Home Jubah Sorban Kacamata Pena
20
May
English Indonesia
Login Register
 
   
 
 

Rasulullah bersabda:
Barangsiapa yang tidak memiliki perasaan kasih sayang, maka ia tidak akan disayangi. Sayangilah seluruh penduduk dunia, niscaya seluruh penduduk langit akan menyayangimu.”  (Al-Hadits)

 
 
Media Kalender Forum Bazar
 
 
Latest Articles
 
Rabu, 4 Januari 2012
 
Allah menciptakan manusia sebagai para khalifah-Nya… more
Kamis, 29 Desember 2011
 
Apakah kematian itu? Definisi mati menurut ilmu kedokteran… more
Kamis, 22 Desember 2011
 
Mati adalah sebuah rahasia dan hanya Allah Swt. yang… more
Selasa, 1 November 2011
 
Bulan Dzulhijjah adalah salah satu bulan yang istimewa… more
Kamis, 20 Oktober 2011
 
Di dalam Bahasa Indonesia, para penutur bahasa Indonesia… more
Rabu, 28 September 2011
 
Sholat tahajjud adalah salah satu sholat yang diperintahkan… more
Senin, 29 Agustus 2011
 
Kata puasa sudah demikian populernya di tengah masyarakat… more
 
 
 
Puasa di Bulan Sya'ban
Ahad, 15 Sya'ban 1432 H / 17 Juli 2011

Akhir-akhir ini timbul perdebatan di kalangan umat Islam karena telah beredar sebuah ajaran yang melarang kaum muslimin untuk melakukan puasa sunat di bulan-bulan tertentu, seperti bulan Rajab, bulan Sya’ban dan Dzulhijjah. Tuduhan yang paling berbahaya adalah tuduhan bid’ah dan ancaman neraka atas para pelaku puasa sunat di bulan-bulan tersebut. Keterangan tentang sunatnya puasa di bulan Rajab sudah kami tuliskan dalam website ini dengan judul “Keagungan Bulan Rajab”. Bagi pembaca yang berminat untuk mengetahuinya silakan membacanya.

Puasa di bulan Sya’ban

Para ulama ahlu sunnah wal jama’ah sepakat bahwa melaksanakan ibadah puasa di luar hari yang diharamkan oleh baginda Nabi saw semuanya dihukumkan sunat dan diberi pahala para pelakunya. Khusus melaksanakan ibadah di bulan Sya’ban, sejak awal bulan sampai tanggal 15 bulan Sya’ban, dalam mazhab Imam Syafi’i hukumnya sunat.

Ada sebuah hadis dari Siti Aisyah dari jalan Malik bin Abi Nadhir dari Abi Salamah dari Aisyah yang berbunyi: “Adalah Rasulullah saw senantiasa berpuasa setiap bulannya sampai kami menganggap seolah-olah Nabi saw tidak pernah berbuka puasa (setiap hari berpuasa), dan adalah Rasulullah saw berbuka puasa setiap harinya seolah-olah kami menganggap beliau saw tidak berpuasa sama sekali. Dan tidaklah aku melihat Rasulullah saw menyempurnakan puasa sebulan penuh kecuali di bulan Ramadhan, dan tidaklah aku melihat beliau berpuasa sunat sebanyak yang beliau saw lakukan di bulan Sya’ban.”  (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadis yang lain dikatakan: “Adalah Rasulullah saw berpuasa di bulan Sya’ban sebulan penuh, tetapi kadang-kadang Rasulullah saw berpuasa di bulan Sya’ban sedikit hari saja yang tersisa, (yakni hampir penuh).” (HR. Muslim)

Dari hadis di atas jelaslah bahwa nabi Muhammad saw melakukan puasa di bulan Sya’ban dengan jumlah hari yang sangat banyak, jauh lebih banyak dibandingkan bulan yang lain.

Imam Nawawi menjelaskan bahwa puasa terbanyak yang dilakukan oleh nabi di bulan Sya’ban itu adalah selama dua tahun saja, yakni ketika puasa ramadhan belum di wajibkan oleh Allah azza atas umat ini.

Adapun berpuasa setelah lewat tanggal 15 Sya’ban (lewat daripada Nisfu’ Sya’ban) umat Islam dilarang melakukan puasa pada saat-saat tersebut. Artinya, berpuasa pada separuh akhir bulan Sya’ban dilarang oleh nabi saw. Pelarangan ini, dalam mazhab Syafi’i, adalah pelarangan yang makruh hukumnya. Hal ini berdasarkan hadis Nabi saw yang berbunyi: “Jika bulan Sya’ban tertinggal bersisa separuh lagi, maka janganlah kamu berpuasa.” (HR. Turmidzi, Hasan Shahih).

Khusus untuk akhir Sya’ban yaitu pada tanggal 29 Sya’ban di mana kaum muslimin diperintahkan untuk melakukan ru’yatul hilal (melihat bulan awal Ramadhan), atau pada tanggal 30 Sya’ban, di mana kaum muslimin melakukan istikmal, yakni menggenapkan Sya’ban 30 hari sebab tidak dapat melihat hilal, umat Islam dilarang berpuasa juga. Larangan ini terdapat dalam beberapa hadis. Antara lain, hadis dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw telah bersabda: ”Janganlah kamu mendahului puasa Ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari sebelum Ramadhan itu, kecuali jika bertepatan dengan kebiasaannya berpuasa sunat, maka orang itu boleh meneruskan kebiasaannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam hadis yang lain Rasulullah saw bersabda: “Janganlah kamu berpuasa sebelum Ramadhan, berpuasalah kamu jika telah melihat Hilal Ramadhan, dan ber-Hari Rayalah kamu jika telah melihat Hilal bulan Syawal. Dan jika hilal terhalang oleh awan, maka sempurnakanlah puasamu menjadi 30 hari.” (HR. Turmidzi)

