Rahasia Kurban

Dalam mazhab Imam As-Syafi’i ibadah kurban itu hukumnya sunat muakkad ‘alal kifayah, yakni sunat yang dikuatkan dan boleh berkongsi mengerjakannya. Dalam sebuah hadis diriwayatkan: “Aku diwajibkan untuk berkurban dan menyembelih hewan kurban itu sunnat hukumnya bagi kamu umatku” (HR. Imam Turmidzi, Hasan Shahih).

Di dalam hadis yang lain Rasulullah bersabda: “Diwajibkan kepadaku menyembelih hewan kurban, tapi berkurban itu tidak wajib bagi kalian, umatku” (HR. Darulqutni)

Dari hadis-hadis di atas didapat kesimpulan bahwa, menyembelih hewan kurban itu hukumnya sunat muakkad bagi umat Islam yang berkemampuan melakukannnya, tetapi wajib atas diri Nabi Muhammad Saw. Adapun pendapat yang mengatakan bahwa menyembelih hewan kurban itu wajib adalah pendapat yang majhul (tidak diketahui keberadaan hadisnya). (lihat kitab Kifayatul Akhyar, Jilid II, halaman 227)

Di dalam hadis yang lain dari Umi Salamah Ra. Nabi Saw bersabda: “Apabila kamu melihat hilal (anak bulan baru) dan salah seorang dari kamu bermaksud berkurban, maka hendaklah orang yang bermaksud berkurban itu menahan diri untuk tidak memotong rambut dan kukunya “ (HR. Muslim, Shahih)

Kalau perintah berkurban itu didasarkan pada kemauan seseorang sebagaimana petunjuk hadis di atas, berarti tidaklah ibadah kurban itu wajib hukumnya. Bagaimana pun tidaklah mungkin sebuah kewajiban tergantung atas kemauan seseorang. Setiap sesuatu yang wajib dalam Islam, mau tidak mau mesti dilaksanakan oleh setiap muslim, tanpa tergantung pada individu. Jika dikerjakan, akan diberi pahala atas orang yang melakukannya, dan dikenai dosa atas orang yang meninggalkannya.

Perlu dicatat dan menjadi perhatian bahwa untuk menetapkan hari pelaksanaan ibadah kurban itu ternyata berdasarkan hadis riwayat Muslim di atas adalah berpatokan pada “dilihatnya hilal” . Sebagaimana kita ketahui bahwa hari pelaksanaan ibadah kurban itu adalah tanggal 10 Dzulhijjah, bertepatan dengan Idul Adha dan 3 hari tasyriq, yakni tanggal 11, 12 , dan 13 Dzulhijjah. Tegasnya, Idul Adha menurut hadis di atas ditetapkan dengan melihat hilal, dan bukan berpatokan pada ibadah wukuf di Arafah. Apalagi kita ketahui ibadah wukuf itu sendiri didasarkan kepada dilihatnya hilal tanggal 1 Dzulhijjah juga.

Seluk Beluk Kurban

Ibadah kurban sebagaimana disebutkan di atas, hukumnya adalah sunat kifayah. Artinya, jika salah seorang dari anggota keluarga telah melakukan penyembelihan dengan seekor kambing, maka gugurlah tuntutan menuaikan ibadah kurban bagi anggota keluarga yang lain. Sebaliknya, jika tidak ada seorang pun dari mereka yang melaksanakannya, maka makruhlah hukumnya, dan kemakruhannya ditimpakan kepada seluruh ahli keluarga itu.

Imam al Mawardi berkata bahwa boleh orang-orang Islam di satu negeri mengambil uang dari baitul mal untuk membeli hewan kurban berupa seekor domba dan menyembelih seekor domba atas nama seluruh kaum muslimin di negeri itu, jika keadaan mereka semuanya fakir.

Binatang yang mencukupi untuk di kurbankan adalah:

  1. Domba yang telah berumur lebih dari setahun.
  2. Kambing biasa yang telah berusia dua tahun atau telah tanggal giginya
  3. Sapi yang telah berumur 3 tahun memasuki tahun keempat
  4. Unta yang sudah berumur 5 tahun memasuki tahun ke-6

Tidak ada perbedaan antara jenis jantan dan betina, keduanya sama saja. Sedangkan Imam Syafi’i mengatakan, “yang betina lebih aku sukai dari pada yang jantan”. Murid-murid imam Syafi’i menafsirkan perkataan imam Syafi’i ini karena jenis hewan betina lebih tinggi harganya dibanding hewan jantan. Sebagaimana dalam kaedah ushul fiqih, al ajru bi qadari musyaqqat, yakni : Ganjaran yang akan diterima tergantung pada tingkat kesulitannya. Dalam hal kurban, semakin mahal hewan yang dikurbankan, maka semakin besarlah pahala yang didapat.

