NIKAH WISATA

FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA

Nomor 02/MUNAS-VIII/MUI/2010

Tentang

NIKAH WISATA

 Majelis Ulama Indonesia, dalam Musyawarah Nasional MUI VIII pada tanggal 13-16 Sya'ban 1431 H / 25-28 Iuli 2010 M, setelah:

 MENIMBANG:

  1. bahwa di tengah masyarakat saat ini muncul praktek pernikahan yang dilakukan oleh orang ketika bepergian, yang dikenal dengan istilah “nikah wisata”;
  2. bahwa atas dasar kenyataan tersebut, muncul pertanyaan dari masyarakat mengenai hukum praktek “nikah wisata”;
  3. bahwa berdasarkan pertimbangan dalam poin a dan b, Musyawarah Nasional VIII Majelis Ulama Indonesia memandang perlu menetapkan fatwa tentang “nikah wisata” sebagai pedoman.

 MENGINGAT:

1.      Firman Allah SWT:

 

”Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka, mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Mu'minun [23]: 5-7)

 

  “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Rum [30]: 21)

"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang Telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan Mengawasi kamu.” (QS. An-Nisa [4]: 1)

 

2.      Hadis Nabi SAW:

 

Dari Ali ibn Abi Thalib KW bahwa Rasulullah SAW melarang nikah mut'ah pada Perang  Khaibar, juga melarang memakan daging keledai piaraan. (Muttafaq 'Alaih)

 

 Dari Iyas ibn Salamah dari ayahnya ia berkata: "Rasulullah SAW memberikan keringanan (rukhshah) pada Tahun Authas untuk melakukan mut’ah selama tiga hari kemudian melarang praktek tersebut.” (HR. Muslim)

 

Dari Rabi' ibn Sabrah al-Juhani dari ayahnya ia berkata: “Saya pergi hendak menghadap Rasulullah SAW: namun beliau sedang berdiri antara rukun (yamani) dan maqam (Ibrahim) dengan menyandarkan punggungnya ke Ka’bah seraya bersabda: 'Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku memerintahkan kalian untuk istimta' dari para perempuan ini. Ketahuilah, sesungguhnya Allah SWT sungguh telah mengharamkan atas kalian hingga hari kiamat. Barang siapa yang masih memiliki perempuan- perempuan tersebut hendaknya melepaskannya. Jangan ambil sesuatu pun dari apa yang telah kalian bayarkan kepada mereka” (HR. Muslim)

 

Dari Ali Karramallahu Wajhah bahwa Rasulullah SAW melarang untuk melakukan nikah mutah dan untuk memakan daging keledai piaraan”. (Muttafaq 'Alaih).

 

3.      Ijma'

Ulama sepakat (ijma') mengatakan bahwa hukum nikah mut’ah adalah haram untuk selamanya, sebagaimana disebutkan dalam kitab Fathul Qadir karya Ibn al-Humam 3/246 - 247, dan kitab-kitab fikih lainnya.

 

4.      Atsar Shahabat:

 

Diriwayatkan bahwa 'Umar ibn Khatthab suatu saat naik mimbar, kemudin membaca hamdalah serta memuji Allah lantas berkata: “Bagaimana urusan sekelompok orang yang melakukan nikah mut'ah sementara Rasulullah SAW telah melarangnya. Saya tidak menemui satu pun laki-laki yang melakukan mut'ah kecuali saya rajam dengan batu.” Diriwayatkan bahwa Umar ibn Khatthab berkata: “Sesungguhnya Rasulullah SAW memberi izin mut'ah selama tiga hari kemudian mengharamkannya. Demi Allah, saya tidak mengetahui satu pun laki-laki yang melakukan mut’ah sementara dia seorang yang telah pernah menikah kecuali saya rajam dengan batu.” (HR. Ibn Majah dengan sanad yang shahih)

 

5. Pendapat, saran, dan masukan peserta Munas VIII MUI tanggal 27 Iuli 2010.

 Dengan bertawakal kepada Allah SWT,

 MEMUTUSKAN

 MENETAPKAN: FATWA TENTANG NIKAH WISATA

Ketentuan Umum:

Dalam fatwa ini, yang dimaksud dengan Nikah Wisata adalah bentuk pernikahan yang dilakukan dengan memenuhi rukun dan syarat pernikahan, namun pernikahan tersebut diniatkan dan/atau disepakati untuk sementara, semata-mata hanya untuk memenuhi kebutuhan selama dalam wisata/perjalanan.