Hadis yang paling keras pelarangannya dalam hal puasa di akhir Sya’ban adalah hadis yang diriwayatkan dari Amr bin Yasir dia berkata: “Siapa yang puasa pada hari ragu-ragu (akhir Sya’ban), maka orang tersebut telah bermaksiat kepada Abul Qasim, Nabi Muhammad. (HR. Turmidzi dan Abu Dawud). Berdasarkan hadis ini, sebagian ulama madzhab Syafi’i mengharamkan puasa pada akhir Sya’ban itu.

Dari hadis-hadis di atas jelaslah bahwa berpuasa di bulan Sya’ban hukumnya sunat. Apalagi telah datang keterangan dari nabi saw kita bahwa pada bulan Sya’ban inilah amal-amal kaum muslimin selama setahun dilaporkan kepada Allah. (HR. Ibnu Khuzaimah, Shahih). Dengan demikian melarang orang melakukan puasa di bulan Sya’ban ini justru tidak ada dasarnya sama sekali.

Imam Nawawi menjelaskan dalam kitab Majmu’ Syarah Muhadzdzab bahwa Nabi saw pernah berpuasa sehari di awal Sya’ban, dan sehari pada Nisfu’ Sya’ban dan sehari pada akhir bulan Sya’ban. Sehingga tidak pernah sunyi diri Nabi saw dari melakukan ibadah puasadi bulan ini . Akan tetapi puasa seperti ini ( yakni 3 hari di awal, di tengah dan di akhir Sya’ban) hanya beliau lakukan dalam dua tahun saja (lihat Majmu’ Syarah Muhadzdzab, Bab Puasa Sunat, Jilid VII, halaman 654).

Belakangan, Nabi saw melarang puasa pada separuh akhir bulan Sya’ban, seperti yang dijelaskan pada hadis hadis di atas.  Namun, hal  itu tidak berarti puasa pada satu hari awal Sya’ban serta sehari di pertengahannya menjadi haram hukumnya! Bukankah yang dilarang oleh nabi saw hanya pada pertengan akhir dari bulan Sya’ban….?

Catatan:

Di banyak negeri pada malam Nisfu’ Sya’ban dan keesokkan harinya, digalakkan untuk banyak beramal sunat mengingat pentingnya hari tersebut, kemudian mengisinya dengan ibadah puasa keesokkan harinya. Hal ini bagaimanapun hukumnya sunat belaka.  Sangat mustahil melarang orang memperbanyak dzikir pada malam Nisfu’ Sya’ban. Bukankah perintah berdzikir yang banyak itu terdapat pada banyak ayat al qur’an dan hadis-hadis Nabi saw yang shahih, tanpa menetapkan waktunya? Artinya, kapan saja berdzikir itu sunat hukumnya, dan tidak boleh dilarang…..!

Ada orang yang mengisi malam Nisfu Sya’ban itu dengan shalat-shalat sunat serta tilawat al Qur’an yang banyak. Hal seperti ini pastilah baik. Sangat mustahil mengatakan bahwa berdzikir, shalat sunat, tilawat al Qur’an, dan berdoa semuanya itu bagus dan hukumnya sunat kapan saja dilakukan, kecuali pada malam Nisfu’ Sya’ban dan keesokan harinya.  Semua amal tersebut akan berubah menjadi haram dan para pelakunya akan dimasukkan ke dalam neraka…….

Betapa anehnya pendapat itu……..

Betapa tidak……!  Suatu amal yang hukumnya semula sunat, mendadak berubah menjadi haram karena dilakukan pada malam tertentu, malam yang mereka benci…!. Seolah-olah agama Islam itu agama yang penuh jebakan, jika beda hari beramal sunat,  akan berobah menjadi ancaman masuk neraka…..! Alangkah mengerikannya Agama Islam jika begini…?

Kita tidak mengerti maksud segelintir orang yang mati-matian melarang kaum muslimin menyibukkan diri dengan ibadah di malam Nisfu’ Sya’ban. Apakah mereka lebih senang melihat kaum muslimin pada malam tersebut sibuk dalam kelalaian dan sibuk dengan maksiat……..!

Dalam mazhab Syafi’i semua amalan sunat akan tetap hukumnya sunat kecuali ada pelarangan khusus. Contohnya, semua sholat sunat hukumnya sunat kecuali dilakukan ketika selesai shalat ashar dan shubuh dan saat matahari tengah  terbit atau tengah terbenam. Kenapa…..? jawabnya tidak lain karena ada larangan dari nabi saw.

Membaca al Qur’an hukumnya sunat kecuali saat sedang ruku’ dan sujud dalam shalat. Kenapa…..? jawabnya karena ada larangan dari nabi saw.

Berdzikir hukumnya sunat, kecuali ketika sedang buang air besar dan bersetubuh. Kenapa……? Karena ada larangan…….!

Nah, semua amalan sunat hanya bisa berubah hukumnya menjadi makruh atau haram hanya jika ada larangan dari Nabi saw.. Jika tidak ada larangan maka hukumnya tidak berubah. Hal ini perlu dipahami oleh segelintir orang yang rajin menuduh bid’ah kaum muslimin di luar kelompok mereka.

Wallahu A’lam Bishshawab

 
Total pengunjung
120,174