Pembangunan Masjid Ditolak

Sekelompok orang Batak di Desa Nahornop Marsada, Kecamatan Pahae Jae, Kabupaten Tapanuli Utara, Provinsi Sumatera Utara menolak pembangunan Masjid yang akan dijadikan tempat ibadah kaum muslimin di sana. Menurut ketua pembangunan masjid, salah seorang anggota Persatuan Kaum Muslimin di Tarutung, bernama Munir, selama ini masyarakat di lima desa melakukan ibadah sholat hanya di satu masjid yang terletak di desa Sarulla saja. Seiring dengan perjalanan waktu, masjid di Sarulla tersebut tidak lagi mampu menampung jamaah yang sudah semakin banyak. Akhirnya diputuskan untuk membangun sebuah masjid baru di Desa Nahornop Marsada tersebut pada tahun 2010 M yang lalu. Masyarakat Keristen yang mayoritas di sana menolak pembangunan masjid tersebut, karena lokasi pembangunan masjid tersebut berdekatan dengan 2 buah gereja yang telah ada di sana. Setelah panitia pembangunan masjid bernegosiasi dengan masyarakat dan pemerintah daerah setempat, akhirnya pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara mengeluarkan Surat Keputusan Pembangunan Masjid, dengan lokasi kurang lebih 150 meter dari kedua gereja itu.

Ketika pembangunan Masjid mulai dilaksanakan, mendadak masyarakat Keristen suku Batak di daerah tersebut menolak pembangunan masjid itu. Mereka melakukan unjuk rasa ke kantor Bupati pada hari senin tanggal 4 Maret 2013 yang lalu. Pimpinan Aliansi Masyarakat Nahornop Marsada Peduli Kedamaian, saudara Ramdju Gultom, meminta pihak Bupati untuk menghentikan segala kegiatan pembangunan masjid tersebut. Dan, orang ini mengancam jika tuntutan mereka tidak dilaksanakan dalam tempo 7 x 24 jam, maka massa lebih banyak akan didatangkan dalam unjuk rasa susulan.

Penolakan pembangunan masjid di negara berpenduduk mayoritas Islam seperti Indonesia ini, seharusnya mustahil terjadi. Tetapi kenyataannya ada banyak tempat di Indonesia terjadi penolakan pembangunan masjid. Sebut saja Manokwari, Kupang, Sulawesi Utara, dan Bali. Belum lagi beberapa kasus pembakaran beberapa masjid di Tapanuli Utara dan Kabupaten Asahan, Sumatera Utara yang dilakukan oleh orang tak dikenal, dan tidak pernah berhasil diungkap secara transparan dan berkeadilan oleh para penegak hukum di sana.

Kasus-kasus di atas menggugurkan Analisis Brad Adams, Direktur Human Right Watch wilayah Asia yang mengomentari dan mengolok-olok Indonesia sebagai negara tidak demokratis dan tidak menjunjung hak asasi manusia, Kamis pekan lalu. Dalam komentarnya Brad Adams mengatakan ada 264 kasus sepanjang tahun 2012 yang dialami penganut agama minoritas di Indonesia. Sayangnya, seperti biasa para penegak HAM itu, selalu membutakan mata mereka terhadap golongan agama minoritas di Indonesia yang juga kerap melakukan kekerasan terhadap penganut agama mayoritas, yaitu Islam di negeri ini.

Akankah kasus-kasus penolakan masjid membuka mata pembela HAM di dunia Barat dan di Indonesia tentang tirani minoritas yang juga merajalela di negeri ini….?

Wallahu A’lam

Share this post