Waktu Penyembelihan

Pelaksanaan penyembelihan kurban dilaksanakan mulai dari selesainya ibadah shalat Idul Adha sampai terbenamnya matahari pada hari Tasyriq yang ke-3, yakni tanggal 13 Dzulhijjah. Hal ini didasarkan pada hadis nabi:

Barangsiapa menyembelih kurban sebelum pelaksanaan shalat Idul Adha maka sesungguhnya orang itu hanya menyembelih untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa menyembelih kurban sesudah pelaksanaan shalat Idul Adha dan dua Khutbah, sesungguhnya orang itu sudah menyempurnakan ibadahnya dan sudah menjalani aturan umat Islam”  (HR. Bukhari dan Muslim).

Perhatian:

Khutbah Idul Adha terdiri dari dua khutbah, dengan dua kali duduk dan dua kali berdiri. Hal ini perlu menjadi perhatian, sebab Ibnu Qayyim Al Jauzi dalam kitab Zaadul Ma’had, mengatakan bahwa cukup satu khutbah saja dalam khutbah Ied. Padahal keterangan tentang dua kali khutbah pada hadis shohih di atas jelas  tertera, dan semestinya menjadi landasan hujjah. Wallahu A’lam.

Beberapa Perkara Sunat Dalam Kurban

  1. Membaca Basmalah ketika menyembelihnya hewan kurban
  2. Bertakbir, yakni membaca Allahu Akbar
  3. Shalawat atas Nabi. Hal ini didasarkan pada firman allah surat Al Insyirah ayat 4: "Dan kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu."
  4. Menghadap kiblat dan menghadapkan hewan yang disembelih ke kiblat juga
  5. Berdoa agar Allah menerima ibadah kurban itu
  6. Memakan sedikit dari daging kurban tersebut Firman Allah surat Al Hajj ayat 36 : “Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir."
  7. Menyaksikan saat penyembelihan hewan tersebut.  

Jika kurban kita disembelih jauh dari tempat tinggal kita, karena mengikuti perbuatan segelintir orang yang berkreasi dalam agama Islam, dengan menabur-nabur hewan kurban nun di tempat yang jauh, maka paling tidak ada dua sunnah nabi dalam pelaksanaan ibadah kurban yang hilang.

Pertama, hilangnya kesempatan memakan sebagian dari hewam kurban itu. Padahal perintah memakannya adalah perintah Allah dalam kitab suci Al Qur’an, surat Al-Hajj ayat 28:

hajj-28.png

"Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir".

Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim,  Adalah Rasulullah SAW bersabda  kepada puteri beliau Fatimah, “ Berdirilah kamu di sisi hewan kurbanmu itu, dan saksikanlah penyembelihannya. Sesungguhnya tetes pertama dari darah kurban mu itu, merupakan keampunan atas dosa-dosamu yang telah lalu.” (HR Bukhari dan Muslim).

Telah sepakat Imam Syafi’i dan seluruh ulama-ulama Syafi’iyah bahwa tidak diperbolehkan menjual sebagian kecil pun dari hewan dam haji dan hewan kurban, baik itu kurban nazar yang merupakan kewajiban untuk menunaikannya atau kurban itu adalah kurban sunat biasa. Sama ada yang dijual itu dagingnya, lemaknya, kulitnya, tanduknya, bulunya, dan lain-lainnya (termasuk tulang atau najisnya sekalipun). Demikian juga, tidak diperbolehkan menjadikan kulit hewan kurban itu atau bagian apa pun dari hewan kurban itu sebagai upah bagi tukang sembelih (tukan jagal). Akan tetapi hendaklah si pengorban mensedekahkan hewan kurbannya itu, atau mengambil sebahagian dari hewan kurban itu untuk diambil manfaat, misalnya dibuat jaket, sepatu, timba, dan lain-lainnya. (lihat Majmu’ Syarah Muhadzdzab, Imam Nawawi, jilid 9, halaman 465, bab udhiyah)

 

 

Share this post