Sholat Qobliyah Jum'at
Jum`at, 17 Muharram 1432 H / 24 Desember 2010
Selama ratusan tahun umat Islam di Indonesia sudah terbiasa melaksanakan sholat sunat qabliyah Jum’at dan sholat ba’diyah Jum’at. Apalagi mayoritas umat Islam Indonesia menganut Mazhab Imam Syafi’i rahimahullahu ta’ala. Dan, dalam mazhab Imam Syafi’i, sholat Jum’at itu merupakan pengganti sholat Zhuhur. Artinya setiap kaum muslimin yang telah menunaikan sholat Jum’at, tidak lagi berkewajiban untuk melaksanakan sholat Zhuhur lagi.
Imam Nawawi berkata : “Oleh sebab itu jika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ternyata telah melaksanakan sholat sunat qabliyah Zhuhur, maka berarti Nabi juga menganjurkan supaya kita melakukan sholat sunat qabliyah Jum’at juga, karena sholat Jum’at itu diqiyaskan kepada Zhuhur.” (Lihat Kitab Majmu’ Syarah Muhadzdzab jilid IV halaman 10).
Imam Nawawi juga menjelaskan dalam kitab Majmu’-nya: “Furu’ mengatakan sunat hukumnya sholat sunat qabliyah dan ba’diyah Jum’at sekurang-kurangnya dua rakaat sebelum sholat jum’at itu dan dua rakaat sesudahnya. Dan lebih baik jika dilaksanakan 4 rakaat sebelumnya dan 4 rakaat sesudahnya.” (lihat Majmu Syara’ Muhadzdzab Imam Nawawi halaman 9).
Dalil-Dalil Tentang Sholat Sunat Qabliyah Jum’at
Hadis-hadis Umum:
Dari Abdullah bin Mughafal bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda: “Setiap antara adzan dan iqamat terdapat sholat sunat rawatib.” (HR. Bukhari dan Ibnu Hibban, Shahih). Lihat keterangan pada kitab Fathul Bari’ jilid II halaman 427, syarah hadis Bukhari karangan Imam Ibnu Hajjar Al Asqalani.
Dalam hadis lain dari Abdullah bin Zubair radhiyallahu ‘anhu Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda: “Tidak ada sholat yang difardhukan kecuali sebelumnya ada dua rakaat sholat sunat yang disunatkan untuk dikerjakan.” (HR. Ibnu Hibban, Shahih).
Hadis-hadis Khusus:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: “Suatu hari Sulaik al Ghathafani datang ke Masjid Nabawi ketika itu Rasulullah sedang berkhutbah Jum’at, maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkata kepada Sulaik: “Apakah kamu sudah sholat sunat dua rakaat sebelum kamu tiba di Masjid ini? Sulaik menjawab: “Belum”, lalu Rasulullah bersabda: “Sholatlah kamu dua rakaat dan ringkaskan saja sholat mu itu.” (HR. Ibnu Majah, Shahih, juga melalui sanad Jabir radhiyallahu ‘anhu).
Berkata Syaikh Umaira: “Andaikata ada orang yang mengatakan bahwa sholat sunat yang dimaksud ini adalah sholat sunat tahiyyatul masjid, maka hal itu adalah tidak mungkin, sebab sholat tahiyyatul masjid tidak dapat dilaksanakan kecuali di masjid. Padahal dalam hadis di atas Nabi bertanya kepada Sulaik: “Apakah engkau sudah sholat sunat sebelum tiba di tempat ini?” (lihat Umaira halaman 212).
Dalam kitab Talkhish al Habir, Syaikh Ibnu Hajar Al-Asqalany menukilkan sebagai berikut: “Al Majid Ibnu Taimiyyah mengatakan dalam kitabnya Al Muntaqa: “Bahwa sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang mengatakan: “Apakah engkau sudah sholat sunat sebelum tiba di tempat ini?” adalah dalil yang menunjukan bahwa sholat yang dimaksud adalah sholat sunat qabliyah Jum’at bukan sholat sunat tahiyyatul masjid. (Lihat kitab Talkhish al-Habir jilid II halaman 74).
Dalam hadis yang lain dari Nafi’ dia berkata: “Abdullah ibnu Umar selalu melakukan sholat sunat yang panjang sebelum sholat Jum’at dan melakukan sholat sunat setelahnya dua rakaat pula di rumahnya dan Beliau berkata: “Demikianlah biasa yang dilakukan oleh Rasulullah.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Hibban, Shahih atas syarat Imam Bukhari). Imam Nawawi menjadikan hadis ini sebagai dalil untuk menetapkan adanya sholat sunat qabliyah Jum’at.
