Hebat dalam Negara Miskin!
Selasa, 25 Rabiul Akhir 1430 H / 21 April 2009
Indonesia adalah salah satu negara paling miskin di Asia. Akan tetapi hebatnya, Indonesia justru merupakan negara yang memiliki orang kaya yang paling banyak di Asia pula. Artinya, orang-orang di sini tidak peduli, biar negara hancur lebur, bangkrut dan kalau perlu digadaikan saja kepada negara lain yang kaya, asalkan individu-indivudunya bisa meraup kekayaan pribadi sebanyak-banyaknya. Dengan kata lain, biar negara bangkrut dan kere asal kita bisa kaya, kenapa tidak?
Pemandangan sehari-hari di jalan-jalan kota Jakarta juga sangat bertolak-belakang dengan kenyataan bahwa negara ini adalah sebuah negara miskin. Dimana-mana jalan raya selalu macet dan dipadati oleh mobil-mobil mewah keluaran tahun terbaru pula. Sementara pada rumah-rumah mewah bertengger di garasinya tiga, empat, lima bahkan lebih berbagai merek mobil bernilai miliaran rupiah.
Namun bertolak-belakang dengan itu, beribu-ribu rumah kumuh liar berjajar pula di sepanjang bantaran kali dan rel kereta api, padat dan penuh dengan anak-anak usia sekolah yang tidak pernah sekolah. Mereka akhirnya menjadi anak-anak jalanan yang mengemis di persimpangan jalan sampai tengah malam buta, entah karena lapar, entah karena dikomersilkan oleh orangtua mereka, atau oleh para mafia jalanan yang kejam dan bengis.
Perhatian dari pemerintah yang sebenarnya wajib menghidupi rakyatnya menurut amanat UUD, tidak dapat diharapkan lagi. Para pejabat tidak mempunyai konsep yang jelas. Bahkan sialnya, sebagian besar dari mereka masing-masing disibuki dengan berbagai urusan politik yang tidak ada habis-habisnya. Sebentar-sebentar Munas Partai, sebentar-sebentar Rakernas, siang malam memikirkan kedudukan, lalu bertengkar, berperang, kemudian sok baik menawarkan ishlah pula. Pokoknya suaranya gemeriuh tidak karuan, yang ujung-ujungnya hanya memperkaya diri sendiri, memperkokoh kedudukan dan jabatan masing-masing, yang akhirnya dipergunakan untuk mengeruk kekayaan pribadi buat warisan anak cucu yang tidak bakal habis tujuh turunan!
Perburuan jabatan digelar dari jabatan tertinggi di tingkat pusat, sampai jabatan kecil tapi banjir duit di tingkat daerah. Walhasil, waktu, dana, dan pikiran hanya dihabiskan untuk kepentingan pribadi dan partai saja, bukan untuk kepentingan rakyat lagi. Dana beratus miliar terhambur percuma, sementara rakyat menderita lahir batin. Mereka miskin, tidak punya rumah, kelaparan, bodoh karena tidak berpendidikan, buas karena didera penderitaan dan jauh dari agama.
Koruptor Sadis
Para koruptor masih saja berkelit sok suci. Malah ada yang menepuk dada mengatakan punya jasa atas negara ini, padahal dia telah menikmati dan menilep uang rakyat ratusan miliar rupiah. Sementara nun jauh di sana, di NTT 125 orang anak yang tidak berdosa menderita busung lapar akibat kurang makan. Dan sebelas di antaranya sudah pun meninggal dunia. Mereka mati mengenaskan di negara yang menyebutkan dirinya sebagai sebuah negara Gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo ini.
Sudah begitu kerekah negara besar ini? Besarkah biaya menanggulangi busung lapar di NTT? Ternyata menurut Gubernur NTT diperlukan dana 11 miliar untuk mengatasi bahaya busung lapar dan gagal panen di NTT tahun ini.
