Nasyid dan Perkembangannya

Kamis, 04/Feb/2010
Published by Administrator
printViewed 2,223 times

Dalam kehidupan manusia, bersyair dan berlagu telah ada jauh sebelum agama Islam yang dibawa oleh Baginda Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam diturunkan. Itulah sebabnya mengapa pada setiap suku bangsa di dunia didapati berbagai macam jenis lagu atau nyanyian. Dan, jenis-jenis lagu tersebut meliputi seluruh aspek kehidupan manusia, baik dari bentuk yang sederhana dalam kehidupan sehari-hari dan berkembang ke aspek lain dalam kehidupan. Ada jenis lagu yang disebut ‘nyanyian pengantar tidur’ (Lullaby), hymne, senandung, mars, lagu gembira seperti; Pesso Dabla di Spanyol, Joget di tanah Melayu, Samba di Amerika Latin, Chalte di India dan lain-lain.

Seiring dengan turun dan berkembangnya Islam, bertambah pulalah satu jenis nyanyian yang mengisi kekayaan khazanah Islamiyah. Bermula dari masa hayatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dimana Baginda tidak melarang syair-syair yang berkembang pada diri para Sahabat, sebagai kelanjutan dari zaman pra Islam. Hanya saja dengan datangnya Islam, isi syair dan lagu berubah ke arah yang positif, tidak lagi memuja-muja syahwat dan kemusyrikan.

Satu syair dan nyanyian yang dapat dikatakan sebagai lagu tertua dalam Islam adalah Thala’al Badru ‘Alaina yang dinyanyikan secara beramai-ramai oleh masyarakat Madinah, diiringi alunan suara rebana yang dipukul secara bersama-sama pula menyambut datangnya Rasul berhijrah dari Makkah ke Madinah. Masa itu kini telah berlalu selama 1430 tahun lamanya.

Inilah titik awal dari berkembangnya syair dan lagu Islami, satu hal yang terkadang dinafikan keberadaannya oleh segelintir kelompok kaum muslimin yang menolak adanya budaya bernyanyi dan bersyair dalam Islam.

Seiring dengan meluasnya daerah berpenduduk Islam, meluas pulalah pengaruh nyanyian Islami sebagai sebuah budaya dalam kehidupan kaum muslimin. Pada masa Dinasti Turki menguasai dunia, berkembang satu irama yang disebut Zapin. Paduan antara irama Turki Arabia dan Spanyol ini berkembang dan melebar dari belahan dunia Barat sampai ke belahan Timur di negeri-negeri Asia Tenggara.

Di negeri Thailand, Malaysia, Singapura, Sumatera dan Brunai, nama jenis irama ini tetap tidak berubah. Masyarakat mengenalnya dengan nama aslinya Zapin. Di Maluku dan Filipina irama ini dikenal dengan nama dhana-dhana. Namun, yang perlu dicatat bahwa isi syairnya tidak keluar dari perkara-perkara yang mubah diperbincangkan, tidak menggambarkan syahwat atau kemusyrikan. Beberapa contoh lagu dan syair berirama Zapin yang sempat terkenal di negeri Nusantara adalah: Lancang Kuning, Laksamana Hang Tuah, Laksamana Raja di Laut, Bunga Melur dan lain-lain. Di samping zapin ini masih ada juga jenis irama dan lagu yang Islami, dan dimainkan tanpa alat musik yang bernada seperti; hadhrah,marawis dan lain-lain.

Adapun Nasyid yang kini populer dan dikenal di Asia Tenggara sebenarnya bukan jenis lagu baru dalam Islam. Esensi dari isi syair dan jenis irama dari Nasyid sebenarnya telah ada sejak masa awal Islam. Hanya saja nama Nasyid itu sendiri belum dikenal. Namun sejak awal kemerdekaan, jenis lagu tersebut sebenarnya sudah dinyanyikan di segenap belahan bumi nusantara dengan nama yang berbeda-beda.

Di Jakarta, masyarakat Betawi mengenalnya dengan Orkes Gambus, sementara di Sumatera Utara disebut dengan Irama Padang Pasir, dan di Jawa disebut Qasidahan. Meskipun beberapa alat pengiringnya menggunakan alat yang bernada seperti; Biola, ‘Od, Ganun dan Accordion, yang hukumnya masih ikhtilaf di sisi para ulama. Sehingga ada yang mendukung dan ada yang menentang.   

Pada pertengahan tahun 60-an di Sumatera Utara, seorang juara Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Internasional di Malaysia yang bernama Hj. Nur Aisyah Djamil, pertama sekali membentuk group qasidah dan menyanyikan lagu-lagu yang syairnya disebut sebagai syair Islami. Group Qasidah ini diberi nama Nasyid, diambil dari singkatan nama sang pemimpinnya yaitu “Nur Aisyah Djamil”. Di sinilah awal dikenalnya nama Nasyid di Indonesia. Alat pengiring yang dipakai semuanya tidak ada yang bernada, hanya terdiri dari gendang berbagai jenis dan rebana saja.

Meskipun demikian, ada juga sebahagian orang yang berpendapat bahwa kata Nasyid tersebut berasal dari kata “Nasyd, yang berarti “Hymne.

Pada tahun 80-an di Jakarta ada Group Qasidah yang cukup populer dan selalu tampil di layar televisi memakai nama group mereka dengan nama Nasyidaria. Hanya saja alat pengiringnya memakai alat-alat modern yang bernada seperti; gitar, organ dan lain-lain.

Pada awal tahun 90-an, Jama’ah Al-Arqam mengetengahkan lagu-lagu Nasyid, yang sebagian memakai alat pengiring tanpa nada. Bahkan, sebagian lagi dinyanyikan tanpa alat pengiring sama sekali. Gebrakan Al-Arqam ini sempat membahana di negeri-negeri Asia Tenggara. Beberapa lagu mereka yang populer adalah Asmaul Husna, Sunnahnya Orang Berjuang, Di Pondok Kecil dan lain-lain. Group mereka yang paling populer disebut Group Nada Murni.

Kini, di tahun 2000-an lagu-lagu Nasyid kembali membahana. Ada beberapa kemajuan yang mewarnai budaya Nasyid ini. Yang paling menonjol adalah semakin dekatnya mereka pada syariat Islam. Para penyanyi yang muncul didominasi oleh kaum pria, berbeda dengan sebelumnya yang lebih didominasi oleh kaum wanita. Dan, kalau dahulu alat musik yang dipakai masih beragam, kini yang muncul adalah alat musik tanpa nada. Bahkan, tehnik acapella pun mulai muncul dan digarap dengan apik.

Derasnya lagu-lagu yang bersyair “porno” dan ‘percintaan bebas’ yang menabrak budaya serta moral agama menyebabkan Nasyid kini berkembang dan mendapat tempat tersendiri di hati kaum muslimin. Aa Gym misalnya, telah mengarang sebuah lagu yang berjudul “Jagalah Hati” dan sempat ‘membelah angkasa’ bumi pertiwi sampai ke negara tetangga. Agaknya sikap pemerintah yang kurang tanggap terhadap lagu-lagu yang “tidak bermoral” menyebabkan mengentalnya perlawanan kaum muslimin untuk membendung usaha perusakan moral lewat lagu tersebut.

Wallahu a’lam bishshowab