Imam Bukhari sendiri dalam kitabnya yang terkenal Shahih Bukhari telah menetapkan sebuah bab khusus yang diberi judul Bab Sholat Sunah Setelah Jum’at Dan Sebelum Jum’at.
Sementara Ibnu Taimiyah, seorang ulama paling besar dalam mazhab Wahabi/Salafi memberi komentar tentang orang-orang yang melakukan sholat sunat qabliyah Jum’at di zamannya dengan mengatakan: Orang-orang yang melakukan sholat sunat qabliyah Jum’at itu tidak boleh dipungkiri keberadaannya. (lihat kitab Al-Insyaf jilid II halaman 406 karangan Imam al-Mardawi al-Hanbali).
Ketetapan Fatwa Dalam Mazhab Imam Syafii
Imam Nawawi berkata: Disunatkan sholat sunat rawatib setelah sholat Jum’at empat rakaat dan juga sebelum sholat sunat disunatkan pula sholat sunah rawatib seperti yang disunahkan pada sholat sebelum Dzuhur (lihat Minhajut Thalibin, Imam Nawawi halaman 29).
Ada satu kekeliruan pemahaman di tengah kaum muslimin akhir-akhir ini, yang mengatakan bahwa amalan sunat itu bila dikerjakan berpahala, dan bila ditinggalkan tidak apa-apa.... Padahal meninggalkan sebuah amalan sunat bukannya tidak apa-apa di sisi Allah, akan tetapi rugi dan dibenci Allah Subhanahu Wa Ta'ala, serta dibenci oleh kaum Muslimin juga.
Sungguh sangat mengherankan sekali jika kemudian Nashiruddin Al Albani berani mengatakan sholat sunnat Qobliyah Jum'at adalah sebuah amalan yang tidak pernah diperintah Rasul dan tidak pernah diamalkan oleh ulama Salaf. Apakah dia tidak pernah jumpa dengan riwayat-riwayat hadis di atas? Apakah hadis Sulaik yang masyhur itu tidak pernah terbaca olehnya...? Apakah hadis Ibnu Umar, shahabat nabi yang alim itu juga tidak pernah dibacanya...? Atau sengaja disembunyikan....?
Sementara Imam Ali Radhiyallahu 'Anhu pernah berkata : " Adalah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassallam sebelum sholat Jum'at, beliau mengerjakan sholat sunnah Qabliyah empat roka'at, dan mengerjakan sholat sunat setelah Jum'at itu empat rokaat pula". Perkataan Imam Ali ini dinyatakan sebagai memiliki sanad yang kuat oleh Al-hafidh Al Iraqi, dalam kitab Fawaid. Untuk lebih jelasnya lihatlah kitab Tharh al Tatsrib, Cetakan Beirut, Darul Ihya' Al Turats al 'Arabi, Jilid 3, halaman 41.
Jika ada orang yang tidak mau melakukan sholat Qobliyah Jum'at karena malas, mungkin kita masih maklum, dan akan berdoa agar Iman orang itu naik dan dia jadi rajin mengerjakannya kelak. Tetapi jika ada orang yang berani menuduh amalan sholat Qobliyah Jum'at adalah amalan bid'ah dengan menyembunyikan hadis-hadis yang berkenaan dengan dalil-dalil kesunatannya, apakah orang seperti ini mesti dibiarkan merusak umat ini? Tentu tidak boleh dibiarkan, bukan...? Apalagi sampai membawa-bawa nama Imam Syafi'i (untuk dapat menyesatkan dan mengelabui umat ini?).
Dengan mengatakan bahwa Imam Syafi'i tidak pernah mengamalkan Sholat Qobliyah Jum'at ini, seolah-olah mereka lebih mahir dalam memahami Madzhab Syafi'i dibandingkan Ulama-ulama pengikut Imam Syafi'i sekelas Imam Nawawi dan Imam Ibnu Hajar, dua orang ulama besar Madzhab Syafi'i yang hafal ratusan ribu hadis itu...!
Dengan demikian jelaslah bagi kita bahwa sholat sunat qabliyah Jum’at dan sholat sunat ba’diyah Jum’at adalah satu perkara yang telah disyariatkan dalam agama Islam sesuai dengan sunnah Baginda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, bahkan telah berurat dan berakar dilakukan selama lebih seribu empat ratus tahun. Semoga dengan keterangan ini menjadi mantaplah amalan umat Islam Indonesia dan tidak menjadi goyah dengan serangan segelintir orang yang rajin menuduh amalan kaum muslimin di luar kelompoknya sebagai amalan bid’ah, yang mereka ancam pelakunya dengan neraka. Na'udzubillah.....
Wallahu a’lam bishshowab