mendorong adanya tabzir, israf dan perbuatan sia-sia, yang memalingkan dari ajaran Islam, kavling kuburan tidak bercampur antara muslim dan non muslim; penataan dan pengurusannya dijalankan sesuai dengan ketentuan syariah; dan tidak menghalangi hak orang untuk memperoleh pelayanan penguburan. “Umat Islam diminta untuk tidak larut dalam perilaku tabzir, israf, serta perbuatan sia-sia dengan membeli kavling pekuburan mewah,” tuturnya.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menerbitkan fatwa bahwa makam dengan fasilitas mewah adalah haram. Dalam fatwa haram ini, MUI melarang adanya fasilitas pendukung di pemakaman yang dinilai tabzir dan israf.

Tabzir adalah menggunakan harta untuk sesuatu yang  sia-sia dan tidak bermanfaat menurut ketentuan syar’i ataupun kebiasaan umum di masyarakat. Sedangkan Israf adalah tindakan yang berlebih-lebihan, yaitu penggunaan lahan melebihi kebutuhan pemakaman. Berikut ini wawancara Sofyan Hadi dari FORUM dengan Wakil Sekretaris Jenderal MUI Pusat KH Tengku Zulkarnain, Jumat 28 Februari 2014.

Apa dasar hukum Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa haram tentang makam mewah?

Dalam fatwa itu cukup banyak dalil dari Al-Qur’an dan Hadis Nabi yang menjadi dasar pengambilan keputusan fatwa tersebut. Keputusan fatwa MUI ini musti dibaca tuntas agar tidak timbul persepsi yang keliru. Pada dasarnya membeli tanah untuk makam hukumnya mubah (boleh, red). Nabi Ibrahim melakukannya untuk makam keluarga beliau di Hebron, Palestina.

MUI melihat dari sisi mana yang mengharamkan dari makam?

Yang diharamkan adalah mewahnya itu. Makam mewah yang di dalam istilah asing disebut musolium itu yang haram. Karena mubazir. Tiap-tiap yang mubazir haram. Dalam agama Islam jika makam dibangun dengan menemboknya, maka ada dua hukum. Pertama jika makam ditanah sendiri hukumnya makruh. Kedua jika makam di tanah wakaf milik umum, hukumnya haram. Itu makam biasa yang ditembok dengan batu. Jika makam itu dibangun mewah dengan marmer yang menghabiskan dana ratusan juta rupiah, maka haram hukumnya. Karena mubazir dan berlebihan tidak ada gunanya.

Tetapi jauh sebelum adanya fatwa MUI, Perda DKI sudah melarang membangun makam yang sudah ditetapkan Pemda DKI. Contohnya makam Ustad Jefri yang menimbulkan polemik. Bagaimana menurut anda?

Perda DKI itu bagus. Sesuai dengan hukum Islam pula. Wajib dipatuhi oleh semua warga, termasuk keluarga UJE atau siapapun warga negara tanpa pandang status. Apalagi tanah itu milik umum (wakaf).

Pada umumnya makam kaum muslimin itu sederhana. Bagaimana dengan makam di luar Islam yang jauh lebih mewah?

Dalam agama Islam ada garis besar, lakum dinukum waliyadin. Bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Kita tidak mencampur urusan agama orang lain. Untuk urusan itu biar mereka urus sendiri sesuai dengan ajaran agama mereka. Kalau di tanah milik Pemda, ya Pemda wajib menegakkan aturan tanpa pandang bulu. Fatwa keluar karena ada yang bertanya atau meminta jawaban. Masalah yang dipertanyakan lalu dijawab dalam bentuk fatwa. Dan memang untuk menjaga umat agar jangan keluar koridor agama Islam. Ini salah satu fungsi MUI yaitu”Himayatul Ummat” menjaga umat agar jangan tergelincir dari pemahaman yang benar.

Mengapa MUI mengeluarkan fatwa haram soal makam? Dan apa indikasinya?

Tidak ada indikasi lain, seperti keperluan persaingan perdagangan dan lain-lain. Kalau harga tanah di kompleks pemakaman yang mahal, karena perlu membangun akses ke sana seperti jalan dan lain-lain, tidak jadi haram. Yang diharamkan bukan harga tanahnya. Ini relatif. Yang diharamkan adalah pembangunan makam yang mewah.

Siapa yang meminta fatwa soal makam haram?

Masyarakat Islam tentunya. Biasanya tertulis. Dan setelah dipandang penting untuk difatwakan, barulah Komisi Fatwa MUI bersidang membahasnya. Tentu tidak disebutkan dalam fatwa siapa yang bertanya itu.

Berarti mereka yang mempunyai usaha pemakaman umum boleh saja menjual tanahnya, sepanjang tidak membangun makam muslim dengan mewah?

Ya siapa saja boleh menyediakan dan memperjualbelikan tanah untuk pemakaman. Ini tidak haram dalam agama Islam. Bahkan sejak zaman Nabi Ibrahim di Hebron Palestina dulu, ribuan tahun yang lalu sudah dilakukan oleh Nabi yang agung yakni Nabi Ibrahim. Hasilnya sampai sekarang umat Islam diseluruh dunia bisa menziarahinya.

Ada sebagian kalangan yang menilai fatwa MUI tentang makam haram adalah berlebihan. Bagaimana MUI menyikapinya?

Urusan agama yang paling paham adalah Ulama.  Orang awam jangan merasa lebih pandai dari Ulama. Nabi berpesan tiap-tiap urusan jika diserahkan pada yang bukan ahlinya tinggal tunggu kiamatnya.

Soal berlebihan itu ukuran siapa? Ukurannya kan musti ukuran agama, bukan urusan pribadi-pribadi. Di tengah masyarakat miskin, ada orang yang membangun makamnya Rp. 5 miliar kan luar biasa.

Sementara orang-orang lain mencari makam saja susah. Dalam Islam kain kafan saja haram jka terbuat dari dari sutra. Nah bagi orang kaya kain sutra itu sih murah. Tapi batasannya agama melarangnya. Nah jika dalam agama Islam, kain kafan dari sutra saja haram, bagaimana pula membuat makam sampai puluhan juta bahkan miliaran rupiah?

Apakah makam mewah akan membawa manfaat?

Makam yang mewah sama sekali tidak membawa manfaat apa-apa bagi kenyamanan mayat yang dikubur di dalamnya. Juga tidak menolong sedikitpun untuk meringankan azab kubur. Jadi buat apa dihambur-hamburkan uang yang banyak untuk hal yang sama sekali tidak membawa manfaat? Lebih baik uangnya disedekahkan kepada orang yang masih hidup, selain bermanfaat untuk yang menerimanya, juga bermanfaatbagi orang yang di dalam kubur itu, sebagai sedekah atas namanya.

Apa saran MUI untuk masyarakat muslim di Indonesia terkait makam haram?

Umat Islam janganlah menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, apalagi sampai melanggar aturan agama kita. Ada banya hal yang bermanfaat. Marilah kita belanjakan setiap rupiah uang kita pada yang bermanfaat saja. Bukankah harta itu akan diminta pertanggungjawaban di akhirat kelak?

Alangkah ruginya kalau dibelanjakan pada hal-hal yang terlarang dalam agama.

 

Dikutip dari wawancara ekslusif dengan majalah Forum Keadilan edisi 45 periode 10-16 maret 2014

Share this post