Home Jubah Sorban Kacamata Pena
20
May
English Indonesia
Login Register
 
   
 
 

Rasulullah bersabda:
"Barangsiapa menemui saudara Muslimnya dengan sikap yang disukai Allah untuk menyenangkannya, maka Allah 'azza wa jalla akan menyenangkannya pada hari kiamat."  (HR. Thabrani)

 
 
Media Kalender Forum Bazar
 
 
Latest Articles
 
Rabu, 4 Januari 2012
 
Allah menciptakan manusia sebagai para khalifah-Nya… more
Kamis, 29 Desember 2011
 
Apakah kematian itu? Definisi mati menurut ilmu kedokteran… more
Kamis, 22 Desember 2011
 
Mati adalah sebuah rahasia dan hanya Allah Swt. yang… more
Selasa, 1 November 2011
 
Bulan Dzulhijjah adalah salah satu bulan yang istimewa… more
Kamis, 20 Oktober 2011
 
Di dalam Bahasa Indonesia, para penutur bahasa Indonesia… more
Rabu, 28 September 2011
 
Sholat tahajjud adalah salah satu sholat yang diperintahkan… more
Senin, 29 Agustus 2011
 
Kata puasa sudah demikian populernya di tengah masyarakat… more
 
 
 
TSUNAMI ANTARA BALA DAN TENTARA
Selasa, 25 Rabiul Akhir 1430 H / 21 April 2009

            Badai tsunami yang baru-baru ini menerpa wilayah Aceh dan Sumatera Utara sebenarnya bukanlah hal yang baru. Ada sekitar 28 wilayah di Indonesia yang rawan dilanda tsunami. Dan, dari antara 28 wilayah tersebut tercatat Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Tengah bagian selatan dan Jawa Timur bagian selatan. Sementara di kawasan Indonesia Timur tercatat Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Biak, Fak-fak dan Balikpapan.

Secara ilmiah seharusnya dibuat alat pendeteksi gempa di daerah-daerah rawan tersebut agar dapat diketahui secara dini datangnya badai tsunami itu. Alat penunjang lain yang tak kalah penting ialah dengan menjaga hutan bakau di daerah pesisir pantai sebagai pelindung dan pereduksi gelombang tsunami. Pemerintah juga harus memikirkan pembebasan wilayah pantai yang rawan badai tsunami dari pemukiman penduduk, terutama pemukiman nelayan yang miskin dan kumuh. Memang diakui hal ini membutuhkan kesungguhan dan biaya yang sangat besar. Akan tetapi, tidaklah mustahil apabila usaha ini mulai dirintis dan dilaksanakan secara bersama-sama antara rakyat dan pemerintah.

Berapa Kali Harus Kehilangan Tongkat ?

Pepatah Arab mengatakan bahwa, “keledai tidak pernah tersandung dua kali pada tempat yang sama”. Padahal keledai adalah binatang yang dikenal sangat bodoh oleh manusia. Malangnya manusia terkadang lebih parah dari keledai, selalu tersandung pada tempat dan masalah yang sama bahkan lebih dari dua kali.

Badai tsunami misalnya, bukan baru sekali ini melanda negeri tercinta Indonesia. Selama 12 tahun ini saja badai tsunami berskala besar telah empat kali menerpa negeri ini. Tercatat di Flores pada tanggal 12 Desember 1992. Disusul empat tahun kemudian tsunami menerjang Toli Toli pada tanggal 1 Januari 1996. Satu bulan kemudian di Biak tepatnya tanggal 17 Februari 1996 mendapat giliran pahitnya badai ini. Terakhir yang paling dahsyat adalah pada tanggal 26 Desember 2004 yang telah meluluh-lantakkan wilayah Aceh dan Nias. Kesemuanya ini seolah-olah tidak memberi pelajaran sama sekali kepada pemerintah dan rakyat Indonesia.

Kita seakan-akan terlena dan lupa akan bahaya dahsyat yang bernama badai tsunami ini. Upaya lahiriyah seperti peralatan pendeteksi gempa, pemindahan pemukiman rakyat, penghijauan wilayah pantai dan lain-lain selalu saja diabaikan. Seolah-olah badai yang telah berulang kali mencabut nyawa ratusan ribu orang itu tidak memberikan pelajaran sama sekali.