Ketentuan Hukum:

Nikah Wisata sebagaimana dimaksud dalam ketentuan umum hukumnya haram, karena merupakan nikah mu’aqqat (nikah sementara) yang merupakan salah satu bentuk nikah mut’ah.

 

Ditetapkan di: Jakarta

Pada tanggal: 13 Syaban 1431 H

27 luli 2010 M

 

KOMISI C BIDANG FATWA

MUSYAWARAH NASIONAL VIII MAJELIS ULAMA INDONESIA

PIMPINAN SIDANG

 

                               Ketua                                                                      Sekretaris

                                 ttd.                                                                                ttd.

     Prof. Dr. Hj. Huzaimah T. Yanggo, MA                   Dr. HM. Asrorun Ni'am Sholeh, MA

 

Catatan oleh Tengku Zulkarnain:

Sesungguhnya pernikahan itu adalah Syari'at Islam dan sunnahnya Para Nabi. Selain itu, nikah juga diamalkan untuk tujuan mulia, bukan untuk sekedar memuaskan nafsu syahwat belaka.

Perlu dicatat dan diingat bahwa tidak semua yang "boleh" itu mesti diamalkan. Walaupun suatu perkara itu boleh dilakukan, tetapi jika ternyata menghinakan harga diri kita selaku manusia yang terhormat, maka yang boleh itu tidak lagi boleh dilakukan. Demi menjaga harga diri.
Misalnya: meminum air sawah itu menurut sudut pandang fiqih hukumnya boleh. Lantas kemudian saat mertua kita datang dari kampung, kemudian kita sendokkan segelas air sawah untuk minum mertua kita itu. Tentu perbuatan itu akan merupakan penghinaan bagi mertua kita itu.

Nikah misar (nikah wisata) ini telah difatwakan "haram" oleh Majelis Ulama Indonesia. Sayangnya "Lajnah ad-Daimah Saudi Arabia" pimpinan Syekh Abdullah bin Baz menghalalkan nikah wisata ini.

Padahal dalam fatwa itu salah satu kutipan yang diambil adalah pendapat Ibnu Hazm, seorang tokoh Zahiri (ahli zahir, alias tekstual), dan Abul Walid Sulaiman Khalaf al Bajiy, dalam kitab "al-Muntaqa Syarhul Muwatha' ", Jilid 3 Halaman 336, mengatakan: Barangsiapa yang menikahi wanita, dan tidak berkeinginan utk menahannya sebagai isterinya, kecuali hanya ingin bersenang-senag untuk menyetubuhinya dan menceraikannya setelah itu, maka menurut Imam Maliki dari riwayat Muhammad hukumnya "boleh", tetapi tidak bagus, dan bukan merupakan akhlak manusia...."

Lihatlah pendapat Imam Maliki, beliau mengatakan ini bukan merupakan  akhlak manusia....! Berarti akhlak binatang? Seperti kambing, monyet, babi dan lain-lain...? Astaghfirullah. Pantaskah manusia memakai akhlak bukan manusia?

Dalam madzhab Imam Syafi'i ra, menceraikan isteri setelah menyetubuhinya, masih dalam keadaan suci dari haidh, maka perceraian itu disebut "talaq bid'i", yakni "talak bid'ah".

Padahal kelompok Wahabi Salafy selalu mengatakan bahwa setiap bid'ah itu pasti tempatnya akan berada dalam neraka. Jadi bagaimana persoalan bid'ah seperti ini bisa difatwakan oleh Lajnah mereka sebagai perbuatan halal? Bukankah Rasulullah tidak pernah melakukan perbuatan nikah misar ini....?

