Mengaqiqahkan Diri Sendiri

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Begini ustadz, saya pernah mendengar, bahwa seseorang yang belum diaqiqahkan, dirinya itu seperti sesuatu yg tergadai,  sedangkan aqiqah  itu  merupakan tanggung jawab orang tua.

Nah, kalau seseorang mengaqiqahkan diri sendiri, apakah orang tuanya berdosa ?

Kalau berdosa, kenapa ustadz ? Bukankah aqiqah itu hukumnya sunat, yang bila dikerjakan berpahala dan  ditinggalkan tidak berdosa?

Bagaimana ustadz ? Mohon penjelasannya . Terimakasih

Wassalam

 

Jawaban

Alhamdulillahi Washsholatu Wassalamu ‘Ala Rasulillah

Aqiqah adalah walimah atau kenduri yang dilakukan keluarga muslim ketika menerima anak sebagai amanah dari Allah SWT. Untuk anak laki-laki disembelih dua ekor kambing usia dua tahun atau lebih,  atau kambing yang sudah tanggal giginya. Sedangkan untuk anak perempuan cukup disembelihkan seekor kambing saja, dengan kriteria kambing yang sama. Dagingnya sunnah dimasak dan dibagikan kepada para tetangga dan sanak famili. Boleh juga keluarga yang punya hajat ikut memakannya.

Tanggung jawab melaksanakan aqiqah itu adalah pada kepala keluarga, dalam hal ini adalah Bapak si anak yang baru lahir itu.

Dalam Madzhab Imam Syafi’i Rahimahullah hukum aqiqah itu adalah sunnah muakkad, yakni sunnat yang dikuatkan. Tidak sampai berdosa jika tidak dilakukan, meskipun orang tersebut  akan rugi karena kehilangan keutamaan dari Allah SWT. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda : “ Tiap-tiap anak tergadai sampai anak itu diaqiqahkan”(H.R. Ahmad). Para Ulama mengartikan maksud tergadai dalam hadis ini adalah jika kelak anak itu anak yang sholih, dia tidak akan memberi syafa’at pada orangtuanya, karena ketika di dunia dahulu dia tidak diaqiqahkan oleh orangtuanya itu. Padahal menurut Al-Qur’an dan hadis orang sholih , seorang muslim dapat memberikan syafa’at pada muslim yang lain dengan izin Allah. ( Lihat keterangan surat Al-Baqarah ayat 255 Kitab Tafsir Ibnu Katsir ). Jika seorang muslim saja dapat memberikan syafa’at pada muslim yang lain, bagaimana pula seorang anak yang sholih kepada kedua orangtuanya…?

Nah, selanjutnya, apakah dapat tugas orangtua itu digantikan oleh sang anak sendiri…? Bisakah seorang anak meng-aqiqahkan dirinya sendiri…?

Aqiqah adalah perintah Nabi, dan perintah Nabi hakekatnya adalah juga perintah Allah SWT. Dalam Islam hutang wajib dibayar. Jika tidak terbayar, maka ahli warislah yang mesti membayarkannya. Hutang yang dimaksud disini, bukan saja hutang materi antar sesama makhluk, tetapi juga hutang ibadah kepada Allah. Salah satu bukti adalah perintah Nabi kepada seorang shahabat yang mana orangtuanya berhutang puasa nadzar kepada Allah, kemudian Nabi memerintahkan orang itu untuk berpuasa atas sang mayit itu  selama  dua bulan, sesuai dengan nadzar sang mayit ( H.R. Muslim,Shohih, dari Buraidah radhiyallahu 'anhu). Keterangan tentang wajib membayar hutang puasa nadzar ini dapat dilihat salah satunya pada kitab Al-Fiqhu al Islamiyyu  al Muyassaru Wa Adillatuhu Asy Syar’iyyatu ‘Ala Thariqati As Su-al Wa Al Jawab, Jilid II, halaman 909, karangan Syaikh Muhammad Mutawali Assya’rawi, Terbitan Maktabah Turats al Islami,  Mesir.

Selanjutnya, terdapat di dalam hadis shohih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam telah bersabda : “ Hutang kepada Allah lebih utama untuk dibayar”. Dengan demikian, maka dapatlah seorang anak membayar hutang aqiqah dirinya yang tidak ditunaikan orangtuanya kepada Allah itu. Apalagi ada riwayat hadis  sebagaimana yang dituliskan oleh Imam Nawawi dalam kitab beliau Majumu’ Syarah al Muhadzdzab,  dan Syaikh Taqiyuddin dalam kitab beliau Kifayatul Akhyar, bahwa Nabi kita Muhammad Shallallhu ‘Alaihi Wasallam meng-aqiqahkan diri beliau sendiri setelah usia 40 tahun, yakni setelah beliau menjadi Nabi.

Sehubungan bahwa aqiqah hukumnya sunnat muakkad, maka tidaklah wajib menunaikannya, serta tidak pula berdosa meninggalkannya. Selanjutnya, bagi seorang anak yang belum diaqiqahkan oleh orangtuanya, maka tidak pula anak itu wajib mengaqiqahkan dirinya sendiri. Namun, jika dia mau membayar aqiqahnya tersebut maka bolehlah dia melakukannya. Hal ini tentu baik baginya dan bagi orangtuanya.

Perlu dicatat dengan tegas bahwa dalam Madzhab Imam Syafi'i diyakini dan diamalkan bahwa ibadah yang menyangkut harta seperti haji, puasa nadzar, aqiqah, hutang, dan lain-lain dapat dibayarkan oleh ahli warisnya jika orang yang bertanggung jawab akan hal itu, wafat sebelum dia sempat menunaikan tanggung jawab/kewajibannya itu. Lain halnya jika merupakan amalan badaniyah seperti sholat misalnya, maka amal ini tidak bisa dibayarkan oleh ahli warisnya, jika dia wafat sebelum sempat menunaikannya.

Wallahu A’lam bishshowab

Share this post