Sosok Abu Bakar Shiddiq

Abu Bakar Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu adalah sahabat Nabi yang paling utama. Beliau adalah orang pertama yang memeluk Islam dari kalangan para sahabat Nabi, di samping Khadijah Radhiyallahu ‘anha istri Rasul, dari golongan kaum wanita, dan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu dari golongan kerabat Nabi.

Usia Abu Bakar Shiddiq hanya berbeda dua tahun satu bulan, lebih muda dari Nabi Muhammad Saw. Beliau dilahirkan di Mekkah dan diberi nama Abdul Ka’bah. Setelah masuk Islam, nama tersebut diganti menjadi Abdullah. Adapun nama Abu Bakar diberikan kepada beliau sebagai sebuah penghormatan dari kaum muslimin kepada beliau, karena keberadaan putri beliau Aisyah Radhiyallahu ‘anha, sebagai satu-satunya istri Baginda Rasul yang dinikahi beliau dalam keadaan masih perawan. Sebagaimana dimaklumi seluruh istri Nabi dinikahi dalam keadaan janda kecuali Aisyah Radhiyallahu ‘anha.

Dalam bahasa Arab anak perawan disebut ‘Bikrun’. Abu Bakar (Abu Bakrin), dalam bahasa Indonesia berarti ‘Bapak Sang Perawan’, sebuah gelar kehormatan dari kaum muslimin.Nama lengkap beliau adalah Abu Bakar, Abdullah bin Abu Quhafah Usman bin Amir bin Ka’ab bin Sa’ad bin Tamim bin Murrah. Ibu beliau bernama Ummi Khair, Salmah binti Sakhar bin Ka’ab bin Sa’ad bin Tamim bin Murrah. Moyang beliau yang bernama Murrah ini juga merupakan moyang Nabi kita Muhammad SAW.

Sebelum adanya Islam, di zaman Jahiliyah beliau pernah menikah dengan dua orang wanita. Yang pertama adalah Qatilah binti Abdul Izzi dan memberinya dua orang anak yaitu, Abdullah dan Asma’. Ada satu riwayat yang mengatakan bahwa Abu Bakar menceraikan Qatillah binti Abdul Izzi setelah beliau masuk Islam. Yang kedua adalah Ummu Rumman binti Amir dan memberinya dua orang anak pula yaitu Abdurrahman dan Aisyah. Belakangan di masa Islam, pada usia yang sudah tua, (menurut satu riwayat setelah Ummi Rumman wafat), beliau sempat menikah lagi dengan dua orang wanita setelah Ummu Rumman wafat yaitu pertama, Habibah binti Kharijah al Anshori dan memberinya seorang putri bernama Ummu Kultsum yang lahir setelah beliau wafat. Dan yang kedua adalah Asma’ binti Umais dan memberinya seorang anak laki-laki bernama Muhammad bin Abu Bakar, lahir pada tahun 10 Hijriyah (beliau ini dikenal sebagai da’i besar yang mengislamkan benua India).

Penampilan fisik Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu tampan, berkulit putih, wajahnya cerah dan lembut sedikit membungkuk dan tidak pernah membiarkan sarungnya melorot sampai ke pinggang. Wajah beliau bujur sirih, matanya cekung, dahinya sedikit menonjol dan pangkal-pangkal jarinya kokoh.

Julukan beliau yang paling terkenal adalah As-Shiddiq yang berarti jujur dan membenarkan. Kejujuran beliau sangat terkenal melekat erat dalam kehidupan sehari-hari beliau, sehingga Allah pun memuji beliau sebagai orang yang jujur dalam Firman-Nya: “Dan orang yang datang dengan kejujuran dan membenarkannya mereka adalah orang-orang yang bertakwa. Mereka berhak atas segala sesuatu yang ada di sisi Tuhan mereka sesuai dengan kehendak mereka. Itulah balasan bagi orang yang berbuat baik.”  (QS. Az Zumar: 33 – 34)

Beliau sangat membenarkan Nabi, bahkan pada saat  sebagian kaum muslimin ada yang murtad, sedangkan orang-orang kafir Quraisy mengejek dan menghina Nabi seketika Nabi baru menceritakan kepulangan beliau dari perjalanan jauh yang ditempuh dalam semalam, yakni Palestina, pada peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Ketika disampaikan kepada beliau kabar yang tidak dapat diterima akal ini, dengan tegas beliau menjawab, “Aku percaya kepada Nabi, bahkan andaikata beliau mengatakan telah melakukan perjalanan lebih jauh dari Palestina dalam waktu semalam. Aku sungguh percaya bahwa beliau telah menerima kabar dari langit baik pagi maupun petang…!” Hal ini sesuai dengan penuturan Siti  Aisyah, dan karena itu pula beliau digelari As-Shiddiq (H.R. Hakim, dishahihkan oleh Adz Dzahabi, Jilid III halaman 62 – 63).

