Home Jubah Sorban Kacamata Pena
20
May
English Indonesia
Login Register
 
   
 
 

Rasulullah bersabda:
"Barangsiapa menemui saudara Muslimnya dengan sikap yang disukai Allah untuk menyenangkannya, maka Allah 'azza wa jalla akan menyenangkannya pada hari kiamat."  (HR. Thabrani)

 
 
Media Kalender Forum Bazar
 
 
Latest Articles
 
Rabu, 4 Januari 2012
 
Allah menciptakan manusia sebagai para khalifah-Nya… more
Kamis, 29 Desember 2011
 
Apakah kematian itu? Definisi mati menurut ilmu kedokteran… more
Kamis, 22 Desember 2011
 
Mati adalah sebuah rahasia dan hanya Allah Swt. yang… more
Selasa, 1 November 2011
 
Bulan Dzulhijjah adalah salah satu bulan yang istimewa… more
Kamis, 20 Oktober 2011
 
Di dalam Bahasa Indonesia, para penutur bahasa Indonesia… more
Rabu, 28 September 2011
 
Sholat tahajjud adalah salah satu sholat yang diperintahkan… more
Senin, 29 Agustus 2011
 
Kata puasa sudah demikian populernya di tengah masyarakat… more
 
 
 
Hati-hati, Bukan Curiga !
Selasa, 25 Rabiul Akhir 1430 H / 21 April 2009

Ketika Cournelis de Houtman pertama sekali mendarat dengan segenap pasukannya di pantai Pulau Jawa pada tahun 1596 tidak ada seorang pun yang menaruh curiga kepada Armada Laut Belanda ini. Sebagai penganut agama Islam yang fanatik, Sultan Banten, penguasa Sunda Kelapa dan Laut Banten serta-merta menyambut mereka sebagaimana layaknya rombongan tamu. Apalagi ketika itu dengan kata-kata manis penuh senyuman ramah sang Jendral Belanda ini hanya meminta sebidang tanah sebagai markas dagang mereka. Alasan yang dikemukakan tidak lain adalah alasan kemanusian, yaitu berdagang, tidak lebih dari itu !

Namun apa daya. Ternyata alasan kedatangan mereka sebagai sebuah misi dagang hanyalah tipu daya belaka. Dan, kebaikan Sultan Banten menerima mereka sebagai tamu akhirnya harus ditebus dengan berjuta-juta penderitaan yang berkepanjangan. Tidak hanya negeri Banten dan Jawa Barat saja yang menjadi korban, bahkan dari Sabang sampai Merauke, segenap bumi nusantara akhirnya terjajah dan hidup menderita selama 350 tahun.

Kini persoalan yang hampir sama telah mendera negeri Indonesia tercinta. Bermula dari datangnya bala bencana dahsyat yaitu Badai Tsunami yang menerpa lebih dari tiga Kabupaten di Nangroe Aceh Darussalam serta meluluh-lantakkan hampir seluruh bangunan yang ada di tiga kabupaten tersebut bahkan telah merenggut lebih dari 150 ribu jiwa manusia. Maka mulailah berdatangan bala bantuan asing dari berbagai negara sedunia ke negeri ini.

Beragam-ragam tanggapan pun mulai bermunculan. Ada yang sangat antusias menerima segala bentuk bantuan yang datang bahkan sampai menutup mata hati kewaspadaan. Ada yang menerimanya dengan dingin. Tetapi ada pula yang menerimanya dengan penuh rasa curiga. Sebagaimana halnya manusia tentu saja perbedaan sikap dan pola pandang ini adalah hal yang lumrah saja.

Belajar dari sejarah

Sejarah dapat menjadi guru dan suluh bagi suatu bangsa. Sudah dapat dipastikan dan telah terbukti bahwa sejarah selalu saja berulang-ulang pada kurun waktu yang berbeda-beda. Apakah pada masalah sosial, budaya, politik, agama, kesenian, pertahanan dan keamanan, selalu saja ada pengulangan sejarah. Oleh karena itu sebagai bangsa yang berfikir sudah selayaknya kita tidak menafikan sejarah.

Dalam hal penjajahan sejak zaman primitif sampai zaman modern ini selalu saja keadaan yang sama berulang. Indonesia misalnya, tertipu oleh Belanda yang datang menjajah Indonesia karena mereka tidak pernah mengemukakan maksud sebenarnya yang ada dalam misi mereka. Seandainya saja mereka mengemukakan keinginan untuk menjajah dan merusak kita sejak awal kedatangan, sudah dapat dipastikan seluruh armada mereka itu akan musnah dan terbunuh.

