Dana haji Dipindahkan ke Bank Syariah

Setelah didesak oleh berbagai pihak termasuk oleh Ijtima’ Ulama Indonesia ke-4 di Singaparna, Tasikmalaya, akhirnya Kementerian Agama melalui Direktorat Jenderal Penyelenggara Haji dan Umrah memutuskan untuk memindahkan dana haji dari Bank Konvensional kepada Bank Syariah.

Hal ini sejalan dengan amanah Undang Undang no. 13/2008 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji. Meskipun tindakan ini dinilai sangat terlambat, namun sebagai kaum muslimin kita sudah selayaknya memberikan penghargaan kepada Kementerian Agama RI.

Dirjen Penyelenggara Haji dan Umrah, Anggito Abimanyu mengatakan bahwa dana haji yang akan dipindahkan ke Bank Syariah tersebut senilai 11 triliyun rupiah. Diharapkan tuntas dalam waktu setahun mulai sejak bulan April 2013. Tindakan Anggito Abimanyu ini secara nyata merupakan terobosan dukungan riil yang langsung dapat dirasakan oleh industri keuangan Syariah di Indonesia.

Sungguh merupakan satu keanehan selama ini dana haji dikelola oleh Bank Konvensional yang masih memakai sistem riba. Padahal islam menolak riba. Dan MUI pun telah mengeluarkan fatwa haram tentang bunga bank konvensional pada fatwa Nomor 1 Tahun 2004.

Ada satu hal lagi yang perlu diperhatikan bahwa uang dana haji itu bukanlah milik Kementerian Agama RI, akan tetapi sepenuhnya masih milik umat Islam pemilik dana haji tersebut. Oleh karena itu hasil yang diperoleh dari imbal jasa keuangan yang sebesar 11 triliun rupiah itu sepenuhnya wajib dikembalikan untuk kepentingan nasabah. Kementerian Agama dapat dituduh korupsi atau minimal menerima gratifikasi jika memakai dana tersebut untuk kepentingan mereka.

Semoga kiranya Bank Syariah di Indonesia semakin maju dan mampu meningkatkan pangsa kerja, karena selama ini pangsa keuangan syariah di Indonesia baru mencapai 3.5 % saja dari jumlah pangsa pasar keuangan di Indonesia. Perlu kesungguhan dan kerja keras semua pihak agar jihad keuangan syariah dapat meningkat.

Wallahu a’lam

Share this post