MILITER, MUTIARA DALAM LUMPUR
Kamis, 27 Rabiul Akhir 1430 H / 23 April 2009
Militer adalah alat untuk mempertahankan keutuhan sebuah negara. Tidak mungkin sebuah Negara dapat berdiri tegak dengan aman dan berwibawa tanpa memiliki militer yang kuat. Semakin kuat tatanan kemiliteran di sebuah Negara, semakin kuat pula wibawa Negara tersebut di mata dunia. Itulah sebabnya banyak Negara maju di dunia yang tidak segan-segan mengeluarkan anggaran yang sangat besar untuk membiayai militernya.
Pada zaman Orde Lama, peran militer sebagai angkatan perang sangat kuat Selama hampir dua puluh tahun masa kekuasaan Bung Karno diwarnai dengan operasi dan gerakan militer yang tidak putusputusnya. Mulai dari gerakan kemerdekaan 1945 berlanjut terus sampai Agresi I dan Agresi II, memadamkan pemberontakan PKI Muso dan Madiun, kemudian terbentuknya Republik Indonesia Serikat tahun 1950 tidak menyurutkan peran milite; dalam mempertahankan keutuhan bumi pertiwi.
Di pertengahan tahun 50-an pecah pula perlawanan dan usaha pemisahan diri dari beberapa wilayah di Indonesia, seperti PRRU Pennesta dan DI/TII, gerakan-gerakan yang cukup merepotkan serta memerlukan peran besar dalam tubuh militer. Tanpa adanya jasa militer yang kuat untuk mempertahankan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) saat itu, sudah dapat dipastikan wilayah negara Indonesia saat ini sudah tercabik-cabik tak tentu rimbanya lagi.
Saat itu, peran militer tidak memasuki wilayah kekuasaan. Pimpinan negara dipegang oleh Bung Karno sebagai presiden. Dan, beliau berasal dari kalangan sipil, bukan militer. Akan tetapi, peranan para pemimpin militer terhadap rakyat di wilayah-wilayah propinsi sangatlah kuat pengaruhnya.
Kolonel Simbolon misalnya, di Sumatera Utara dianggap sebagai pahlawan rakyat karena berhasil melepaskan himpitan ekonomi pada diri rakyat kecil yang saat itu benarbenar tidak terperikan. Bayangkan, satu kilogram betas hanya dapat diperoleh setelah ditukar dengan dua puluh kilogram getah karet. Sehingga, tidak mengherankan jika saat itu ada satu keluarga yang terdiri dari bapak, ibu, dan lima orang anak, mati gantung diri berjejer di pohon karet.
Pemerintahan sipil pusat diatiggap tidak becus untuk menyelesaikan pendentaan rakyat saat itu. Akhirnya, Simbolon serta jajarannya menyelesaikannya dengan cara menjual getah rakyat langsung dari Sumatera Utara ke Singapwa. Di sinilah mulai terjadi interaksi militer dengan rakyat dalam bidang sosial. Perlahan-lahan tapi pasti fungsi militer yang semula hanya sebagai angkatan perang, bergeser di mata rakyat dan mulai memasuki wilayah sosial dan politik.
Jadilah saat itu militer pahlawan di hati rakyat. Dan, kita tidak perlu kaget ketika mereka memberontak melawan Bung Karno, jutaan rakyat kemudian bersimpati atau bahkan menyokong gerakan tersebut.
Dapat dibayangkan andaikata perjuangan memerdekakan Sumatera ketika itu berhasil, pastilah militer, terutama Simbolon, akan dilantik menjadi penguasa negara itu seumur hidupnya.