Belum lagi upaya batiniyah. Di dalam Al Qur’an telah secara nyata digambarkan bahwa segala macam bala bencana yang terjadi di bumi ini adalah karena ulah tangan manusia, bukan karena perbuatan bumi. Sayangnya, masih ada beberapa tokoh agama yang mau membelokkan perkara ini dengan mengatakan bahwa bencana datang karena ulah pemimpin, bukan kesalahan kolektif rakyat setempat (pernyataan para pemuka agama se-Jakarta Timur di Pesantren Ar Rahmah Kampung Melayu, Jakarta Timur).

Kita tidak habis mengerti bagaimana kesimpulan seperti ini dapat muncul. Padahal di dalam surat Ar Rum ayat 41 dikatakan dengan jelas, kerusakan justru muncul karena ulah tangan manusia (Bimaa kasabat aidinnaas). Aidinnaas berarti ulah tangan manusia secara umum, bukan hanya para pemimpin mereka saja.

Tidak dapat dipungkiri bahwa Nangroe Aceh Darussalam (NAD) adalah sebuah negeri yang menyandang predikat Serambi Mekkah. Juga telah dicanangkan sebagai satu-satunya provinsi di Indonesia yang memberlakukan syariat Islam bagi para pemeluknya di negeri tersebut, dan telah melengkapi pelaksanaannya dengan membentuk Polisi Syariah, sebagai pengawas pelaksanaan hukum Islam. Akan tetapi, semua orang di negeri itu juga tahu bahwa maksiat tetap saja berlaku baik secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan.

Yang paling menonjol adalah suasana menjelang badai tsunami datang. Di beberapa pesisir pantai sekitar Banda Aceh telah digelar keyboard tunggal yang menampilkan penyanyi-penyanyi wanita di depan umum, dengan acara joget masal. Dan, semua orang tahu bahwa perbuatan ini jelas-jelas melanggar syariat Islam yang telah dicanangkan tersebut.

Belum lagi banyaknya jumlah penduduk Aceh yang beragama Islam yang meninggalkan shalat lima waktu. Padahal sebesar-besar maksiat setelah syirik adalah meninggalkan shalat.

Penulis seketika terjadi musibah di Aceh, segera berangkat ke Medan untuk kemudian melakukan perjalanan darat dengan mobil menuju daerah Aceh. Tidak dapat dipungkiri bahwa hati kami benar-benar teriris melihat peristiwa tragis yang telah menimpa saudara-saudara penulis di NAD. (Nenek wanita penulis berasal dari negeri Aceh). Hampir tidak ada lagi bangunan yang selamat dari amukan badai tersebut. Penulis juga sempat melihat ke kemah-kemah dan posko-posko penampungan pengungsi di NAD tersebut. Perasaan sedih jelas tidak dapat dihilangkan dari hati kami. Namun hal yang paling menyedihkan perasaan penulis adalah ketika melihat banyak sekali kaum muslimin yang meninggalkan shalat meskipun telah mengalami teguran besar dari Allah. Bahkan, para pengungsi yang tinggal di Masjid sekalipun banyak yang hanya berlalu lalang saja ketika adzan berkumandang dan shalat berjamaah telah didirikan.

Melihat hal ini sepertinya Aceh tidak hanya perlu bantuan materil untuk membangun kembali kehidupan di negeri ini, lebih dari itu Aceh justru sangat memerlukan sentuhan da’wah dari negeri lain agar segenap rakyat Aceh dapat benar-benar menjalankan segala perintah Allah dan menjauhkan segala larangan-Nya sekaligus menjadi negeri percontohan bagi tegaknya ajaran Islam di negeri Indonesia tercinta ini.

Peranan Tentara

Melalui tulisan ini penulis ingin mengucapkan salut dan rasa hormat serta terima kasih terhadap para relawan yang telah sudi mengorbankan harta dan diri mereka untuk pemulihan kehidupan normal di NAD. Juga rasa salut, rasa hormat serta terima kasih penulis yang tinggi ingin kami sampaikan melalui tulisan ini kepada segenap anggota TNI yang bertugas di NAD.

Terlihat dengan jelas betapa besarnya pengorbanan para anggota TNI dalam memberikan bantuan dan pencarian mayat para korban. Meskipun, harus menebusnya dengan taruhan nyawa sebab Gerakan Aceh Merdeka tetap saja tidak mau perduli dengan musibah yang berlaku dan berkali-kali melakukan penembakan terhadap para anggota TNI tersebut.