Begitu juga dengan penjajah Jepang. Mereka tidak pernah berkata terus terang ingin menjajah negeri Indonesia tercinta. Yang mereka kemukakan adalah sebuah misi kemanusiaan sesama bangsa Asia untuk berjuang bersama memerdekakan negeri Timur Raya dari penjajahan Barat. Akan tetapi, hasilnya yang kita terima ternyata hanay sebuah tipu daya pula. Sama dan serupa dengan penjajah Belanda sebelumnya, bahkan lebih kejam lagi adanya.

Di abad modern ini banyak orang membantah sinyalemen di atas dengan mengatakan bahwa penjajahan modern tidak lagi menduduki sebuah negara. Tetapi, lebih canggih dari itu dan hanya menguasai ekonomi dan budaya dunia belaka. Namun, ungkapan ini kelihatannya tidak benar. Terbukti banyak sekali kejadian pendudukan oleh bangsa maju di dunia ini terhadap negara-negara yang masih terbelakang.

Ambil contoh negeri Afganistan. Pada tahun 80-an Uni Soviet, sebuah negara maju pemimpin Blok Timur telah menjajah Afganistan secara terang-terangan. Puluhan ribu tentara Uni Soviet telah dikirim ke negeri yang malang ini lengkap dengan peralatan perang yang canggih dan meluluh-lantakan negeri tersebut. Misinya tentu saja tidak dikatakan ingin menjajah. Akan tetapi yang muncul adalah sebuah misi kemanusiaan yang membela pemerintahan Babrak Kamal yang sah. Tindakan penjajahan tersebut tidak diterima oleh rakyat Afganistan dan menyebabkan maraknya perlawanan bersenjata dari para Mujahidin Afgan.

Amerika pun tidak tinggal diam. Dengan menyebutnya sebagai misi kemanusiaan USA pun mengirimkan bantuan yang sangat besar kepada pejuang Afgan. Sehingga tidak heran ketika itu jika seorang pria dewasa sampai memiliki beberapa pucuk senjata lengkap seperti, M-16, Basoka bahkan stinger lengkap dengan peluru roket penghancur Tank dan helikopter. Hasilnya sangat luar biasa. Lebih dari 105-ribu tentara Soviet tewas di negeri ini. Selesaikah bantuan kemanusian AS setelah Uni Soviet hengkang ? Ternyata tidak. Amerika mati-matian menciptakan kondisi agar dapat terus menguasai negeri yang subur menumbuhkan kokain tersebut.

Dan, puncaknya dengan alasan mencari Osama bin Laden serta misi kemanusiaan membebaskan rakyat Afgan dari kungkungan rezim Taliban, sukseslah Amerika menjajah negeri malang tersebut sampai dengan saat ini. Sedangkan cerita tentang Osama bin Laden lenyap dan terlupakan.  

Masih permainan Amerika. Dengan dalih ingin membebaskan rakyat Irak yang sengsara dari kekuasaan diktator Saddam Hussain, dimulailah sebuah misi kemanusiaan ala Amerika di negeri itu. Janji yang dikemukakan tentu saja sangat manis. Dan, waktu pendudukan pun dijanjikan sangat singkat. Namun apa kenyataanya ? Rakyat Irak bukannya terlepas dari kesengsaraan malah terjerumus dalam kesengsaraan yang tidak terperikan. Sudah jutaan rakyat Irak yang tewas akibat aksi Amerika dan tidak terhitung gedung yang hancur, luluh-lantak dan entah kapan akan dibangun lagi.

Haruskah kita mengalami hal yang serupa ? Sebagai bangsa yang pintar tidak lah seharusnya kita mengalami hal yang sama dengan Afganistan atau Irak. Kita harus berhati-hati. Dan, hati-hati itu tentu saja tidak sama dengan curiga. Sikap hati-hati adalah sebuah sikap yang terpuji, sedangkan sikap curiga adalah sebuah sikap yang tercela.

Dalam keadaan ekonomi yang sulit, negeri ini memang tidak berdaya untuk menolak bantuan asing . namun, berharap terlalu banyak kepada negera donor yang telah mengobral janji ingin membantu bukanlah sebuah sikap yang bijak pula. Biasanya Amerika dan sekutunya tidak begitu antusias dalam membela dan membantu negara Islam. Buktinya Iran yang telah diterjang gempa dengan korban sekitar 30 ribu jiwa dijanjikan negara-negara donor sebesar 1 miliar dollar. Tapi kenyataannya bantuan yang sampai hanya 1,57 % saja, yaitu sebesar 15,7 juta dollar Amerika. Bull shit dengan janji mereka !

Melihat Kenyataan 

Kini telah hampir sebulan bencana tsunami yang melanda Aceh terjadi. Ribuan tentara asing telah memasuki Aceh. Tentara Amerika sendiri ada sekitar  tiga ribu orang yang telah berada di daratan Sumatera Utara dan Aceh, sementara 14 ribu orang lainnya stand by di dua kapal induk milik Amerika. Mereka memang membantu. Dan kita pun berterima kasih atas bantuan tersebut. Namun, uang yang dijanjikan sampai sekarang masih sekedar angin surga saja, belum menjadi kenyataan.

