Turki Cabut Larangan Jilbab

Republik Turki secara resmi berdiri pada tahun 1923 Masehi, seiring dengan dibubarkannya kerajaan Turki Otmaniah, yang telah berkuasa di belahan bumi ini selama 700 tahun. Dua tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1925 M, dibawah pimpinan Kemal Attartuk, Turki melarang Pegawai Negeri, anak sekolah, dan mahasiswi memakai jilbab. Padahal busana ini diwajibkan Allah di dalam al Qur-an surat al Ahzab ayat 59. Dengan tegas Republik Turki sejak tahun 1923 M, mendeklarasikan diri sebagai Negara Sekuler dan memisahkan Agama dari Negara.

Sejak itu keberadaan kehidupan beragama di Republik Turki sangat tertekan. Bahkan, Turki juga sempat mengganti seruan adzan yang semula berbahasa Arab ke dalam bahasa Turki. Dalam masa gelap itu, banyak intelijen yang menangkap kaum muslimin jika beradzan dengan bahasa Arab, walau di dalam rumah sendiri. Akhirnya, setelah lebih dari dua dekade berlalu, adzan bahasa Turki dihapuskan dan dikembalikan dalam bahasa Arab seperti sediakala.  

Turki kini secara resmi telah pula mencabut larangan berjilbab di institusi Negara pada hari Selasa tanggal 8 Oktober 2013 yang lalu. Ini merupakan kebijakan pemerintah Recep Tayyip Erdogan, Perdana Menteri Turki yang berasal dari Partai Pembangunan dan Keadilan (AKP). Meski demikian, di Lembaga Kepolisian, Militer, dan Lembaga Peradilan, pelarangan berjilbab masih berlaku. Ada keyakinan pelarangan berjilbab di tiga lembaga inipun kelak satu saat akan dicabut juga.

Pencabutan pelarangan berjilbab pada Instansi Pemerintah di Turki telah melengkapi pencabutan larangan berjilbab di Universitas Negeri maupun Swasta pada tahun 2011 yang lalu. Sayangnya, larangan berjilbab ditingkat Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah sampai saat ini belum dicabut.

Kebijakan pemeritah Erdogan ini disambut antusias oleh kaum muslimin pendukung syariat Islam. Akan tetapi kelompok pendukung sekulerisme saat ini seperti kebakaran jenggot. Kelompok sekuler menuduh Erdogan sedang melakukan upaya Islamisasi di Turki

Catatan:

Memang sudah menjadi sunatullah di mana pun di belahan bumi ini, para pendukung faham sekuler dan anti agama, selalu aja merasa benci dan sangat tertekan bila ajaran agama ditegakkan di sebuah Negara. Mereka tidak akan tinggal diam dan akan terus berupaya dengan berbagai cara untuk memadamkan dan memberangus upaya perbaikan sebuah Negara untuk mengikuti ajaran agama yang mulia. Bahkan tidak jarang  dengan cara yang licik, kasar, dan tidak demokratis.

Wallahu A’lam..

Share this post