Bung Kamo memang berhasil menciptakan angkatan perang yang andal. Angkatan laut, udara, dan darat kita amat sangat disegani di kawasanAsia, bahkan diperhitungkan sebagai salah satu yang terkuat diAsia. Akan tetapi, kesenjangan ekonomi dan ketidakstabilan pemerintahan, karena sering bergantiganti kabinet menyebabkan wibawa pemerintah berkwang. Bahkan, pernah terjadi seorang pimpinan tentara, Kolonel Zulkifli Lubis bersama anak buahnya mengarahkan moncong meriam ke Istana Bung Karno. Suatu hal yang sangat memalukan, namun masih menguntungkan sebab di beberapa negara saat itu ada presiden yang dikudeta bahkan dibunuh, karena dianggap tidak becus. Dalam hal ini militer Indonesia harus dicatat bahwa tidak pernah melancarkan kudeta sekalipun saja terhadap pemerintahan sipil yang sah.
Militer di Era Orde Baru
Pada masa Orde Baru, peran militer mulai berubah. Tidak lagi melulu sebagai angkatan perang, tetapi dapat melebar ke bidang pemerintahan sebagai fungsi sosial politik. Sebenarnya pertama sekali gagasan ini adalah merupakan ide dari sesepuh militer Indonesia, almarhum Jenderal A.H. Nasution yang menyusun konsep dwifungsi ABRI. Sebuah gagasan yang diambil dari sejarah lahimya angkatan bersenjata yang sebenamya merupakan gerakan masyarakat sipil, kenmdian sedikit demi sedikit berubah menjadi sebuah angkatan perang. Meskipun ada militer murni basil didikan Jepang, tetapi tentu itu tidak memadai. Hubungan kultural dan emosional antara rakyat dan militer, menyebabkan konsep dwifungsi ABRl ketika itu berterima di masyarakat.
Akan tetapi, yang namauya manusia pasti memiliki kelemahan. Pak Harto sebagai Presiden RI yang terpilih melalui Sidang Umum MPR setiap lima tahun sekali melalui proses Pemilu, mulai mengendorkan kontrol terhadap bawahan. Kepercayaan yang beliau serahkan kepada para pembantunya terkadang diselewengkan tanpa beliau ketahui. Puncak `penyelewengan' dan `pengkhianatan' para pembantunya adalah didesak mundurnya beliau dari tampuk kekuasaan pada pertengahan tahun 1998. Berawal dari mundurnya 14 Menteri Kabinet, disusul dengan pernuntaan pengunduran diri beliau oleh Pimpinan MPR yang notabene baru mengangkat beliau menjadi presiden kembali dengan suara bulat, hanya tiga bulan sebelunurya.
Dari sinilah awalnya gerakan reformasi. Mahasiswa sebagai motor yang diarahkan oleh para elit sipil mengoptimalkan gerakan untuk merebut kekuasaan dari para pemimpin orde baru yang dinilai berbau militer, karena sebagian besar pemimpinnya yang nmncul ke pernmkaan berlatar belakang militer. Gerakan refomiasi bertujuan uutuk mengenr balikan kekuasaan kepadasupremasi sipil. Militer dicaci maki sedemikian rupa. Dilempari, dihina, dan dinista dengan perbuatan dan perkataan yang hampir-hampir tidak dapat diterima oleh manusia yang beradab. Militer dianggap sebagai biang kerok segala kerusakan yang ada di negeri ini. Padahal, kalau kita man jujuy sipil pun tidak kalah besarnya menorehkan kausakan di negeri ini.
Pada zaman orde barn, Pak Harto menpercayakan urusan ekonomi di tangan `Mafia Borkeley', Universitas Indonesia. Namun sayang, ketika terjadi krisis moneter yang parah, para `mafia barkeley', Universitas Indonesia malah berkoar-koar ikut menghujat kebobrokan ekonomi negara dan bangsanya sendiri. "Tidak rahu malu...!" kata orang Medan. Suatu perbuatan pengecut, melempar batu sembunyi langan....
Belum lagi 6 X 1000 anggota MPR selama 6 kali Pemilu yang mengangkat Pak Harto menjadi presiden dengan suara bulot seutuhnya, kabur melenyapkan diri, melepaskan tanggung jawab. Dan, perlu diingat bahwa mayoritas anggota DPR/MPR saat itu adalah dari knum sipil.