Julukan lain, diberikan Allah kepada beliau sebagai seorang “Sahabat” Nabi. Hal ini terjadi pada saat beliau menemani Nabi bersembunyi di gua Tsur selama tiga hari tiga malam untuk menghindari kejaran kaum Quraisy. Firman Allah: “…… Sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada di dalam gua. Ketika itu, dia (Nabi) berkata kepada Sahabatnya, “janganlah bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita…..” (QS. At Taubah: 40).

Julukan lain yang diberikan kepada Abu Bakar Shiddiq adalah ‘al Atqa ‘, yaitu manusia yang paling bertakwa. Julukan ini diabadikan Allah dalam Al Qur’an: “Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling bertakwa itu dari neraka, yaitu yang menafkahkan hartanya untuk mensucikan dirinya” (QS. Al Lail: 17 – 18). Para muffasirin menunjuk bahwa orang yang paling bertakwa yang dimaksudkan ayat ini adalah Abu Bakar Shiddiq.

Suatu hari Nabi bersabda kepada Sayyidina Abu Bakar, “Engkau adalah hamba Allah yang dibebaskan-Nya dari api neraka” (H.R. Ibnu Hibban, Shahih Jilid 15 halaman 280). Karena itu pula beliau digelari pula al ‘Atiq, yakni orang yang terbebas dari neraka.

Dalam kitab Tabaqat Ibnu Sa’ad jilid 3 halaman 127, diceritakan bahwa Sayyidina Ali bin Abi Thalib berkhutbah, “Sesungguhnya Abu Bakar adalah seorang Al Awwabul Munib” , yaitu orang yang senantiasa taubat tunduk dan patuh kepada Allah karena mengagungkan-Nya serta malu pada-Nya”.

Abu Bakar Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu tercatat dalam sejarah telah berjuang mati-matian untuk agama ini, dengan mengorbankan seluruh harta beliau sehabis-habisnya. Pada awal mula masa Islam beliau termasuk salah satu dari orang yang terkaya di Mekkah. Namun, saat beliau wafat beliau sama sekali tidak memiliki harta apa-apa. Seluruh harta yang tersisa beliau kembalikan ke Baitul Mal beberapa saat sebelum beliau wafat. Warisan yang beliau tinggalkan hanyalah setengah dirham, itu pun diberikan bukan kepada keluarga beliau, tetapi diberikan kepada Khalifah penggantinya. Saat dilantik menjadi pengganti Abu Bakar, Umar bin Khattab menangis tersedu-sedu seraya memegang uang setengah dirham itu. Dan Umar berkata, “Wahai Abu Bakar sungguh engkau telah menunjuki sebuah jalan yang tersangat sulit untuk aku lalui……!”

Jasa beliau yang paling besar adalah memerintahkan Zaid bin Tsabit dalam sebuah panitia kecil untuk membukukan Al Qur’an lengkap dari awal sampai khatam. Andai saja penulisan Al Qur’an itu tidak beliau perintahkan, kita tidak tahu bagaimana nasib Al Qur’an saat ini.

Kemuliaan tertinggi yang dijanjikan Nabi kepada Sayyidina Abu Bakar, bahwa beliau akan dipanggil oleh seluruh pintu surga yang ada, yang mana beliau berhak memasuki pintu mana saja yang beliau kehendaki. Subhanallah……

Beberapa kali Nabi pernah mengangkat beliau sebagai Imam sholat bagi kaum muslimin, manakala Nabi berhalangan menjadi Imam. Dari hal inilah kemudian atas usulan Sayyidina Umar kaum muslimin mengangkat beliau sebagai Khalifah Rasulullah memimpin kaum muslimin, meneruskan kepemimpinan Nabi setelah baginda Rasul wafat.

Sayyidina Abu Bakar Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu wafat dua tahun setelah Rasulullah wafat, dalam usia 63 tahun juga, dan dikuburkan di kamar tidur Siti Aisyah, putri beliau tercinta, tepat di sisi kubur manusia agung yang menjadi junjungan beliau, yaitu Baginda Nabi Muhammad Saw.

Adakah lagi pemimpin seagung beliau saat ini….?  

Wallahu A’lam bishshowab

Share this post