Persoalan baru muncul pula. Dikabarkan bahwa pemerintah Indonesia akan membatasi keberadaan tentara asing di Aceh hanya sampai dengan tanggal 26 Maret ini saja. Sebagai warga negara Indonesia tidak seharusnya kita terburu nafsu menghujat kebijaksanaan pemerintah sendiri hanya karena ngiler dengan bantuan asing, yang belum tentu kenyataannya. Apalagi janji AS yang ingin meninggalkan Indonesia secepatnya sulit dipegang, mengingat sudah berkali-kali AS ingkar janji yang sama di Irak dan Afganistan.

Jangan pula karena cengeng dan tidak tahan menderita lantas menghina negara sendiri lalu mendewa-dewakan negara asing.

Kalau mau jujur kita seharusnya malu andai harus merengek-rengek mengemis bantuan asing. Dalam agama Islam orang yang meminta-minta akan menjumpai Allah di hari Kiamat dalam kedaan hina tanpa sepotong dagingpun melekat di wajahnya. Alias bermuka tengkorak !

Lihatlah India sebuah negara besar dengan beban satu miliar jiwa penduduk yang rata-rata miskin, ternyata masih mampu untuk mengatakan tidak terhadap bantuan asing. Arogankah sikap negara ini ? Terserah kita mau menilainya. Yang jelas ajaran nenek moyang mereka, Mahatma Gandhi yang bernama Swadhesi ternyata telah menjadi sikap hidup bangsa India. Padahal Soekarno pun pernah mengajarkan hal yang sama yaitu Berdikari (berdiri di atas kaki sendiri). Sayangnya ajaran Bung Karno ini nampaknya telah musnah dari diri bangsa Indonesia.  Kita telah berubah menjadi bangsa tukang minta-minta. Naif memang….

Alasan lain yang perlu dipertimbangkan tentang keberadaan pasukan asing dan relawan asing di negeri Aceh adalah penyelewengan misi. Baru-baru ini telah terjadi sebuah peristiwa yang sangat menusuk perasaan kaum muslimin yang dilakukan oleh sebuah kelompok misionaris yang bermarkas di Virginia, Amerika Serikat. Kelompok misionaris yang bernama World Help tersebut telah membawa 300 orang anak-anak Aceh korban tsunami dan membagi-bagikan mereka kepada keluarga kristen di Jakarta. Berita ini dilansir oleh Washington Post edisi 13 Januari 2004 yang lalu.

Tentu saja peristiwa ini sangat mengagetkan bangsa Indonesia yang 90% penduduknya terdiri dari umat Islam. Tindakan ini juga mencemari seluruh gerakan misionaris lainnya yang ada di Indonesia, meskipun mungkin mereka tidak selicik kelompok World Help tersebut.

Sayangnya, peristiwa sangat penting ini tampaknya remeh di mata beberapa oknum yang menamakan diri mereka sebagai tokoh masyarakat Aceh, yang terkenal sebagai penganut Islam yang fanatik. Salah seorang diantaranya adalah Ghozali Abbas Adan, mantan anggota MPR dari utusan Daerah NAD. Beliau dengan ketus menolak kecurigaan terhadap misi tentara dan relawan asing dengan mengatakan bahwa kecurigaan tersebut sangat tidak masuk akal. Beliau menegaskan bahwa yang penting adalah manfaatnya. Yang paling menjengkelkan adalah lelucon yang beliau ungkapkan. Beliau mengatakan, “ada lelucon yang mengatakan bahwa kalau pun setan dan iblis mau menyumbang Aceh pun silakan. Jangan dicurigai macam-macam”.

Tidak pantaskah kita berhati-hati padahal penyelewengan atas misi telah pun terjadi. Dan, tidak tanggung-tanggung karena bukan menyangkut materil. Tetapi menyangkut hal yang sangat mahal yaitu masalah aqidah.

Seorang teman penulis yang membaca ungkapan Ghozali Abbas ini membalasnya dengan sebuah lelucon pula. “Jangan-jangan iman orang ini pun seperti iman setan dan iblis pula. Hanya percaya adanya Tuhan, tetapi tidak peduli dengan hukum Tuhan”. Kemudian dengan logat Acehnya yang kental dia berucap sambil mencampakkan koran yang dibacanya, “Jadi meunyeu maunan peue keueh Tuan setuju deungeon peue yang ka leon peugah maunou ? (Jadi apakah tuan setuju dengan apa yang aku lontarkan ini ?).

Bah abiado amang…!

 
Total pengunjung
120,174