Selama ini kelompok Salafy Wahaby sangat tegas dengan pendapat mereka bahwa setiap perbuatan yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah wajib ditolak, karena merupakan perbuatan yang bid’ah dholallah. Kenapa dalam hal misar ini sikap mereka jadi berubah? Sementara tidak ada sebuah riwayat pun yang mengatakan ada generasi sahabat Nabi yang melakukan nikah misar ini.

Jika dibandingkan dengan sikap mereka yang menolak secara tegas tanpa syarat peringatan Maulid Nabi, Isra’ dan Mi’raj, Nuzul Qur’an, Tahun Baru Islam, dan lain-lain yang ditolak secara tegas dan dianggap bid’ah yang sesat hanya karena tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah dan para Sahabat Nabi, tanpa memandang sedikit pun kebaikan yang ada pada peringatan itu, maka menjadi sangat aneh-lah serta menimbulkan tanda tanya besar atas fatwa Salafy Wahabi terhadap persoalan nikah misar ini, yang sama-sama tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabatnya.  

Sebuah Tragedi

Sungguh para wanita akan merasa tertipu oleh para lelaki Islam jika nikah wisata ini diamalkan ramai-ramai karena difatwakan halal hukumnya. Dalam nikah misar, para lelaki hanya berniat menikahi wanita di suatu negeri untuk menyetubuhi sang wanita selama masa izin visa tinggal di negeri itu saja. Namun niat menikahi itu adalah untuk  sementara waktu saja, yakni selama izin tinggal di negeri itu masih berlaku. Niat tersebut adalah sebuah niat jahat yang terselubung. Dan, niat nikah sementara waktu itu sengaja ditutupi dan tidak diucapkan dalam ijab Kabul agar tidak serupa dengan nikah mut'ah. Sementara sang wanita pun tidak diberitahu bahwa suaminya itu telah memendam niat jahat tersebut di hatinya, yakni akan menceraikan sang istri dalam beberapa hari ke depan, sebegitu izin tinggal di negeri itu berakhir. Bukankah ini satu kezhaliman yg dilegalkan?

Alangkah sialnya nasib wanita Islam kalau begini. Apalagi jika sang wanita sampai hamil. Maka sengsaralah wanita itu mengurusi anaknya seorang diri, sementara sang lelaki sudah bebas terbang ke negerinya setelah melampiaskan nafsu syahwatnya dengan bayaran ala kadarnya dan ijab kabul yg disertai niat "jahat" itu. Lebih sial lagi beberapa tahun kemudian anak sang isteri tamasya ini bisa bisa dinikahi lagi oleh bapaknya sendiri. Atau mungkin anak mereka akan saling menikah menikahi pula, karena tidak saling mengenal satu sama lain.

Alangkah celakanya kehidupan beragama jika begini...?

Sesungguhnya semua perbuatan tergantung kepada niatnya (HR. Bukhari Muslim). Niat itu tidak perlu diucapkan tetapi cukup di dalam hati saja. Maka yang diniatkan di hati itu akan Allah lihat dan nilai, bisa jadi ibadah sholih, bisa jadi ibadah salah. Bisa jadi pahala, tetapi juga bisa jadi dosa.

Dalam sebuah hadis Nabi pernah bersabda: "Barangsiapa menikah dengan niat di hatinya tidak akan membayarkan mahar kepada sang isteri, maka sesungguhnya orang itu adalah seorang pezina. Dan, barangsiapa yang berhutang, dan dalam hatinya berniat untuk tidak membayar hutangnya itu, maka orang itu adalah seorang pencuri.

Akhirnya, sudah sepantasnyalah kita mendukung fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang haramnya nikah misar (nikah wisata) ini, demi kemaslahatan umat, khususnya para wanita mu'minah se-dunia. Dan, demi terjaganya harga diri kaum muslimin agar tidak dianggap sebagai pengikut dan pemuas nafsu syahwat belaka.

Wallahu A'lam

Share this post