Militer di Era Reformasi
Caci maki yang dilontarkan ke tubuh militer menggema memenuhi angkasa negara Indonesia tercinta selama perjalanan waktu di era refonnasi. Rasanya tidak ada ungkapan yang setara dapat dituliskan untuk melukiskan bagaimana perilwya perasaan kaum militer akibat caci maki di masa ini. Mungkin meminjam istilah seniman; langit telah runtuh buat militer Indonesia. Gus Dur sebagai presiden pertama rezim reformasi telah membuat gebrakan dengan mengangkat seorang PanglimaTNi dariAngkatan Laut yang dari segi junilah personel saja kalah jauh dari TNI AD (sebuah tindakan Apartheid di mata para pengamat politik dan militer).
Benarkah militer sudah hancur? Benarkah militer sedemikian dibenci? Ternyata tidak. Gus Dur diam-diam juga membuat `hubungan baik' dengan para petinggi militer. Beliau juga tidak membubarkan Kodam sebagai komando teritorial, sebagaimana yang diingini oleh golongan pendukung supremasi sipil.
Ketika Megawati menjadi Presiden RI, beliau juga ternyata memelihara militer. Bahkan, Mega sebagai presiden telah menambah sebuah Kodam lagi di Nangroe Aceh Darussalam. Ketika menggelar kampanye di salah satu televisi swasta, beliau juga menyatakan akan memelihara komando teritorial.
Militer di Mata Dua Capres
Kini menghadapi Pilpres putaran kedua, masing-masing kubu baik Megawati maupun SBY, kedua-duanya mencoba mendulang petinggi militer sebanyak-banyaknya (ingat dalam militer meskipun pensiun tetap dihonnati sebagai senior). Di kubu Mega, tidak kurang beberapa Jenderaltelahterang-terangan bergabung antara lain mantan KASAD Jenderal (pum) H.R. Hartono, Tyasno, Pramono, dan lain-lain. Sementara kubu SBY pun tidak man kalah. Sudi Silalahi, Try Sutrisno, Edi Sudrajat, Jacky Makarim, dan lain-lain berkunr pul sebagai pendukungnya.
Tampaknya gerakan antimiliter yang telah menebarkan kebencian terhadap militer selama hampir lima tahun ini harus `gigit jnri'. Temyata hubungan emosional antara rakyat dan militer tidak dapat begitu saja dihapuskan. Rakyat kelihatannya masih menginginkan tampilnya sosok militer dalam pemerintahan. Tampilnya tiga capres/cawapres dari militer telah menjadi satu bukti yang nyata. Apalagi baru-baru ini kubu Partai Keadilan Sejahtera (PKS) telah menyatakan mendukung dan bergabung dengan SBY, seorang Jenderal militer yang terkenal sebagai sosok yang cerdas. PKS tampaknya terpaksa melupakan gerakan antimiliter yang telah disuarakan hampir lima tahun oleh `sayap kanan'nya, KAMMI, demi untuk coba-coba berbagi kekuasaan, tak kuasa menahan nafsu untuk tetap berdiri sebagai oposan.
Bagaimanapun ada satu hal yang perlu diingat bahwa militer Indonesia selama perjalanan sejarah sejak kemerdekaan 59 tahun yang lalu, sampai dengan saat ini tidak pemah sekalipun mrlakukan kudeta/merebut kekuasaan baik ketika di zaman Orde Lama maupun Orde Baru atau di zaman refonnasi sekarang ini. Nampakurya, kecurigaan segelintir elitbahwa militer akan melakukan kudeta tidaklah beralasan sama sekali.
Militer dicaci...militer dicari.... lbarat peribahasa Melayu, "Mutiaro dalam lumpur, meskipun terbennm lama, Iidaklah berubah menjadi lumpur, Ie1np berhnrga dan dicari orang..."