Salah satu cerita tentang pengorbanan mereka para anggota TNI ingin kami sampaikan melalui tulisan ini.

Siang itu cuaca sangat panas dan menyengat. Apalagi panas tersebut berada di sekitar pantai dekat laut. Saat itu waktu menunjukkan pukul 14.00 WIB. Kami, penulis dan beberapa orang sahabat memasuki wilayah kecamatan Bayu, Kabupaten Bireun di wilayah Aceh Utara. Mobil kami membelok ke kanan memasuki sebuah desa yang telah musnah diterjang badai tsunami. Tempat itu bernama Desa Lancuk terletak di tepi pantai selat Malaka.

Sekitar satu kilometer dari tepi laut perjalanan mobil terhenti karena jembatan terputus. Yang tinggal dari jembatan itu hanya beberapa ruas besi saja. Sementara tepat pada sisi jembatan di tengah jalan aspal tergeletak sebuah kapal nelayan berukuran 4 x 20 m. Kapal ini terseret arus sejauh 1,5 km dari tempatnya semula.

Ketika kami turun dari mobil, kami dapati tujuh orang anggota TNI berseragam lengkap berada di sekitar sungai kecil dekat jembatan itu. Mereka terlihat bersiaga dan mengokang senjata ketika kami terlihat turun dari kendaraan. Kami tersenyum dan memaklumi kesiap-siagaan mereka. Seketika kami bertegur sapa dan saling kenal suasana berubah menjadi cair dan akrab.

Kami menanyakan siapa mereka dan berapa banyak jumlah anggota yang bertugas di Desa Lancuk tersebut. Mereka menjawab bahwa mereka berasal dari Kesatuan Marinir di Cilandak Jakarta dan terdiri dari satu Pleton dengan 22 orang anggota personil. Seketika mata kami tertumbuk pada seorang personil yang sedang berjalan di dalam air setinggi dada sambil membawa sebuah rakit kayu. Ketika ditanyakan kepada mereka siapa dia, kami mendapat jawaban bahwa orang itu adalah komandan pleton mereka. Segera kami memintanya naik ke tempat kami berkumpul.

Penulis bertanya berapa jumlah korban yang diseret arus tsunami. Sang komandan yang bernama Rudi menjawab dengan rasa haru dan terbata-bata bahwa mayat yang telah ditemukan sejumlah 256 orang. Satu diantaranya adalah anggota pleton mereka yang bernama Arief yang gugur bersama rakyat desa. Prajurit Arief gugur ketika sedang menggendong seorang nenek yang sakit dengan seorang anak kecil. Sementara beliau harus membawa sepucuk senjata M-16 di bahunya. Ketika itulah gelombang besar datang menerpa mereka. Beliau sempat berlari menuju jembatan dan melemparkan nenek serta anak tersebut ke jembatan tadi pada saat gelombang yang terbesar menerpa mereka. Nenek dan anak tadi selamat. Namun prajurit Arief terseret arus sejauh 4 km dan wafat menjumpai Tuhannya. Rudi sendiri bertahan di posnya dan baru selamat dari terjangan tsunami setelah memeluk sebuah pohon yang menyebabkan luka pada kedua lengannya. (terlihat lukanya masih belum kering).

Sejenak kami semua terdiam. Hanya air mata yang mengucur keluar membasahi pipi karena rasa haru. Kemudian kami katakan kepada mereka semoga pak Arief telah gugur sebagai syuhada. Ketika mayat beliau ditemukan dua hari kemudian, didapati keadaan mayat tersebut sangat bersih dan bercahaya berseragam PDH, lengkap dengan sepatu laras panjangnya. Itulah bukti bahwa beliau wafat dengan husnul khatimah. Prajurit Arief kini telah dikebumikan di dekat rumahnya komplek Angkatan Laut Jonggol.

Sebelum berpisah kami sempat men-targhib mereka agar mereka sungguh-sungguh bertugas dan memelihara perintah Allah terutama shalat lima waktu. Kami meyakinkan mereka bahwa tugas mereka mulia dan jika mereka wafat dalam tugas tersebut mereka akan mati mulia pula di sisi Allah.

Sekelumit kisah di atas semoga membuka khazanah berfikir kita agar mau bersangka baik dengan para tentara yang ada di sana. Dan, semoga kiranya demo yang bernada menghina fungsi dan peranan TNI dalam menanggulangi korban tsunami di Aceh dapat diakhiri.

Amin….

 
Total pengunjung
120,174