Lihatlah hanya gara-gara 11 miliar ratusan anak kecil yang tidak berdosa harus menderita busung lapar. Padahal pengusaha di negara ini baru saja mengimpor puluhan mobil mewah anti peluru dengan harga 13 miliar per unitnya. Artinya, satu orang kaya atau pejabat yang tidak punya malu membeli mobil itu, sebenarnya sudah mampu mengatasi kemelut kelaparan di NTT, malah uangnya masih bersisa sebesar 2 miliar rupiah lagi. Sungguh ironis kalau tidak mau dikatakan biadab bukan…?
Sialnya ada koruptor kredit macet yang berani bilang dia hanya memakai 300 miliar saja. Ungkapan pakai hanya dan saja itu benar-benar tidak tahu diri, seolah-olah uang tersebut tidak ada artinya dan milik warisan moyangnya pula. Kalau orang itu dikatakan bodoh, nyatanya dia berpendidikannya tinggi! Dan, mustahil jika dia tidak bisa berhitung secara matematika bahwa uang sebesar itu mampu membangun rumah sederhana untuk rakyat miskin sebanyak 10.000 unit. Itupun kalau harga satu unit rumah sebesar 30 juta rupiah. Bukan main…..!
Sekarang pemerintah sedang menangani kasus mega korupsi kredit macet Bank Mandiri. Jumlahnya pun tidak tanggung-tanggung. Sembilanbelas triliun rupiah! Dana sebesar itu sudah dapat digunakan untuk membangun rumah sederhana sekitar 634.000 unit. Artinya keperluan dasar 634.000 keluarga berupa rumah, musnah ditilep hanya oleh 34 orang debitor kredit macet Bank Mandiri tersebut.Dan, kalau setiap keluarga punya anggota rata-rata 4 orang, berarti jumlah orang yang menderita akibat kasus itu adalah sebanyak 2.536.000 jiwa. Sadis bukan….? Jadi apakah tidak pantas jika kemudian manusia sadis seperti itu dihukum mati saja?
Rakyat Pesimistis
Tapi rasanya kalau melihat bobroknya mental para penegak hukum di negeri ini, mustahil hukuman keras akan dijatuhkan. Apalagi selama ini, koruptor kelas teri yang sudah divonis penjara saja masih dapat berkeliaran di luar penjara, bahkan menginap di rumahnya yang mewah karena mendapat surat sakti berobat ke dokter. Dan, sakitnya pun bermacam-macam pula, mulai dari penyakit sepele berupa alergi udara, bengek, sampai penyakit berbahaya seperti penyakit jantung dan lain sebagainya.
Kesimpulannya, rakyat tidak usah terlalu berharap banyak, nanti malah mati ngenes menahan perasaan kesal. Walaupun Presiden SBY sudah berjanji akan menyikat habis para koruptor, nampaknya janji-janji itu baru sebatas retorika pidato, pembius mimpi rakyat miskin, dan belum menjadi kenyataan, penghias mata rakyat jelata.
Para koruptor pun belum merasa takut dan masih saja terus menerus menggerogoti uang rakyat negara miskin ini. Sementara itu, orang-orang kaya masih terus mabuk dan pamer kekayaan seperti kisah si Qorun, umat Nabi Musa dahulu itu. Salah satu contohnya, baru-baru ini serombongan mobil mewah merek luar negeri yang di zaman Orde Baru dulu haram masuk ke negeri ini, seperti Lamborgini, Jaguar, Roll Roice, dll. Menyerobot masuk tol Cileunyi, sekaligus pamer barang mewah di negeri miskin yang malang ini. Sialnya, parade mobil mewah itu malah mendapat pengawalan khusus dari pihak kepolisian RI, dengan mobil patroli yang meraung-raungkan serenenya.
Bah,…… molo songoni sage ma hita sudenya, amangoi.! ( Wah, kalau begitu rusaklah kita semua, Bapak….! ).